Senyum Anak Desa, Sebuah Potret Realita Sosial Suara Kampung Tertinggal
Masalah anak-anak desa, bukan sesuatu yang baru untuk dikaji. Masih
banyak anak putus sekolah bahkan menginjak sekolahpun belum, dari desa
hingga kota banyak kita jumpai diantara mereka yang hanya bisa menjadi
tukang, tukang sapu, tukang kebun, pengamen, bahkan sudah dijadikan
pekerja di bawah umur . Hal ini mereka lakukan untuk memperjuangkan
hidup, mereka seakan melupakan hak mereka sebagai seorang anak. Semakin
banyak anak desa yang akhirnya hanya bisa membantu orang tuanya bekerja
di ladang atau sekedar mencari rumput untuk ternak-ternak mereka.
Ironis sekali memang, banyaknya anak putus sekolah dianggap sebagai
sesuatu yang sudah lumrah. Fenomena anak desa putus sekolah, tidak
mengerti baca tulis ini seakan sudah menjadi sahabat karib dari apa yang
disebut kemiskinan.
Ada sebuah cerita yang luar biasa tentang
perjuangan seorang bocah Sekolah Dasar, begitu tinggi semangatnya untuk
bisa sekolah, keadaan ekonomi yang begitu sulit tidak membuat dirinya
surut langkah dalam meraih asa. Ketika hendak masuk sekolah, seragamnya
sudah tidak lagi cukup, si anak meminta pada orang tua nya untuk
dibelikan seragam baru, karena keadaan ekonomi sang ibu dan ayah yang
hanya menjadi seorang petani dengan penghasilan yang tak menentu ia
tidak mendapatkan seragam baru dari orang tuanya. Sekolah tinggal berapa
hari lagi, si anak terus dan terus berusaha untuk bisa mendapatkan
seragam baru untuk dirinya bersekolah, higga akhirnya sang anak yang
tinggal di sebuah desa keci di dekat kemegahan kota memutuskan untuk
menemui pak RT di kampungnya dan menceritakan masalah dan keinginannya
untuk memiliki seragam untuk dipakainya sekolah. Beruntunglah sang anak,
karena pak RT di kampungnya itu begitu baik, singkat cerita si anak
diberilah seragam bekas anaknya. Setelah seragam di dapat si anak masih
kebingungan untuk bisa mendapatkan alat-alat tulis, ia tak mau menyerah,
ia berjalan dan terus berjalan hingga dipertemukanlah ia dengan salah
seorang ibu di desa itu, dan sang anak kembali menceritakan keinginannya
pada ibu yang di temuinya itu, hingga akhirnya sang ibu ingin
memberikan uang kepada sang anak. Luar biasa sang anak tidak ingin
menerima uang itu, sang anak hanya ingin diberi buku dan alat tulis
lainnya. Ibu itupun begitu terharu mendengar keinginan sang anak untuk
bisa sekolah di saat anak-anak desa yang lain sudah menyerah dan memilih
mengikuti jejak orangtua-orangtua mereka menjadi petani. Inilah kisah
nyata seorang anak desa kampung Legok Jenang, desa Gunung Bunder 1.
Demi mimpi, harapan, dan cita-cita, dengan semangat luar biasa
menjalani realita hidup yang demikian, apa tidak ada jalan lain? jalan
yang mampu mengembalikan hak belajar mereka, hak istirahat mereka di
rumah yang selama ini dirampas oleh kerasnya kehidupan demi
mempertahankan. (terinspirasi dari tulisan kak evni seorang aktivis
pemerhati anak).

Bidik Misi Turun Desa IPB mengabdi untuk negeri,
memberi pengajaran pada anak-anak desa Gunung Bunder 1, kampung Legok
Jenang.(30/09/2012)
Gambar : 30 September 2012 Anak-anak kp. Legok Jenang desa Gunung Bunder 1 (doc. PDD Bidik Misi Turun Desa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar