Bermula
dari satu tahun lebih empat bulan yang lalu, cerita perjalanan yang begitu
mengesankan baru saja aku mulai, ya sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan
sebelumnya. Satu tahun masa bakti terasa lama saat dijalani, akan tetapi terasa
cepat ketika kini menjadi demisioner Ambalan.
Selama
satu tahun masa bakti kemaren, aku melakukan banyak perjalanan tapi masih
sedikit yang bisa ku jangkau : Ciamis, Banjar, Banjarsari, Kalipucang,
Pangandaran, Cijulang, Kawali, Panjalu, Panumbangan, Panawangan Cirebon,
Kuningan, Garut, Bandung, dan masih banyak lagi.
Kabupaten
Ciamis, dirasa kecil ketika melihatnya dalam peta, akan tetapi terasa luas
ketika harus benar-benar mencoba menelusuri sampai ke daerah-daerah
pelosoknya.Daerah yang sama sekali tidak terbayang dalam pikiranku, daerah yang
begitu terpencil, begitu terisolir. Hmm, mungkin ini adalah jalan Tuhan, mengingatkanku
akan nikmat Nya yang harus terus aku syukuri.
Perjalananku
bukan semata-mata karena menghadiri acara-acara kepramukaan resmi atau
sejenisnya, tapi lebih kepada pencarian jati diri akan rasa penasaranku untuk
menelusuri daerah-daerah yang belum pernah aku kunjungi.
Ya,
bukan tanpa alasan aku berani bepergian sebegitu jauhnya. Berbekal strip tiga
aku mulai membangun relasi pertemanan antar strip tiga maupun sekedar anggota.
Saat itu aku benar-benar tidak berpikir strip tiga memiliki andil penting dalam
suatu pergaulan. Hmm, rasanya bersyukur sekali merasakan “experience” yang “not
everyone can feel”. Banyak hal aku dapat dari pramuka, sungguh jika disekolah
menjadi Pradana atau menjadi Dewan Ambalan itu terasa biasa saja, akan tetapi
ketika kita terjun ke luar dari Ambalan sendiri dan berkunjung ke Ambalan lain,
rasanya jadi berbeda, ada satu pembeda, seolah-olah kita benar-benar di
istimewakan, dimanapun itu tanpa pengecualian.
Satu
pengalaman ketika aku tak memakai Pakaian Dinas Harian, berkunjung ke suatu
kegiatan kepramukaan, tak ada yang menyapa sama sekali, bahkan bicarapun
seperlunya saja, dan suasananya menjadi berbeda ketika identitasku mulai
diketahui si lawan bicara ku tadi, seolah-olah begitu dekat pertemanan kita,
dan seolah-olah sudah lama kenal, ada banyak hal yang mereka tanyakan, ada
banyak hal yang ingin mereka ketahui dari kita, dan akhirnya ada banyak hal
yang ingin didengar oleh mereka, pada dasarnya semua Ambalan sama, sama-sama
ingin mengetahui sejauhmana sih kehebatan atau kelebihan dari Ambalan orang
lain, yang akhirnya jika itu baik dan sangat interesting mereka akan mencoba
menerapkannya di Ambalan mereka dan jika itu sama sekali tidak menarik dan
terlihat biasa saja, jelas mereka akan bangga dengan Ambalan mereka, karena mereka
merasa lebih tinggi satu tingkat dari kita. Begitulah kiranya pebincangan yang
terjadi ketika baru saja saling mengenal, dan kesananya perbincangan kita lebih
ke personal tidak melulu membahas pramuka, inilah yang disebut dengan jalinan
kekeluargaan yang berawal dari suatu jabatan dan kemudian terikat oleh kata
pertemanan.
Ternyata
jika harus membandingkan kualitas kepramukaan di kita dengan Ambalan di
daerah-daerah pelosok, begitu jauhnya kita tertinggal, dan sangat-sangat jauh
dilihat dari kualitas pengusaan materi dan ketaatan mereka akan Adat Ambalan,
akan tetapi jika dilihat dari kreativitas pengajaran kepramukan, adat khas
Ambalan dan kegiatan kepramukan, sekarang menjadi berbanding terbalik, kita
menang dan mereka sangat tertinggal, hmm, itulah yang mereka ingin pelajari
dari kita suatu kreativitas tanpa batas yang bagi mereka itu semua adalah
keistimewaan yang tidak dimiliki semua ambalan.Betapa bangganya aku dan
rekan-rekanku.
Akan
ada banyak kejenuhan jika kita tidak memberikan sentuhan inovasi-inovasi baru
dalam setiap tahun perkembangan kepramukaan di Ambalan.
Memang
teorinya demikian. Karena Ambalan memberikan pelayanan kurang dari yang anggota
inginkan maka munculah ketidakpuasan. Ketidakpuasan ini meningkat menjadi
ketidakpercayaan anggota karena batas antara keinginan dan kenyataan terlalu
jauh dari yang diharapkan. Ketidakpercayaan pada dasarnya adalah akumulasi
ketidakpuasan yang luar biasa panjangnya dalam tempo yang lama ataupun
sebentar.
Begitu
panjangnya akibat ketidakpuasan anggota itu. Begitu serius ternyata dampak
sebuah ketidakpuasan itu. Begitu fatal ternyata akibatnya. Isu pilih kasih,
ketidakadilan penilaian, salah pemilihan orang, salah memberikan kepercayaan
dan seterusnya itu mungkin tidak akan melanda Ambalan sehebat sekarang
mana kala Ambalan berhasil memuaskan anggotanaya.
Lalu
…..
Apakah
dengan demikian Ambalan perlu memberikan pelayanan yang berlebihan sampai jauh
diatas yang diinginkan anggota?
Kalau
bisa, yes! Tapi tunggu dulu. Perlu dilihat dulu kondisi intern Dewan Ambalan :
apakah sudah punya kemampuan untuk memberikan yang jauh di atas yang diinginkan
anggota itu, atau di intern nya saja sudah bobrok, terlalu banyak perpecahan,
jika itu terjadi segera perbaiki dulu, segera benahi sampai semuanya memiliki
tujuan yang sama “Memajukan dan memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan
untuk ambalan”. Logika awamnya: kalau untuk sekedar memenuhi keinginan saja
belum bisa, apakah anggota percaya kalau Ambalan menjanjikan sesuatu yang
melebihi keinginan?
Maka
….
Kembali
lagi luruskan niat dan satukan tujuan, ingat kita membawa Ambalan atas dasar
rasa tanggung jawab dan kepercayaan, dan jika dirasa banyak sekali cobaan yang
mendera segera ingat bahwa kita menjalankan segala kegiatan ini semata-mata
karena ingin mencari pengalaman untuk membentuk karakter dan jati diri dan yang
terpenting karena niat untuk mencari ridho Tuhan.
Terus!...
Jika
niatan kita baik insyaAllah apapun yang terjadi akan terasa nikmat diakhir
ceritanya. Hmm, sedikit banyak aku bercerita disini, semata-mata hanya ingin
berbagi pengalaman (Masa Depanmu adalah Masa Laluku said seorang Demisioner
senior), bahwa tidak akan semua orang bisa merasakan hal yang sama dengan yang
aku rasakan tapi kalian akan merasakan yang lebih dari yang aku rasakan
manakala dari sekarang kalian membuka diri dan hati kalian agar senantiasa mau
menjalin pertemanan dengan siapapun dan apapun status jabatannya, InsyaAllah
kemanapun kalian bepergian akan ada yang memberi tumpangan (makan, tempat
tinggal, di ajak jalan”, dll).. haha, ngarep.com
Yang
terpenting lagi tidak semua orang bisa merasakan duduk berhadapan dengan
orang-orang hebat seperti Ketua DPR, Wakil Ketua DPR, Bupati, Wakil Bupati,
Sekda, Kepala-kepala Instansi, Kepala Sekolah dan jajaran-jajaran penting
lainnya yang menjadi impian semua orang akan karier masa depannya. Dan hanya
orang-orang hebat dan beranilah yang akan merasakan sensasi yang berbeda itu.
Mulailah berbenah diri dan pantaskanlah diri kalian untuk mendapatkan hal yang
pantas, karena kesempatan masih terbuka lebar di depan kalian, beranikan diri
dan mulailah beraksi.
Aku Bisa!, Kamu Bisa!, Kita Bisa! dan KITA SEMUA BISA! PASTI
BISA! dan HARUS BISA!...
Ciamis,
22 Maret 2012
Di
ruang kelas Ganesha Operation
Kiki
Rizqi Januar
::
Maaf bukan maksud menggurui karena aku juga masih berbenah diri.. Hanya sekedar
catatan kecil yang semoga memberi inspirasi. :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar