12 Juni 2012 telah menciptakan jejak baru dalam hidupku. Sebuah jejak yang tak akan pernah terlupakan olehku. Inilah kali pertama diriku menginjakan kaki di kota hujan "Bogor" sebagai seorang mahasiswa baru Institut Pertanian Bogor.
Langkah pertama dikampus rakyat ini telah membawa kembali diriku ke masa beberapa tahun lalu ketika aku bermimpi untuk bisa menempuh pendidikan di sini. Ya, sebagian orang mungkin memiliki mimpi yang sama dan kini aku telah benar-benar membuatnya menjadi nyata.
Pertanyaannya, mengapa aku begitu bangga menjadi mahasiswa IPB?
Pernahkah kamu memilki keinginan untuk membeli sesuatu yang sulit untuk bisa kamu beli?. Sampai suatu hari kamu merengek pada orang tua-mu untuk membelikan sesuatu yang kamu inginkan itu, walau kamu tahu bahwa itu terlalu berat dan sulit untuk orang tuamu membelikannya.
Hingga suatu hari ayah dan ibumu berkata "dik,bukankah kemarin kau menginginkan ini" dengan penuh ketulusan ayah dan ibumu membawakan sesuatu yang kamu inginkan beberapa hari lalu. Lalu apa yang kamu rasakan. Aku hanya mengira kamu saat itu pasti begitu senang. Lantas hari demi hari berlalu dan kini kamu mulai merasa bahwa sesuatu yang kamu inginkan itu tidak lagi begitu kamu harapkan, kamu mulai membiarkannya dan tak lagi mengingat masa-masa dimana kamu merengek untuk mendapatkan sesuatu itu.
Yang aku rasakan bukan sekedar perasaan senang, tetapi lebih dari itu aku merasa bahagia, sesuatu yang aku inginkan, sesuatu yang harus aku dapatkan dengan kerja keras ini telah membuatku bahagia. Bahagia adalah suatu keadaan dimana setiap kali aku mengingatnya, setiap kali aku membayangkannya telah mampu menggetarkan hatiku, mampu membuat garis lengkung dibibirku, dan mampu membuatku bersemangat untuk terus memperjuangkan hal-hal yang harus aku dapatkan berikutnya.
Kawan menurut kak Alit, kesenangan itu tak sama dengan kebahagiaan.
Intinya, apa yang kamu dapat dengan cara yang instan biasanya hanya akan memberikan dampak kesenangan sementara waktu, sedangkan sesuatu yang kamu dapat dengan perjuangan akan mampu terus memberikanmu kebahagiaan kapanpun dan dimanapun.
Sabtu, 16 Juni 2012
Kamis, 14 Juni 2012
Keajaiban itu Ada Bersama Mereka yang Mau Berusaha.
Apa yang aku rasa saat ini tidak pernah aku
rasakan sebelumnnya.
Dan inilah penantian itu, penantian yang telah
lama aku nantikan, bukan hanya aku, ya bukan hanya aku, tapi kami.
Memang ini bukanlah segalanya,tetapi setidaknya
inilah yang bisa membuat kami semua cukup bangga mendengarnya. Langkah mereka
terlalu cepat, kebahagian mereka terlalu dini, dan apa yang mereka dapat kali
ini sungguh terlalu mudah.
Inilah yang aku takutkan.
Bangga menjadi seseorang yang berjasa, ya itu
boleh, tapi siapkah kamu ketika kejayaan itu tak lagi terulang?
Mental mu perlu dipertanyakan!
Hari ini kita semua merasa bisa berdiri di puncak
tangga tertinggi, dan ini pulalah yang akan menjatuhkan kita ketika kita tak
lagi mengingat masa-masa untuk melangkahkan kaki pada tangga pertama kita. Ya
masa sulit mu, masa sulit kalian!
Jangan terlalu lama berbangga diri tanpa pernah
mau berbenah, ini tantanganmu,tantangan bagi kalian dan ini tentang masa
yang akan datang! Siapkah?
Sejenak, cobalah untuk mengingat ketika pertama
kali kalian bertemu, ketika kalian masih benar-benar bernilai nol, sama rata
tanpa terkecuali!. Nol, ingatlah nol, dan tidak ada yang berhak memberikan
nilai "satu" pada saat itu. (disiplin,rasa tanggung jawab,
kebersamaan, manja, patutukah itu untuk dikenang?) Ya, itulah kalian dulu.
Aku sendiri percaya keajaiban itu ada bersama
mereka yang mau berusaha.
Tapi aku tidak pernah berpikir keajaiban itu akan
datang dengan harga yang berlipat ganda seperti saat ini.
Buktikan nol itu hanya cover dan nilai realnya
akan kalian dapat setelah bekerja keras.
Banggalah dengan apa yang sudah kalian dapat hari
ini, dan ingatlah hari esok akan jauh lebih menantang daripada hari ini! Jangan
pernah takut untuk mengahadapi tantangan!!
Salam bangga!, salam sukses!, salam jaya!, dan
selalu semangat BISA!
::01 Mei 2012
(Pebri & Rema bilang yang terpenting
berikanlah yang terbaik, kita tunjukan inilah kita, inilah kemampuan kita, dan
hasilnya kita terima dengan bangga karena semua ini adalah hasil dari kerja
keras kita :-) )
Menit-menit Penentuan!
Rekan-rekan calon Bantara hari
itu hadir di acara Pertanggungjawaban SKU (Alias pengambilan putusan layak atau
tidak menjadi anggota Bantara) dengan segala peralatan lengkap (tak biasanyah)
aku telah siap untuk hari yang tidak pernah aku tahu akan seperti apa. Ya,
bayangkan saja, ketika orang lain jauh-jauh hari menyelesaikan seluruh point di
SKU, aku masih termenung memikirkan nasib SKU ku yang masih kosong dan jelas
bisa dihitung dengan jari point-point yang telah terisi. Point-point yang
terisipun sebagian kecilnya aku dapat dengan cuma-cuma, toh saat itu aku ikut
Lomba Baris Berbaris, jadi ada keistimewaan untuk sepuluh orang kelas X yang
ikut lomba itu. Cuma-cuma bukan berarti diisi tanpa usaha, tentulah ada usaha,
wong kita seminggu tiap hari latihan, itu kan juga usaha,hehe. Setelah itu tak
pernah lagi aku mengisi SKU, sampai dua tidak tahu tiga hari menjelang hari
pertanggung jawaban, baru aku kelimpungan, bingung!. Walah jadi Bantara gak
yah?, SKU memang tak pernah aku tinggal di rumah, pikirku kasian juga kalau SKU
aku tinggal di rumah, siapa tahu aja ada yang berbaik hati mengisi SKUku ini
dengan gratis.Hehe, ah dengan bangganya SKU selalu terselip di dalam tasku.
Terselip ya, bukan sengaja di simpan.Hehe.
Ah galau banget tuh, untungnya
2010 belum mengenal yang namanya galau yang ada bingung. Pikir-pikir okelah aku
harus jadi Bantara, dua hari berturut-turut aku putuskan untuk mencari
kakak-kakak Bantara dan mengisi SKU ku padanya, hmm aku sama sekali tidak
begitu dekat dengan mereka, namanya saja tidak tahu, paling kalau wajah
pradananya sih tahu, kak Afif dan kak Nurul. Kalau tidak tahu nama itu wajar,
kalau tidak tahu rupa (pradana) masa sih?.
Pencarian ku begitu sulit, aku
berkeliling-keliling melewati ruang-ruang kelas XI waktu itu, tadinya sih mau
di test sama kakak-kakak Prabuwangi. Tapi kalau dipikir-pikir ah ribeut, takut
dikerjain, mending cari kakak-kakak rarasantang saja (sendirian loeh!).
Akhirnya ketemu sama kak Maria panggilannya kak Rere. Waduh waktu itu
benar-benar menderita, tuhan mempertemukan aku dengan kakak yang baik ini tapi
aku bingung memanggil namanya! L. Masa aku harus angkat tangan dan teriak “kak
Lele”, atau “kak Malia, KIKI kelas X-8 ijin mengisi SKU”. Hah, aku harus putar
otak nih.
Untungnya kak Rere begitu baik,
tidak perlu harus mengangkat tangan dan berteriak-teriak, cukup dengan memberi
salam saja. Haduh lega deh, kalau sampai harus memanggil “kak Lele”, gak
kebayang tuh tersinggungnya kak Rere aku panggil begitu belum orang-orang yang
mungkin melihatku lagi!.
Awalnya SKU yang masih
banyak kosongnya ini aku mau isi dan selesaikan hari itu. Tapi berhubung kak
Rere juga tergesa-gesa ya pengisian jadi harus dua hari. Biar begitu aku
berterima kasih banyak pada kak Rere yang telah memudahkan jalanku.
Di hari penentuan itu, ternyata
teman-temanku (Prabuwangi) banyak yang tidak tahu. Alhasil yang tadinya mau
jadi Bantara malah kagak jadi, walau ada pertanggungjawaban susulan tapi karena
ketakutannya berlebihan eh malah kalah sebelum perang.
Ketika draft kesimpulan
dibacakan untuk didengar seluruh peserta pertanggung jawaban(lima orang, lima
orang)dalam ruangan nan-gelap, saya merasa gugup. Orang saya yang baru ketuk
pintu dan harus masuk lebih dulu terus laporan, eh malah kena bentakan. Makin
gugup aja, ah masa bodo yang penting muka gak boleh keliatan tegang “Watados”
aja dan berani menjawab.
Ketika lima prajurit sudah
berdiri dan berjajar rapi menghadap kakak-kakak DA. “Silahkan Duduk!”, spontan
saja kita duduk di kursi yang telah disediakan,eh IRMA calon Bantara
Rarasantang malah duduk kayak upik abu, duduk di teras, padahal kursi sudah
disediakan. Halah, suasana yang begitu mencekam berubah seketika dengan tawa
yang tidak bisa ditahan-tahan lagi. “Heh, ngapain kamu duduk di bawah, gak liat
apa?, matanya kemanain, pakai tuh mata” “Maaf kak”. Suasana kembali tegang
lagi.
“Kiki”. “ya”. Waduh kenapa
namaku yang pertama kali di sebut gumamku dalam hati. SKU aku berikan pada
Kakak-kakak dewan Ambalan yang begitu sangar dalam ruangan itu. Sebenarnya Aku
begitu deg-deg-an karena SKU ku belum benar-benar penuh, ada dua point yang
harus diisi dan hanya boleh diisi oleh kakak-kakak dewan Ambalan, tapi enggan
rasanya untuk mengisi pada kakak-kakak yang keliatan begitu sangar itu.
Ditambah belum dapat tanda tangan Pembina pramuka lah. Waduh mati dah,
Ada banyak pertanyaan waktu itu, tapi satu yang masih aku ingat cukup jelas.
“Kalau kamu mendapat kesempatan
untuk menjadi dewan ambalan, kamu akan memilih apa dan mengapa?”. Jreng. “Kak
afif kiki kelas X-8 ijin menjawab”, males harus teriak kak Nurul, nanti jadi
kak Nulul, padahal yang ngasih pertanyaan kan kak Nurul. Hehe. “Ya”, “Siap,
saya akan memilih Hartaka, karena sudah terbiasa”, waduh dipikir-pikir rancu
banget jawabanku saat itu dan gak nyambung pula.
Ah aku cukup beruntung karena tidak
mendapat hentakan-hentakan seperti yang lain, hanya saja aku kelabakan saat di
suruh membacakan try satya, aku sendiri berulang kali salah meyebutkan kata di
point kedua, mampus push-up menantiku!. Benar saja!, salah satu kena semua,
maaf! Hehe.
Suasana hening sejenak. Pimpinan
putusan yang merupakan Pradana Prabuwangi dan Rarasantang, kak Afif dan kak
Nurul tidak berkata apa-apa. Sekian lama kami menanti sambil berdiri. “Kiki”,
“ya”, “Kamu lulus tanpa syarat, silahkan mundur!” Jleb. Hah, aku hanya bisa
tersenyum dan berucap terimakasih saat itu pada kakak-kakak yang berada di
hadapanku.
Kami lima orang prajurit yang
menanti sebuah keputusan masih harus terus bergelut dengan perasaan cemas, akan
hasil yang akan kami dengar, kini aku sudah tenang, sedang empat prajurit
lainnya masih harus menunggu putusan, sungguh menit-menit yang menegangkan.
Ketika semua sudah mendengar putusan, sayang tidak semua lulus tanpa syarat,
beberapa dari kita lulus bersyarat, yang berarti masih memiliki hutang pada
Ambalan. Jelas raut ekspresi wajah berubah, ada yang bahagia ada juga yang
kecewa. Kami harus berusaha tegar selama dalam ruangan ini, karena kami tahu,
pertanggungjawaban ini lebih mengarah kepada kesiapan mental. Mereka yang
bermental kuat akan mendapat hasil yang memuaskan, sedangkan mereka yang
menunjukan mental kecemasan dan tidak percaya pada diri mereka sendiri akan
mendapat hasil yang kurang memuaskan. Bukan persoalan penuh atau tidak penuh
SKU, SKU tidak penuh masih bisa menjadi pertimbangan, sedang mental yang belum
siap tentu akan begitu banyak pertimbangan-pertimbangan.
Menjelang maghrib kegiatan
pertanggung jawaban masih berjalan, diluar ruangan mereka menanti giliran untuk
mendengar putusan,huh, ketika satu persatu keluar dari ruangan beragam ekspresi
bermunculan, ada yang tersenyum kecil, cemberut, menangis, marah, kesal,
tertawa, haru, lemas, lelah, berteriak-teriak semuanya ada, hasil yang
mereka dapatkan berbeda-beda ada yang dengan begitu mudah, ada juga yang
dipersulit, ada yang berkeringat ada juga yang tidak, ada yang merasa lelah dan
kesakitan, ada juga yang senang dan berbahagia, tapi itu menjadi kenangan
terindah bagi aku dan 62 orang rekan-rekanku dalam proses perjalanan menjadi
seorang BANTARA angkatan XXIV Ambalan Prabuwangi dan Rarasantang.
Dulu terlalu sering aku mengeluh
dengan kegiatan-kegiatan yang tidak mengasikan, kegiatan-kegiatan yang terlihat
lebay, kegiatan-kegiatan yang dirasa tidak ada gunanya. Tapi semua itu salah,
tidak ada satupun kegiatan yang telah kakak-kakak rencanakan yang tidak
bermanfaat bagi diriku kini, dan telah menjadikanku seperti ini.
Terimakasih kakak-kakaku.
Terimakasih untuk semua kegiatan yang tidak terasa sungguh kini menjadi
kenangan yang tidak terlupakan.
Buniseuri, 25 Maret 2012
Kamar biru tercinta
Kiki Rizqi Januar
:: Terimakasih derasnya hujan
dan dinginnya angin telah membawaku ke masa dua tahun silam, dan mengingatkanku
akan banyak hal yang tak mungkin aku lupakan.
:: Salam Semangat 63 Prajurit
angkatan XXIV
Renungan Malam (Manis dan Pahit siapa yang tahu?)
Ketika
sebuah harapan akan cita yang mulia mulai menemui titik ketidakpastian
menjadikan kita seperti kapas yang mudah diterbangkan oleh sedikit ayunan angin
yang mendekat secara lembut. Kembali membuka hati dan pikiran mencoba
meyakinkan diri "Kita Bisa, Pasti Bisa, dan Harus Bisa" menjadi
penyemangat terbesar untuk tetap yakin akan harapan yang telah begtu jauh kita
simpan dalam hati dan pikiran. Ketika kita berkhayal bahwa hal itu terjadi
sungguh raga ini tak dapat berbohong, bibir kita merekah tersenyum indah, wajah
kita berseri bak mentari di pagi hari, hati ini berkobar seperti cinta tuhan
benar-benar jatuh pada kita, gerak kita menjadi begitu gagah seakan-akan kita
percaya diri dan bangga pada diri sendiri. Dan pikiran kita selalu berucap
"Ya,Aku Diterima Menjadi Mahasiswa UPI,UNPAD,UGM,ITB,IPB,UI,UNSOED,UNDIP,UNY
dan universitas-universitas negeri terbaik lainnya". Semua keindahan itu
hanya terjadi dalam beberapa menit saja, akan tetapi seolah-olah kita merasa
perasaan itu benar-nyata. Saat kita sendiri dan melihat begitu banyaknya
peminat mahasiswa baru untuk bisa masuk PTN, seolah mimpi indah kita
tergeser oleh badai khayalan yang membuat kita mundur memikirkan kebahagian dan
hal-hal yang akan dilakukan. Ya, Ketika pikiran hal terpahit itu semakin
merasuk, akan nampak gambaran mereka yang begitu dekat dengan kita, begitu
menaruh harapan akan kita, menginginkan kita mendapat tempat pendidikan
terbaik, dan menginginkan kita menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari
mereka. Tetes air mata tak dapat kutahan dalam hal ini, mungkin tak hanya aku,
tapi kita semua,kita kan merunduk dan meneteskan air mata penyesalan. Ya,
mereka yang sedari dulu mendidik dan membesarkan kita "AYAH &
IBU" menaruh harapan besar agar kita bisa menjadi pribadi yang jauh lebih
dari mereka. Tak peduli seberapa mahal biaya pendidikan tak peduli seberapa
sulit kemungkinan mereka untuk membiayai kita, mereka tetap berharap kita bisa
berada di tempat yang dapat memberikan sinar terang masa depan demi kebahagian
kita bukan demi mereka. Kita tak pernah tahu seberapa sering orang tua, adiik
atau kakak kita mendoakan kita, agar apa yang kita harapkan akan menjadi
kenyataan. Dalam diri seorang ayah yang keras, tersimpan kelembutan sikap,
dalam tetes air mata seorang ibu terkumpul jutaan doa akan anakknya dan mereka
selalu berucap "ya rabb, jadikan anakku menjadi anak yg
sholeh/a,lindungilah dia dalam pergaulannya, bukakan pintu rezekinya dan
mudahkan langkahnya tuk menggapai cita, biarlah hamba merasakan perihnya
kehidupan dunia ini, tapi jangan biarkan anak hamba-Mu ini merasakan apa yang
hamba rasakan". Mungkin mereka tak sempat mengatakan hal demikian secara
langsung kepada kita, sesungguhnya itulah harap seorana AYAH dan IBU yang
menginginkan kita untuk berhasil dalam segala hal, mereka tak mengutarakan hal
demikan karena mereka benar-benar mencitai kita, cinta tak bisa disusun melalui
sususan kata yang indah yang membentuk paragraf karena cinta lebih dari itu,
cinta adalah harap dan doa yang terpancar dari sikap yang mampu memberikan
kenyamanan bagi kita,cinta sulit diucap tapi mudah untuk dirasa.
Kembalilah
berdiri dan segera berwudhulah dan mari kita semua bersujud menghadap sang
Pemilik Hidup untuk memohon belas kasih-Nya untuk mengampuni segala khilaf yang
pernah kita lakukan,dan mari ceritakan semua keluh kesah dan harapan kita
kepada Dia yang Maha Mengetahui agar kita diberi kumudahan dan kekuatan untuk
segala ujian yang Dia berikan. Tetaplah berusaha untuk berhusnudzon kepada-Nya.
Ya Allah Ya Tuhanku, Engkau Maha Tahu apa yang ada dalam pikiranku. Kaulah yang
telah menuliskan garis takdirku, hanya saja hamba yang sedang berada dalam
kegalauan ini memohon pada-Mu agar Engkau memberikanku kesempatan untukku
meneguk pendidikan di PTN yang hamba inginkan, semoga dengan diterimanya hamba
di PTN akan sedikit memberikan kebahagian bagi keluargaku tersayang.
#07 Maret 2012 pukul 01.58 WIB
Selasa, 05 Juni 2012
Nikmati Apa yang Sedang Terjadi dan Pelajari
Malam
ini aku tergerak untuk membuat sebuah catatan perjalanan hidup
yang kata orang dewasa bilang “Baru seumur jagung” aku lalui. Belum ada apa-apa
nya, belum benar-benar merasakan pahit manis nya dunia. Yah, biarlah orang
berkata apa, dari pada harus menunggu sampai tua baru aku tulis cerita atau
daripada harus menanti kematian datang dan barulah catatan-catatan kecil
kehidupanku terbongkar. Tak akan ada yang membaca, tak akan ada yang
memperdulikan, lebih baik saat ini aku berbagi, siapa tahu bisa member
inspirasi.
Ada banyak “Note” yang aku
simpan, dan kebanyakan tak ingin aku publikasikan. Memang ini hanyalah
catatan-catatan kecil yang tidak juga begitu penting. Ini hanya catatan
pengalamanku yang jelas tak akan sama dengan orang lain. Tak ada niatan
mendapat pujian atau apa, sekali lagi hanya sekedar ingin berbagi. Semoga bisa
memberi “Motivasi”.
Aku bukanlah psikolog yang mampu
memahami pikiran dan perasaan seseorang, aku hanya seorang pelajar yang sedang
belajar untuk memahami orang-orang yang ingin dipahami. Berbagi adalah
keharusan bagiku, berbagi adalah tuntutan. Ya, dengan berbagi ada rasa yang tak
bisa diungkap dengan kata-kata, rasa yang hanya bisa dirasakan oleh diri
sendiri. Aku mungkin tak pandai dalam banyak hal, tapi setidaknya ada
yang ingin aku beri untuk orang lain, dan semoga pemberianku ini (bukan materi)
diberi ganjaran berupa pahala dari janji-janji Tuhan akan umatnya yang mau
berbagi.
Sebelumnya ku terbitkan beberapa
catatanku melalui facebook, dan mungkin baru tiga hari ini aku menulis catatan
yang intinya “Perjalanan Pengalamanku dalam Berorganisasi”. Niat awalnya hanya
sekedar mengingat kembali masa-masa indah yang aku lalui bersama rekan-rekanku,
eh taunya banyak juga orang yang menyukai catatanku. Dan beberapa memberi
penilaian bahwa catatanku memberikan mereka inspirasi dan motivasi.
“Ispiratif”?, “Memotivasi”? dari segi mana nya ya?. Tapi sungguh ku ucap banyak
terimakasih jika itu benar adanya. Ya aku bukan seorang motivator hebat yang
bisa merubah seseorang dengan sekejap merubah perilaku dan pemikirannya, sekali
lagi bukan!. Aku hanya seorang pelajar yang ingin berbagi pengalaman. Tanpa
bermaksud untuk menggurui siapapun, sekali lagi siapapun!!.
Ok, kita mulai saja ceritanya,
sudah kepanjangan di awal ya?.. hehe
Kembali kepada catatan
sebelumnya “Berawal dari kebetulan atau karena keberuntungan?”. Aku tidak
pernah memikirkan hal ini, atau berpikir hal ini, atau berkata hal ini, bahkan
memikirkan hal ini pun enggan sama sekali. “Menjadi seorang PRADANA”, kata
PRADANA begitu mengerikan dalam pikiranku sebelumnya. Kalau harus jujur, yang
ada juga jika aku diberi kesempatan untuk menjadi Dewan Ambalan atau yang
dikenal dengan singkatan “DA”. Aku dengan bangga memilih HARTAKA, pikirku
menjadi HARTAKA tak akan memiliki banyak tanggung jawab, dan hanya akan
bergelut dengan uang, uang , dan uang, ya siapa sih yang gak tahu uang?. Mungkin
saking terbiasanya mengatur uang, dari uang Bulanan, uang Kas Kelas (kebetulan
dulu jadi bendahara), uang pembayaran, uang berbagai kegiatan (Bendahara Mata
Cakap, dan sempat terpilih menjadi Bendahara L2M juga) dan lain-lainnya lah
yang membuatku yakin akan bisa memegang amanah menjadi HARTAKA. PRADANA terlalu
menakutkan untukku dan hanya orang-orang dengan mental kuatlah yang akan
menduduki jabatan itu gumamku dalam pikiran saat masih sebagai anggota BANTARA.
Ah, tapi Tuhan memiliki rencana lain, dan tidak mengijinkanku untuk menjadi
seorang hartaka, alhasil tuhan menganugerahiku sebuah tantangan yang
benar-benar aku takutkan. Tantangan yang lebih besar dari pada sekedar menjadi
HARTAKA. Apa itu?
Aku tidak pernah berpikir kalau
untuk menembus atau menduduki sebuah jabatan di Dewan Ambalan itu sangat penuh
dengan berbagai pertimbangan. Serius tidak pernah aku berpikir sejauh itu. Aku
kira asal ada “kemaunan” itu sudah lebih dari cukup untuk bisa mendapatkan
salah satu jabatan di Dewan Ambalan.
Ah ternyata kini aku tahu semua
itu tak mudah, semua itu begitu sulit, satu keputusan salah saja akan berakibat
patal dalam perkembangan Ambalan.
Ya, aku tidak menutupi bahwa ada
banyak orang yang lebih hebat dariku, ada banyak orang yang lebih kreatif
dariku, ada banyak orang yang kemampuannya luar biasa, aku pun belum tentu
bisa, ada banyak orang yang lebih rajin dari diriku.
Bayangkan, bayangkan saja!,
bayangkan bagaimana bisa seseorang sepertiku memikul jabatan yang tak pantas
untuk aku pikul. Coba bacalah ceritaku ini, baca!
Aku yang dulu (kelas X) dalam
rapotku pernah mendapat nilai Pramuka B tidak tahu C bisa menjadi seorang yang
diberi tanggung jawab yang amat teramat besar. Ya, memang kenakalanku sama
seperti adek-adek kelas sekarang, dulu suka bolos dari pramuka, kabur dari
latihan wajib, kalau latihanpun jarang memakai peralatan lengkap, persami dan
lain-lainya mengumpulkan barang-barang seadanya, ya kalau ada aku bawa, kalau
tidak ada ya biarlah mending dapat push up dah, dan biasanya hal-hal yang berbau
persyaratkan aku selalu titip pesan pada teman untuk dibuatkan, hehe,
“apa-apaan sih Bantara” pikirku dulu.. haha, duh malunya jika mengingat-ngingat
hal itu sekarang.
Ada banyak hal yang menjadi
pertimbangan seseorang direkomendasikan menjadi seorang “calon” pemegang
jabatan di Ambalan. Pertama seorang calon pemimpin harus bisa memimpin dirinya
sendiri, kemana dia ingin melangkah pasti dia akan melangkahkan kakinya, kedua
terbiasa berbicara dengan santun kepada kakak-kakak kelas, guru-guru, maupun
kepada rekan-rekannya, ketiga mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru ia
masuki, keempat simple, supple, kritis, tidak banyak bicara tapi banyak beraksi
dengan tindakan-tindakan nyata, bisa diterima oleh rekan-rekan seangkatannya,
memiliki semangat untuk berkarya, tidak terbiasa dengan hal-hal yang
melanggar etika (dalam artian tertentu “Mabuk”, “Rokok” dll), bertanggung jawab
akan amanah yang dititipkan kepadanya, selalu siap di tempatkan di posisi
manapun (dalam artian menerima duduk sebagai seksi apapun dalam satu acara),
tidak banyak mengeluh, kreatif, berani membuat gebrakan, berwibawa, mampu
menjaga kestabilan nilai akademik, tegas, dan rela mengorbankan banyak waktunya
untuk kepentingan ambalan inilah salah satu yang terpenting dari yang penting.
Ah apa sih yang aku punya?
Entahlah. Aku hanya merasa pertimbangan terakhirlah yang aku miliki, tapi itu
dalam artian yang berbeda, aku memang tidak menyukai hari-hariku
dihabiskan hanya dengan belajar dan berdiam diri di dalam rumah. Aku lebih
senang melakukan aktivitas, apapun itu, asal ada kegiatan,ok ayo aku ikut.
Sedang pertimbangan yang lainnya mungkin nilaiku biasa-biasa saja, bahkan
teramat relatif untuk diberi nilai.
Kini aku benar-benar menyadari
bahwa bertindak itu lebih efektif untuk meyakinkan seseorang daripada hanya
sekedar berjanji atau banyak berucap tanpa ada realisasi.
Kini akupun terbiasa untuk
membuka diri, walau kadang ketika kata-kata yang menyakitkan keluar dari mulut
seseorang membuatku merasa benar-benar jatuh. Ya, kalau dipikir secara real,
itu hanya sekedar kata-kata untuk apa dipikirkan terlalu lama, masih banyak
persoalan yang harus di hadapi di depan. Dari sinilah aku belajar dan mengerti
bahwa kita memang harus mendengar, kita memang harus mengartikan ucapan dari
seseorang, tapi tidak semua ucapan harus kita jadikan beban, biarkanlah orang
menilai B dan C, tapi yang tahu dan merasakan betapa susahnya menjalankan suatu
program adalah diri kita sendiri, orang hanya menginginkan kita lebih dari apa
yang mereka inginkan tanpa ingin tahu bagaimana kita berusaha keras untuk bisa
menggapai suatu program, mereka hanya inginkan sesuatu yang instan. Ya
“isntan”, sekali lagi, memang betapa relatifnya kepuasan.
Aku mulai terbiasa mendengar
caci maki orang-orang. Dulu itu menyakitkan, tapi kini aku sangat merindukan
hal demikian. Karena dengan itu aku belajar bagaimana memotivasi diri untuk
bisa bangkit dan menunjukan bukan malah jatuh dan membiarkan mereka
menertawakan. Betapa relatifnya pemikiran seseorang.
Aku mulai terbiasa berbicara di
depan banyak orang, dulu itu begitu sulit aku lakukan, untuk berbicara di depan
kelas saja, setengah mati rasanya menahan rasa grogi, tapi kini tidak! Aku
malah menanti tantangan yang lebih besar dari yang sekarang, berharap suatu
hari akan menjadi kenyataan. Ya, betapa relatifnya ketakutan.
Aku mulai berani menentang
hal-hal yang tidak sesuai dengan tujuan. Dulu aku hanya ikut angguk-angguk saja
dan berkata “ya, aku setuju”. Tapi kini “Ya” untuk tujuan yang benar-benar
pantas mendapat pernyataan “Ya”, dan “tidak” untuk sesuatu yang memang harus
dijawab “tidak”.
Aku merindukan adek-adek yang
bersitegang dengan dirinya sendiri. Dulu aku begitu takut bagaimana caraku
mengahadapi adek-adek yang sedang di sulut emosi, tapi sekarang aku malah
merindukan hal-hal demikian, karena dari itu aku belajar bahwa seseorang tidak
hanya ingin mendapat bentakan, tapi lebih dari itu mereka ingin mendapat
perhatian dan rasa kasih sayang dari seorang kakak terhadap adeknya.
Dulu aku begitu canggung untuk
berbincang dengan kakak-kakak demisioner, tapi kini aku punya banyak
pengetahuan dan kenalan.
Ya, banyak hal yang tidak
diduga, karena rencana Tuhan adalah misteri, misteri yang akan kita ketahui
kelak ketika kita telah berani untuk mengambil sebuah keputusan ataupun
mengambil sebuah tindakan. Tanpa tindakan kita hanya akan mendapat penyesalan,
tanpa pemikiran kita hanya akan mendapatkan rasa malu, tanpa rasa malu kita
hanya akan menjadi seorang yang terlalu berani tapi tidak tahu diri.
Mulailah bersikap tegas dalam
hal apapun, karena tegas akan membawamu pada kebaikan-kebaikan, dan
mulailah membuka mata, hati, telinga, dan pikiran kalian untuk senantiasa
melihat, merasakan, mendengar, dan memikirkan penyesalan jika hari ini tidak
mengambil suatu tindakan bijak untuk bergabung atau tidak dalam suatu kegiatan
yang akan merubah cara pandangmu melihat kehidupan.
Ya, ini memang sekedar catatan,
tidak tahu apa yang dibicarakan, dan tidak begitu jelas maksud dan tujuannya,
sekali lagi hanya sekedar catatan pribadi yang aku bagi untuk saling memberi.
Catatan seorang pelajar yang mengenal dan mengetahui banyak hal dari organisasi
yang ia geluti. Ya, catatan seorang pelajar yang tidak memiliki keistimewaan,
hanya seorang pelajar!!
Senin, 04 Juni 2012
Berawal dari kebetulan atau karena keberuntungan?
Bermula
dari satu tahun lebih empat bulan yang lalu, cerita perjalanan yang begitu
mengesankan baru saja aku mulai, ya sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan
sebelumnya. Satu tahun masa bakti terasa lama saat dijalani, akan tetapi terasa
cepat ketika kini menjadi demisioner Ambalan.
Selama
satu tahun masa bakti kemaren, aku melakukan banyak perjalanan tapi masih
sedikit yang bisa ku jangkau : Ciamis, Banjar, Banjarsari, Kalipucang,
Pangandaran, Cijulang, Kawali, Panjalu, Panumbangan, Panawangan Cirebon,
Kuningan, Garut, Bandung, dan masih banyak lagi.
Kabupaten
Ciamis, dirasa kecil ketika melihatnya dalam peta, akan tetapi terasa luas
ketika harus benar-benar mencoba menelusuri sampai ke daerah-daerah
pelosoknya.Daerah yang sama sekali tidak terbayang dalam pikiranku, daerah yang
begitu terpencil, begitu terisolir. Hmm, mungkin ini adalah jalan Tuhan, mengingatkanku
akan nikmat Nya yang harus terus aku syukuri.
Perjalananku
bukan semata-mata karena menghadiri acara-acara kepramukaan resmi atau
sejenisnya, tapi lebih kepada pencarian jati diri akan rasa penasaranku untuk
menelusuri daerah-daerah yang belum pernah aku kunjungi.
Ya,
bukan tanpa alasan aku berani bepergian sebegitu jauhnya. Berbekal strip tiga
aku mulai membangun relasi pertemanan antar strip tiga maupun sekedar anggota.
Saat itu aku benar-benar tidak berpikir strip tiga memiliki andil penting dalam
suatu pergaulan. Hmm, rasanya bersyukur sekali merasakan “experience” yang “not
everyone can feel”. Banyak hal aku dapat dari pramuka, sungguh jika disekolah
menjadi Pradana atau menjadi Dewan Ambalan itu terasa biasa saja, akan tetapi
ketika kita terjun ke luar dari Ambalan sendiri dan berkunjung ke Ambalan lain,
rasanya jadi berbeda, ada satu pembeda, seolah-olah kita benar-benar di
istimewakan, dimanapun itu tanpa pengecualian.
Satu
pengalaman ketika aku tak memakai Pakaian Dinas Harian, berkunjung ke suatu
kegiatan kepramukaan, tak ada yang menyapa sama sekali, bahkan bicarapun
seperlunya saja, dan suasananya menjadi berbeda ketika identitasku mulai
diketahui si lawan bicara ku tadi, seolah-olah begitu dekat pertemanan kita,
dan seolah-olah sudah lama kenal, ada banyak hal yang mereka tanyakan, ada
banyak hal yang ingin mereka ketahui dari kita, dan akhirnya ada banyak hal
yang ingin didengar oleh mereka, pada dasarnya semua Ambalan sama, sama-sama
ingin mengetahui sejauhmana sih kehebatan atau kelebihan dari Ambalan orang
lain, yang akhirnya jika itu baik dan sangat interesting mereka akan mencoba
menerapkannya di Ambalan mereka dan jika itu sama sekali tidak menarik dan
terlihat biasa saja, jelas mereka akan bangga dengan Ambalan mereka, karena mereka
merasa lebih tinggi satu tingkat dari kita. Begitulah kiranya pebincangan yang
terjadi ketika baru saja saling mengenal, dan kesananya perbincangan kita lebih
ke personal tidak melulu membahas pramuka, inilah yang disebut dengan jalinan
kekeluargaan yang berawal dari suatu jabatan dan kemudian terikat oleh kata
pertemanan.
Ternyata
jika harus membandingkan kualitas kepramukaan di kita dengan Ambalan di
daerah-daerah pelosok, begitu jauhnya kita tertinggal, dan sangat-sangat jauh
dilihat dari kualitas pengusaan materi dan ketaatan mereka akan Adat Ambalan,
akan tetapi jika dilihat dari kreativitas pengajaran kepramukan, adat khas
Ambalan dan kegiatan kepramukan, sekarang menjadi berbanding terbalik, kita
menang dan mereka sangat tertinggal, hmm, itulah yang mereka ingin pelajari
dari kita suatu kreativitas tanpa batas yang bagi mereka itu semua adalah
keistimewaan yang tidak dimiliki semua ambalan.Betapa bangganya aku dan
rekan-rekanku.
Akan
ada banyak kejenuhan jika kita tidak memberikan sentuhan inovasi-inovasi baru
dalam setiap tahun perkembangan kepramukaan di Ambalan.
Memang
teorinya demikian. Karena Ambalan memberikan pelayanan kurang dari yang anggota
inginkan maka munculah ketidakpuasan. Ketidakpuasan ini meningkat menjadi
ketidakpercayaan anggota karena batas antara keinginan dan kenyataan terlalu
jauh dari yang diharapkan. Ketidakpercayaan pada dasarnya adalah akumulasi
ketidakpuasan yang luar biasa panjangnya dalam tempo yang lama ataupun
sebentar.
Begitu
panjangnya akibat ketidakpuasan anggota itu. Begitu serius ternyata dampak
sebuah ketidakpuasan itu. Begitu fatal ternyata akibatnya. Isu pilih kasih,
ketidakadilan penilaian, salah pemilihan orang, salah memberikan kepercayaan
dan seterusnya itu mungkin tidak akan melanda Ambalan sehebat sekarang
mana kala Ambalan berhasil memuaskan anggotanaya.
Lalu
…..
Apakah
dengan demikian Ambalan perlu memberikan pelayanan yang berlebihan sampai jauh
diatas yang diinginkan anggota?
Kalau
bisa, yes! Tapi tunggu dulu. Perlu dilihat dulu kondisi intern Dewan Ambalan :
apakah sudah punya kemampuan untuk memberikan yang jauh di atas yang diinginkan
anggota itu, atau di intern nya saja sudah bobrok, terlalu banyak perpecahan,
jika itu terjadi segera perbaiki dulu, segera benahi sampai semuanya memiliki
tujuan yang sama “Memajukan dan memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan
untuk ambalan”. Logika awamnya: kalau untuk sekedar memenuhi keinginan saja
belum bisa, apakah anggota percaya kalau Ambalan menjanjikan sesuatu yang
melebihi keinginan?
Maka
….
Kembali
lagi luruskan niat dan satukan tujuan, ingat kita membawa Ambalan atas dasar
rasa tanggung jawab dan kepercayaan, dan jika dirasa banyak sekali cobaan yang
mendera segera ingat bahwa kita menjalankan segala kegiatan ini semata-mata
karena ingin mencari pengalaman untuk membentuk karakter dan jati diri dan yang
terpenting karena niat untuk mencari ridho Tuhan.
Terus!...
Jika
niatan kita baik insyaAllah apapun yang terjadi akan terasa nikmat diakhir
ceritanya. Hmm, sedikit banyak aku bercerita disini, semata-mata hanya ingin
berbagi pengalaman (Masa Depanmu adalah Masa Laluku said seorang Demisioner
senior), bahwa tidak akan semua orang bisa merasakan hal yang sama dengan yang
aku rasakan tapi kalian akan merasakan yang lebih dari yang aku rasakan
manakala dari sekarang kalian membuka diri dan hati kalian agar senantiasa mau
menjalin pertemanan dengan siapapun dan apapun status jabatannya, InsyaAllah
kemanapun kalian bepergian akan ada yang memberi tumpangan (makan, tempat
tinggal, di ajak jalan”, dll).. haha, ngarep.com
Yang
terpenting lagi tidak semua orang bisa merasakan duduk berhadapan dengan
orang-orang hebat seperti Ketua DPR, Wakil Ketua DPR, Bupati, Wakil Bupati,
Sekda, Kepala-kepala Instansi, Kepala Sekolah dan jajaran-jajaran penting
lainnya yang menjadi impian semua orang akan karier masa depannya. Dan hanya
orang-orang hebat dan beranilah yang akan merasakan sensasi yang berbeda itu.
Mulailah berbenah diri dan pantaskanlah diri kalian untuk mendapatkan hal yang
pantas, karena kesempatan masih terbuka lebar di depan kalian, beranikan diri
dan mulailah beraksi.
Aku Bisa!, Kamu Bisa!, Kita Bisa! dan KITA SEMUA BISA! PASTI
BISA! dan HARUS BISA!...
Ciamis,
22 Maret 2012
Di
ruang kelas Ganesha Operation
Kiki
Rizqi Januar
::
Maaf bukan maksud menggurui karena aku juga masih berbenah diri.. Hanya sekedar
catatan kecil yang semoga memberi inspirasi. :-)
Minggu, 03 Juni 2012
Tangis dan Ribuan Tawa
Minggu
lalu genap enam bulan saya menjadi PRADANA ambalan Prabuwangi (Waktu setahun
lalu). Ada yang bilang "baru" enam bulan. Ada yang bilang
"sudah" enam bulan.Betapa relatifnya waktu.
Selama
enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang sudah
berjanji kepada diri sendiri: Selama menjadi seorang Pradana, saya tidak akan
mengurus apa pun kecuali Ambalan (Pengecualian pendidikan akademik tetap di
seimbangkan dan di nomer satukan).
Tidak
akan pergi ke mana pun kecuali urusan Ambalan. Tidak akan bicara apa pun
kecuali soal pramuka dan Ambalan. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan
saya bisa dua-tiga kali ikut menonton futsal temen-temanku, ya sekedar nonton
tidak ikut bermain,hehe, selama enam bulan di Ambalan ini, saya tidak ke
mana-mana.
Untuk
itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus berbagai
organisasi yang saya ikuti sebelumnya. Selama enam bulan tersebut, saya tidak
bisa sering-sering menghadiri acara keluarga, dan pesta ulang tahun teman-teman
dekat. Apalagi rapat-rapat organisasi.
Saya
memang masih tercatat sebagai bendahara 1 di Ikatan Remaja Masjid Nurul Ihsan
(IRMA), Koordinator Satuan Lalu Lintas Patroli Keamanan Sekolah (PKS) tapi saya
serasa jadi anggota, hehe, PASKIBRA satuan SMAN 2 Ciamis, anggota Pasukan
Pengawal 0907 (PASWAL), dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, banyak sekali
rapat yang tidak bisa saya hadiri.
Menjelang
enam bulan di Ambalan, berat badan saya tidak pernah naik! Oh, rupanya saya
terlalu banyak bergerak. Dari kelas ke rupram. Dan dari rupram ke rumah atau ke
berbagai tempat yang erat kaitannya dengan pramuka. Siang dan malam. Itu tentu
tidak baik.
Hmm,
rasanya badan ini semakin tampak kurus saja, seperti tulang tak berbalut
daging,ini jelas tidak baik, dan harus segera diperbaiki, ketika sedang
berpikir bagaimana menggemukan badan saya ini, saya teringat buku cara
penggemukan sapi potong, ah pikirku dalam senyum kecil, masa saya disamakan
dengan sapi potong. Akhirnya lebih berpikir realistis, dan kupuskan membeli
susu sapi saja, eh ternyata susu murni susah sekali di dapat, ya geser lagi
deh, saya beli saja susu L-Men yang kaya akan protein. Gaya nyah selangit,
harganyapun walah gak,gak,gak kuat. Tak apalah berkorban demi badan yang makin
begang.
Hasilnya:
selama satu bulan itu, berat badan sudah naik 1 kg. Masih punya utang 7 kg
lagi. Mula-mula, berjalan lancar selama beberapa bulan, lama-lama kagak nahan
sama harga susunya itu loeh, hhmm Betapa relatifnya harga.
Enak
juga sudah di ruang pramuka. Kini, menjadi pemandangan biasa pada pukul 14.30
sudah banyak orang di sekitaran ruang pramuka, ya mereka adalah anggota pramuka
yang ingin berbagi cerita. Demikian juga beberapa Dewan Ambalan dan rekan-rekan
yang sudah siap untuk mendengar keluh kesah adek-adek kelas anggota pramuka.
Selama
enam bulan itu, saya lebih dari dua kali menangis. Beberapa kali di ruang
pramuka, sekali di pelataran masjid, sekali di Aula bawah, sekali di dekat
ruang wakasek, tepatnya ketika tekanan dirasa begitu berat, sekali di hadapan
adek-adek di kelas X-4, tepatnya ketika saya benar-benar marah tanpa ampun,
cerita lucunya saya marah di seluruh ruang kelas X, haha. Kadang memang begitu
sulit mencari jalan cepat untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu
sulit untuk dipecahkan.
Tapi,
tidak berarti hari-hari saya di Ambalan adalah hari-hari yang sedih. Ribuan
kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat pramuka dan pelataran masjid menjadi
tempat hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari
para pramuka. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan jenakanya.
Di
mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal
Ambalan SMAN 2 Ciamis. Orang-orang di ambalan itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu
semua persoalan yang dihadapi Ambalan dan bahkan tahu juga bagaimana cara
menyelesaikannya.
Yang
tidak ada pada mereka adalah muara.haha
Begitu
banyak Ide yang mengalir, tapi sedikit yang bisa mencapai muara. Kalau toh ada,
muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan kandas. Kini, di ruang
pramuka tersebut, semua ide bisa mulai bermuara.
Bahkan,
meminjam iklannya minyak goreng sanco, bisa diminum, mengalir sampai jauh.
Memang,
ruang rapat (rupram) sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang Ambalan itu
setiap hari terlalu sering bersitegang masalah pelajaran, tugas harian,
ulangan, bahkan persoalan personal. Jangan pula harus tegang diruang rapat.
Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide, berbagi makanan, dan
saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat Pramuka bukan lagi sebuah
tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang menyenangkan.
Sebuah
tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya. Betapa Relatifnya
Tempat.
Sedih,
senang, tertawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik jiwa
sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau dibuat sedih
atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa. Betapa
Relatifnya Jiwa.
Rasanya,
selama enam bulan di Ambalan, saya juga jarang duduk di "kursi"
Pradana. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Sejak sebelum di Ambalan.
Setengah liar. Sebab, sebelum di Ambalan, saya hampir tidak pernah membaca
surat masuk, surat undangan kunjungan, surat undangan ulang tahun ambalan lain,
surat pemberitahuan perlombaan, surat undangan rapat Pradana se-Kwaran,
undangan permohonan pengiriman pasukan ke berbagai Saka dan lain-lain, sama
sekali belum pernah, yang pernah paling membaca surat cinta. haha.
Kini,
sebagai Pradana Prabuwangi, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima
surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk kali
pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar pembagian tugas..
Apa
yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan? Harapan?
Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi - sekadar untuk menunjukkan
bahwa saya atasan mereka?
Akhirnya,
saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang sangat jarang
saja. "Mengapa" saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya saya
yang "tahu" persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi
seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat?
Mengapa saya harus memberikan petunjuk seolah-olah saya itu "pabrik
petunjuk"?
Maka,
jangan heran kalau mayoritas lembar tugas tersebut tidak ada tulisannya. Paling
hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca surat itu
(Krani)hehe. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa
yang terbaik yang harus dilakukan.
Bukankah
Dewan Ambalan itu umumnya saringan terbaik dari puluhan anggota pramuka
(se-angkatannya) terbaik di ambalan ini ? Bukankah anggota Pramuka itu,
master-master akademik dan non akademik? Dan ada lebih dari setengah jumlah
anggota pramuka, merupakan orang-orang paling hebat se-angkatannya? Bukankah
mereka sudah sangat berpengalaman - melebihi saya?
Maka,
saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada mereka.
Inilah
sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering diberi arahan
akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi besi.
Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan. Orang yang
terlalu sering diberi "pidato" kelak hanya bisa "minta
petunjuk".
Saya
harus sadar bahwa mayoritas anggota pramuka adalah hasil seleksi dan didikan
terbaik dari ratusan siswa se-angkatannya. Mereka sudah memiliki semuanya:
kecuali kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan
kepada mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan, rasa
tanggung jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang tidak seperti itu, hanyalah
pengecualian.
Semua
itu saya lakukan di lantai rapat ambalan. Bukan di meja kerja Pradana. Karena
itu, saya juga tidak pernah memanggil si A sendirian, Kalau saya lakukan itu,
perasaan saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja sebenarnya.(Kecuali di
luar ruang Pramuka)
Saya
tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak tersebut. Mungkin karena dulu
terlalu sering melihat Senior di ruang pramuka dengan adegan seperti itu. Saya
takut merasa menjadi terlalu berkuasa di ruang ini. Dan menjadikan ruangan ini
terlalu sakral dan begitu menakutkan.
Kedudukan
tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun belum tentu bisa
menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa duduk semestinya. Betapa
Relatifnya Sebuah Kekuasaan.
Lalu,
apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini? Ada yang bilang sudah sangat
banyak: menjalankan PERSAMI dengan baik, menyelesaikan administrasi terkendala
yang sudah begitu lama, menjalankan latihan wajib sampai persami dengan
baik,menyelasikan pertanggung jawaban, menyelesaikan pengambilan kaos dan
syal ambalan, melaksanakan pelantikan anggota, perekrutan anggota yang naik
beberapa persen,mengikuti lomba-lomba, dan memberikan empat piala untuk
sekolah, dan banyak lagi, dan kini sudah bisa mengucapkan selamat tinggal
rupram yang angker, kini rupram tak lagi menjadi tempat yang menakutkan bagi
adek-adek, kini rupram begitu terbuka untuk siapapun yang ingin masuk ke
dalamnya (jujur dulu saya waktu kelas X, betapa takutnya masuk rupram, dan
rasanya menginjak ruprampun waktu semester 2 karena beberapa hal saja, haha,
padahal gak ada sesuatu yang perlu ditakuti di rupram ini).
Tapi,
banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat. Kita sadari
memang tantangan terbesar bukanlah hal-hal di atas, masih banyak tantangan yang
lebih menantang yang harus kita hadapi bersama-sama. Seperti pembentukan Pasus
yang sudah vakum beberapa tahun, Wisata Ambalan, Latihan gabungan, touring
perjalanan laksana, Gladian Pemimpin Sangga (GPS),Mata Cakap, dan mengadakan
Lomba Lintas Medan (L2M) ke 7 se- Jawa Barat dan Jawa Tengah yang sebelumnya
sempat vakum, ini menjadi tantangan terbesar kita, ditengah kepolosan
ketidaktahuan kita semua harus berusaha menyelesaikan tugas dan janji kita
untuk memajukan ambalan. hhm Betapa Relatifnya Kepuasan.
Tasikmalaya,
21 Maret 2012
Di
Gramedia Asia Plaza
Kiki
Rizqi Januar
::
Terinspirasi dari buku dua tangis dan ribuan tawa, catatan ini sedikit banyak
copas dari sana.
Langganan:
Komentar (Atom)