Rabu, 03 Oktober 2012

Senyum Anak Desa, Sebuah Potret Realita Sosial Suara Kampung Tertinggal

Masalah anak-anak desa, bukan sesuatu yang baru untuk dikaji. Masih banyak anak putus sekolah bahkan menginjak sekolahpun belum, dari desa hingga kota banyak kita jumpai diantara mereka yang hanya bisa menjadi tukang, tukang sapu, tukang kebun, pengamen, bahkan sudah dijadikan pekerja di bawah umur . Hal ini mereka lakukan untuk memperjuangkan hidup, mereka seakan melupakan hak mereka sebagai seorang anak. Semakin banyak anak desa yang akhirnya hanya bisa membantu orang tuanya bekerja di ladang atau sekedar mencari rumput untuk ternak-ternak mereka.

Ironis sekali memang, banyaknya anak putus sekolah dianggap sebagai sesuatu yang sudah lumrah. Fenomena anak desa putus sekolah, tidak mengerti baca tulis ini seakan sudah menjadi sahabat karib dari apa yang disebut kemiskinan. 

Ada sebuah cerita yang luar biasa tentang perjuangan seorang bocah Sekolah Dasar, begitu tinggi semangatnya untuk bisa sekolah, keadaan ekonomi yang begitu sulit tidak membuat dirinya surut langkah dalam meraih asa. Ketika hendak masuk sekolah, seragamnya sudah tidak lagi cukup, si anak meminta pada orang tua nya untuk dibelikan seragam baru, karena keadaan ekonomi sang ibu dan ayah yang hanya menjadi seorang petani dengan penghasilan yang tak menentu ia tidak mendapatkan seragam baru dari orang tuanya. Sekolah tinggal berapa hari lagi, si anak terus dan terus berusaha untuk bisa mendapatkan seragam baru untuk dirinya bersekolah, higga akhirnya sang anak yang tinggal di sebuah desa keci di dekat kemegahan kota memutuskan untuk menemui pak RT di kampungnya dan menceritakan masalah dan keinginannya untuk memiliki seragam untuk dipakainya sekolah. Beruntunglah sang anak, karena pak RT di kampungnya itu begitu baik, singkat cerita si anak diberilah seragam bekas anaknya. Setelah seragam di dapat si anak masih kebingungan untuk bisa mendapatkan alat-alat tulis, ia tak mau menyerah, ia berjalan dan terus berjalan hingga dipertemukanlah ia dengan salah seorang ibu di desa itu, dan sang anak kembali menceritakan keinginannya pada ibu yang di temuinya itu, hingga akhirnya sang ibu ingin memberikan uang kepada sang anak. Luar biasa sang anak tidak ingin menerima uang itu, sang anak hanya ingin diberi buku dan alat tulis lainnya. Ibu itupun begitu terharu mendengar keinginan sang anak untuk bisa sekolah di saat anak-anak desa yang lain sudah menyerah dan memilih mengikuti jejak orangtua-orangtua mereka menjadi petani. Inilah kisah nyata seorang anak desa kampung Legok Jenang, desa Gunung Bunder 1.
Demi mimpi, harapan, dan cita-cita, dengan semangat luar biasa menjalani realita hidup yang demikian, apa tidak ada jalan lain? jalan yang mampu mengembalikan hak belajar mereka, hak istirahat mereka di rumah yang selama ini dirampas oleh kerasnya kehidupan demi mempertahankan. (terinspirasi dari tulisan kak evni seorang aktivis pemerhati anak).

Bidik Misi Turun Desa IPB mengabdi untuk negeri, memberi pengajaran pada anak-anak desa Gunung Bunder 1, kampung Legok Jenang.(30/09/2012)
Gambar : 30 September 2012 Anak-anak kp. Legok Jenang desa Gunung Bunder 1 (doc. PDD Bidik Misi Turun Desa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar