Rekan-rekan calon Bantara hari
itu hadir di acara Pertanggungjawaban SKU (Alias pengambilan putusan layak atau
tidak menjadi anggota Bantara) dengan segala peralatan lengkap (tak biasanyah)
aku telah siap untuk hari yang tidak pernah aku tahu akan seperti apa. Ya,
bayangkan saja, ketika orang lain jauh-jauh hari menyelesaikan seluruh point di
SKU, aku masih termenung memikirkan nasib SKU ku yang masih kosong dan jelas
bisa dihitung dengan jari point-point yang telah terisi. Point-point yang
terisipun sebagian kecilnya aku dapat dengan cuma-cuma, toh saat itu aku ikut
Lomba Baris Berbaris, jadi ada keistimewaan untuk sepuluh orang kelas X yang
ikut lomba itu. Cuma-cuma bukan berarti diisi tanpa usaha, tentulah ada usaha,
wong kita seminggu tiap hari latihan, itu kan juga usaha,hehe. Setelah itu tak
pernah lagi aku mengisi SKU, sampai dua tidak tahu tiga hari menjelang hari
pertanggung jawaban, baru aku kelimpungan, bingung!. Walah jadi Bantara gak
yah?, SKU memang tak pernah aku tinggal di rumah, pikirku kasian juga kalau SKU
aku tinggal di rumah, siapa tahu aja ada yang berbaik hati mengisi SKUku ini
dengan gratis.Hehe, ah dengan bangganya SKU selalu terselip di dalam tasku.
Terselip ya, bukan sengaja di simpan.Hehe.
Ah galau banget tuh, untungnya
2010 belum mengenal yang namanya galau yang ada bingung. Pikir-pikir okelah aku
harus jadi Bantara, dua hari berturut-turut aku putuskan untuk mencari
kakak-kakak Bantara dan mengisi SKU ku padanya, hmm aku sama sekali tidak
begitu dekat dengan mereka, namanya saja tidak tahu, paling kalau wajah
pradananya sih tahu, kak Afif dan kak Nurul. Kalau tidak tahu nama itu wajar,
kalau tidak tahu rupa (pradana) masa sih?.
Pencarian ku begitu sulit, aku
berkeliling-keliling melewati ruang-ruang kelas XI waktu itu, tadinya sih mau
di test sama kakak-kakak Prabuwangi. Tapi kalau dipikir-pikir ah ribeut, takut
dikerjain, mending cari kakak-kakak rarasantang saja (sendirian loeh!).
Akhirnya ketemu sama kak Maria panggilannya kak Rere. Waduh waktu itu
benar-benar menderita, tuhan mempertemukan aku dengan kakak yang baik ini tapi
aku bingung memanggil namanya! L. Masa aku harus angkat tangan dan teriak “kak
Lele”, atau “kak Malia, KIKI kelas X-8 ijin mengisi SKU”. Hah, aku harus putar
otak nih.
Untungnya kak Rere begitu baik,
tidak perlu harus mengangkat tangan dan berteriak-teriak, cukup dengan memberi
salam saja. Haduh lega deh, kalau sampai harus memanggil “kak Lele”, gak
kebayang tuh tersinggungnya kak Rere aku panggil begitu belum orang-orang yang
mungkin melihatku lagi!.
Awalnya SKU yang masih
banyak kosongnya ini aku mau isi dan selesaikan hari itu. Tapi berhubung kak
Rere juga tergesa-gesa ya pengisian jadi harus dua hari. Biar begitu aku
berterima kasih banyak pada kak Rere yang telah memudahkan jalanku.
Di hari penentuan itu, ternyata
teman-temanku (Prabuwangi) banyak yang tidak tahu. Alhasil yang tadinya mau
jadi Bantara malah kagak jadi, walau ada pertanggungjawaban susulan tapi karena
ketakutannya berlebihan eh malah kalah sebelum perang.
Ketika draft kesimpulan
dibacakan untuk didengar seluruh peserta pertanggung jawaban(lima orang, lima
orang)dalam ruangan nan-gelap, saya merasa gugup. Orang saya yang baru ketuk
pintu dan harus masuk lebih dulu terus laporan, eh malah kena bentakan. Makin
gugup aja, ah masa bodo yang penting muka gak boleh keliatan tegang “Watados”
aja dan berani menjawab.
Ketika lima prajurit sudah
berdiri dan berjajar rapi menghadap kakak-kakak DA. “Silahkan Duduk!”, spontan
saja kita duduk di kursi yang telah disediakan,eh IRMA calon Bantara
Rarasantang malah duduk kayak upik abu, duduk di teras, padahal kursi sudah
disediakan. Halah, suasana yang begitu mencekam berubah seketika dengan tawa
yang tidak bisa ditahan-tahan lagi. “Heh, ngapain kamu duduk di bawah, gak liat
apa?, matanya kemanain, pakai tuh mata” “Maaf kak”. Suasana kembali tegang
lagi.
“Kiki”. “ya”. Waduh kenapa
namaku yang pertama kali di sebut gumamku dalam hati. SKU aku berikan pada
Kakak-kakak dewan Ambalan yang begitu sangar dalam ruangan itu. Sebenarnya Aku
begitu deg-deg-an karena SKU ku belum benar-benar penuh, ada dua point yang
harus diisi dan hanya boleh diisi oleh kakak-kakak dewan Ambalan, tapi enggan
rasanya untuk mengisi pada kakak-kakak yang keliatan begitu sangar itu.
Ditambah belum dapat tanda tangan Pembina pramuka lah. Waduh mati dah,
Ada banyak pertanyaan waktu itu, tapi satu yang masih aku ingat cukup jelas.
“Kalau kamu mendapat kesempatan
untuk menjadi dewan ambalan, kamu akan memilih apa dan mengapa?”. Jreng. “Kak
afif kiki kelas X-8 ijin menjawab”, males harus teriak kak Nurul, nanti jadi
kak Nulul, padahal yang ngasih pertanyaan kan kak Nurul. Hehe. “Ya”, “Siap,
saya akan memilih Hartaka, karena sudah terbiasa”, waduh dipikir-pikir rancu
banget jawabanku saat itu dan gak nyambung pula.
Ah aku cukup beruntung karena tidak
mendapat hentakan-hentakan seperti yang lain, hanya saja aku kelabakan saat di
suruh membacakan try satya, aku sendiri berulang kali salah meyebutkan kata di
point kedua, mampus push-up menantiku!. Benar saja!, salah satu kena semua,
maaf! Hehe.
Suasana hening sejenak. Pimpinan
putusan yang merupakan Pradana Prabuwangi dan Rarasantang, kak Afif dan kak
Nurul tidak berkata apa-apa. Sekian lama kami menanti sambil berdiri. “Kiki”,
“ya”, “Kamu lulus tanpa syarat, silahkan mundur!” Jleb. Hah, aku hanya bisa
tersenyum dan berucap terimakasih saat itu pada kakak-kakak yang berada di
hadapanku.
Kami lima orang prajurit yang
menanti sebuah keputusan masih harus terus bergelut dengan perasaan cemas, akan
hasil yang akan kami dengar, kini aku sudah tenang, sedang empat prajurit
lainnya masih harus menunggu putusan, sungguh menit-menit yang menegangkan.
Ketika semua sudah mendengar putusan, sayang tidak semua lulus tanpa syarat,
beberapa dari kita lulus bersyarat, yang berarti masih memiliki hutang pada
Ambalan. Jelas raut ekspresi wajah berubah, ada yang bahagia ada juga yang
kecewa. Kami harus berusaha tegar selama dalam ruangan ini, karena kami tahu,
pertanggungjawaban ini lebih mengarah kepada kesiapan mental. Mereka yang
bermental kuat akan mendapat hasil yang memuaskan, sedangkan mereka yang
menunjukan mental kecemasan dan tidak percaya pada diri mereka sendiri akan
mendapat hasil yang kurang memuaskan. Bukan persoalan penuh atau tidak penuh
SKU, SKU tidak penuh masih bisa menjadi pertimbangan, sedang mental yang belum
siap tentu akan begitu banyak pertimbangan-pertimbangan.
Menjelang maghrib kegiatan
pertanggung jawaban masih berjalan, diluar ruangan mereka menanti giliran untuk
mendengar putusan,huh, ketika satu persatu keluar dari ruangan beragam ekspresi
bermunculan, ada yang tersenyum kecil, cemberut, menangis, marah, kesal,
tertawa, haru, lemas, lelah, berteriak-teriak semuanya ada, hasil yang
mereka dapatkan berbeda-beda ada yang dengan begitu mudah, ada juga yang
dipersulit, ada yang berkeringat ada juga yang tidak, ada yang merasa lelah dan
kesakitan, ada juga yang senang dan berbahagia, tapi itu menjadi kenangan
terindah bagi aku dan 62 orang rekan-rekanku dalam proses perjalanan menjadi
seorang BANTARA angkatan XXIV Ambalan Prabuwangi dan Rarasantang.
Dulu terlalu sering aku mengeluh
dengan kegiatan-kegiatan yang tidak mengasikan, kegiatan-kegiatan yang terlihat
lebay, kegiatan-kegiatan yang dirasa tidak ada gunanya. Tapi semua itu salah,
tidak ada satupun kegiatan yang telah kakak-kakak rencanakan yang tidak
bermanfaat bagi diriku kini, dan telah menjadikanku seperti ini.
Terimakasih kakak-kakaku.
Terimakasih untuk semua kegiatan yang tidak terasa sungguh kini menjadi
kenangan yang tidak terlupakan.
Buniseuri, 25 Maret 2012
Kamar biru tercinta
Kiki Rizqi Januar
:: Terimakasih derasnya hujan
dan dinginnya angin telah membawaku ke masa dua tahun silam, dan mengingatkanku
akan banyak hal yang tak mungkin aku lupakan.
:: Salam Semangat 63 Prajurit
angkatan XXIV
Tidak ada komentar:
Posting Komentar