Kamis, 14 Juni 2012

Renungan Malam (Manis dan Pahit siapa yang tahu?)


Ketika sebuah harapan akan cita yang mulia mulai menemui titik ketidakpastian menjadikan kita seperti kapas yang mudah diterbangkan oleh sedikit ayunan angin yang mendekat secara lembut. Kembali membuka hati dan pikiran mencoba meyakinkan diri "Kita Bisa, Pasti Bisa, dan Harus Bisa" menjadi penyemangat terbesar untuk tetap yakin akan harapan yang telah begtu jauh kita simpan dalam hati dan pikiran. Ketika kita berkhayal bahwa hal itu terjadi sungguh raga ini tak dapat berbohong, bibir kita merekah tersenyum indah, wajah kita berseri bak mentari di pagi hari, hati ini berkobar seperti cinta tuhan benar-benar jatuh pada kita, gerak kita menjadi begitu gagah seakan-akan kita percaya diri dan bangga pada diri sendiri. Dan pikiran kita selalu berucap "Ya,Aku Diterima Menjadi Mahasiswa UPI,UNPAD,UGM,ITB,IPB,UI,UNSOED,UNDIP,UNY dan universitas-universitas negeri terbaik lainnya". Semua keindahan itu hanya terjadi dalam beberapa menit saja, akan tetapi seolah-olah kita merasa perasaan itu benar-nyata. Saat kita sendiri dan melihat begitu banyaknya peminat  mahasiswa baru untuk bisa masuk PTN, seolah mimpi indah kita tergeser oleh badai khayalan yang membuat kita mundur memikirkan kebahagian dan hal-hal yang akan dilakukan. Ya, Ketika pikiran hal terpahit itu semakin merasuk, akan nampak gambaran mereka yang begitu dekat dengan kita, begitu menaruh harapan akan kita, menginginkan kita mendapat tempat pendidikan terbaik, dan menginginkan kita menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari mereka. Tetes air mata tak dapat kutahan dalam hal ini, mungkin tak hanya aku, tapi kita semua,kita kan merunduk dan meneteskan air mata penyesalan. Ya, mereka yang sedari dulu mendidik dan membesarkan kita "AYAH & IBU" menaruh harapan besar agar kita bisa menjadi pribadi yang jauh lebih dari mereka. Tak peduli seberapa mahal biaya pendidikan tak peduli seberapa sulit kemungkinan mereka untuk membiayai kita, mereka tetap berharap kita bisa berada di tempat yang dapat memberikan sinar terang masa depan demi kebahagian kita bukan demi mereka. Kita tak pernah tahu seberapa sering orang tua, adiik atau kakak kita mendoakan kita, agar apa yang kita harapkan akan menjadi kenyataan. Dalam diri seorang ayah yang keras, tersimpan kelembutan sikap, dalam tetes air mata seorang ibu terkumpul jutaan doa akan anakknya dan mereka selalu berucap "ya rabb, jadikan anakku menjadi anak yg sholeh/a,lindungilah dia dalam pergaulannya, bukakan pintu rezekinya dan mudahkan langkahnya tuk menggapai cita, biarlah hamba merasakan perihnya kehidupan dunia ini, tapi jangan biarkan anak hamba-Mu ini merasakan apa yang hamba rasakan". Mungkin mereka tak sempat mengatakan hal demikian secara langsung kepada kita, sesungguhnya itulah harap seorana AYAH dan IBU yang menginginkan kita untuk berhasil dalam segala hal, mereka tak mengutarakan hal demikan karena mereka benar-benar mencitai kita, cinta tak bisa disusun melalui sususan kata yang indah yang membentuk paragraf karena cinta lebih dari itu, cinta adalah harap dan doa yang terpancar dari sikap yang mampu memberikan kenyamanan bagi kita,cinta sulit diucap tapi mudah untuk dirasa.  

Kembalilah berdiri dan segera berwudhulah dan mari kita semua bersujud menghadap sang Pemilik Hidup untuk memohon belas kasih-Nya untuk mengampuni segala khilaf yang pernah kita lakukan,dan mari ceritakan semua keluh kesah dan harapan kita kepada Dia yang Maha Mengetahui agar kita diberi kumudahan dan kekuatan untuk segala ujian yang Dia berikan. Tetaplah berusaha untuk berhusnudzon kepada-Nya. Ya Allah Ya Tuhanku, Engkau Maha Tahu apa yang ada dalam pikiranku. Kaulah yang telah menuliskan garis takdirku, hanya saja hamba yang sedang berada dalam kegalauan ini memohon pada-Mu agar Engkau memberikanku kesempatan untukku meneguk pendidikan di PTN yang hamba inginkan, semoga dengan diterimanya hamba di PTN akan sedikit memberikan kebahagian bagi keluargaku tersayang.

#07 Maret 2012 pukul 01.58 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar