Selasa, 05 Juni 2012

Nikmati Apa yang Sedang Terjadi dan Pelajari


Malam ini aku tergerak untuk membuat sebuah catatan perjalanan hidup yang kata orang dewasa bilang “Baru seumur jagung” aku lalui. Belum ada apa-apa nya, belum benar-benar merasakan pahit manis nya dunia. Yah, biarlah orang berkata apa, dari pada harus menunggu sampai tua baru aku tulis cerita atau daripada harus menanti kematian datang dan barulah catatan-catatan kecil kehidupanku terbongkar. Tak akan ada yang membaca, tak akan ada yang memperdulikan, lebih baik saat ini aku berbagi, siapa tahu bisa member inspirasi. 

Ada banyak “Note” yang aku simpan, dan kebanyakan tak ingin aku publikasikan. Memang ini hanyalah catatan-catatan kecil yang tidak juga begitu penting. Ini hanya catatan pengalamanku yang jelas tak akan sama dengan orang lain. Tak ada niatan mendapat pujian atau apa, sekali lagi hanya sekedar ingin berbagi. Semoga bisa memberi  “Motivasi”. 

Aku bukanlah psikolog yang mampu memahami pikiran dan perasaan seseorang, aku hanya seorang pelajar yang sedang belajar untuk memahami orang-orang yang ingin dipahami. Berbagi adalah keharusan bagiku, berbagi adalah tuntutan. Ya, dengan berbagi ada rasa yang tak bisa diungkap dengan kata-kata, rasa yang hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri.  Aku mungkin tak pandai dalam banyak hal, tapi setidaknya ada yang ingin aku beri untuk orang lain, dan semoga pemberianku ini (bukan materi) diberi ganjaran berupa pahala dari janji-janji Tuhan akan umatnya yang mau berbagi.
Sebelumnya ku terbitkan beberapa catatanku melalui facebook, dan mungkin baru tiga hari ini aku menulis catatan yang intinya “Perjalanan Pengalamanku dalam Berorganisasi”. Niat awalnya hanya sekedar mengingat kembali masa-masa indah yang aku lalui bersama rekan-rekanku, eh taunya banyak juga orang yang menyukai catatanku. Dan beberapa memberi penilaian bahwa catatanku memberikan mereka inspirasi dan motivasi. “Ispiratif”?, “Memotivasi”? dari segi mana nya ya?. Tapi sungguh ku ucap banyak terimakasih jika itu benar adanya. Ya aku bukan seorang motivator hebat yang bisa merubah seseorang dengan sekejap merubah perilaku dan pemikirannya, sekali lagi bukan!. Aku hanya seorang pelajar yang ingin berbagi pengalaman. Tanpa bermaksud untuk menggurui siapapun, sekali lagi siapapun!!. 

Ok, kita mulai saja ceritanya, sudah kepanjangan di awal ya?.. hehe 

Kembali kepada catatan sebelumnyaBerawal dari kebetulan atau karena keberuntungan?. Aku tidak pernah memikirkan hal ini, atau berpikir hal ini, atau berkata hal ini, bahkan memikirkan hal ini pun enggan sama sekali. “Menjadi seorang PRADANA”, kata PRADANA begitu mengerikan dalam pikiranku sebelumnya. Kalau harus jujur, yang ada juga jika aku diberi kesempatan untuk menjadi Dewan Ambalan atau yang dikenal dengan singkatan “DA”. Aku dengan bangga memilih HARTAKA, pikirku menjadi HARTAKA tak akan memiliki banyak tanggung jawab, dan hanya akan bergelut dengan uang, uang , dan uang, ya siapa sih yang gak tahu uang?. Mungkin saking terbiasanya mengatur uang, dari uang Bulanan, uang Kas Kelas (kebetulan dulu jadi bendahara), uang pembayaran, uang berbagai kegiatan (Bendahara Mata Cakap, dan sempat terpilih menjadi Bendahara L2M juga) dan lain-lainnya lah yang membuatku yakin akan bisa memegang amanah menjadi HARTAKA. PRADANA terlalu menakutkan untukku dan hanya orang-orang dengan mental kuatlah yang akan menduduki jabatan itu gumamku dalam pikiran saat masih sebagai anggota BANTARA. Ah, tapi Tuhan memiliki rencana lain, dan tidak mengijinkanku untuk menjadi seorang hartaka, alhasil tuhan menganugerahiku sebuah tantangan yang benar-benar aku takutkan. Tantangan yang lebih besar dari pada sekedar menjadi HARTAKA. Apa itu?

Aku tidak pernah berpikir kalau untuk menembus atau menduduki sebuah jabatan di Dewan Ambalan itu sangat penuh dengan berbagai pertimbangan. Serius tidak pernah aku berpikir sejauh itu. Aku kira asal ada “kemaunan” itu sudah lebih dari cukup untuk bisa mendapatkan salah satu jabatan di Dewan Ambalan.

Ah ternyata kini aku tahu semua itu tak mudah, semua itu begitu sulit, satu keputusan salah saja akan berakibat patal dalam perkembangan Ambalan.

Ya, aku tidak menutupi bahwa ada banyak orang yang lebih hebat dariku, ada banyak orang yang lebih kreatif dariku, ada banyak orang yang kemampuannya luar biasa, aku pun belum tentu bisa, ada banyak orang yang lebih rajin dari diriku. 

Bayangkan, bayangkan saja!, bayangkan bagaimana bisa seseorang sepertiku memikul jabatan yang tak pantas untuk aku pikul. Coba bacalah ceritaku ini, baca! 

Aku yang dulu (kelas X) dalam rapotku pernah mendapat nilai Pramuka B tidak tahu C bisa menjadi seorang yang diberi tanggung jawab yang amat teramat besar. Ya, memang kenakalanku sama seperti adek-adek kelas sekarang, dulu suka bolos dari pramuka, kabur dari latihan wajib, kalau latihanpun jarang memakai peralatan lengkap, persami dan lain-lainya mengumpulkan barang-barang seadanya, ya kalau ada aku bawa, kalau tidak ada ya biarlah mending dapat push up dah, dan biasanya hal-hal yang berbau persyaratkan aku selalu titip pesan pada teman untuk dibuatkan, hehe, “apa-apaan sih Bantara” pikirku dulu.. haha, duh malunya jika mengingat-ngingat hal itu sekarang. 

Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan seseorang direkomendasikan menjadi seorang “calon” pemegang jabatan di Ambalan. Pertama seorang calon pemimpin harus bisa memimpin dirinya sendiri, kemana dia ingin melangkah pasti dia akan melangkahkan kakinya, kedua terbiasa berbicara dengan santun kepada kakak-kakak kelas, guru-guru, maupun kepada rekan-rekannya, ketiga mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru ia masuki, keempat simple, supple, kritis, tidak banyak bicara tapi banyak beraksi dengan tindakan-tindakan nyata, bisa diterima oleh rekan-rekan seangkatannya, memiliki semangat untuk berkarya,  tidak terbiasa dengan hal-hal yang melanggar etika (dalam artian tertentu “Mabuk”, “Rokok” dll), bertanggung jawab akan amanah yang dititipkan kepadanya, selalu siap di tempatkan di posisi manapun (dalam artian menerima duduk sebagai seksi apapun dalam satu acara), tidak banyak mengeluh,  kreatif, berani membuat gebrakan, berwibawa, mampu menjaga kestabilan nilai akademik, tegas, dan rela mengorbankan banyak waktunya untuk kepentingan ambalan inilah salah satu yang terpenting dari yang penting.

Ah apa sih yang aku punya? Entahlah. Aku hanya merasa pertimbangan terakhirlah yang aku miliki, tapi itu dalam artian yang berbeda, aku memang  tidak menyukai hari-hariku dihabiskan hanya dengan belajar dan berdiam diri di dalam rumah. Aku lebih senang melakukan aktivitas, apapun itu, asal ada kegiatan,ok ayo aku ikut. Sedang pertimbangan yang lainnya mungkin nilaiku biasa-biasa saja, bahkan teramat relatif untuk diberi nilai. 

Kini aku benar-benar menyadari bahwa bertindak itu lebih efektif untuk meyakinkan seseorang daripada hanya sekedar berjanji atau banyak berucap tanpa ada realisasi.

Kini akupun terbiasa untuk membuka diri, walau kadang ketika kata-kata yang menyakitkan keluar dari mulut seseorang membuatku merasa benar-benar jatuh. Ya, kalau dipikir secara real, itu hanya sekedar kata-kata untuk apa dipikirkan terlalu lama, masih banyak persoalan yang harus di hadapi di depan. Dari sinilah aku belajar dan mengerti bahwa kita memang harus mendengar, kita memang harus mengartikan ucapan dari seseorang, tapi tidak semua ucapan harus kita jadikan beban, biarkanlah orang menilai B dan C, tapi yang tahu dan merasakan betapa susahnya menjalankan suatu program adalah diri kita sendiri, orang hanya menginginkan kita lebih dari apa yang mereka inginkan tanpa ingin tahu bagaimana kita berusaha keras untuk bisa menggapai suatu program, mereka hanya inginkan sesuatu yang instan. Ya “isntan”, sekali lagi, memang betapa relatifnya kepuasan.

Aku mulai terbiasa mendengar caci maki orang-orang. Dulu itu menyakitkan, tapi kini aku sangat merindukan hal demikian. Karena dengan itu aku belajar bagaimana memotivasi diri untuk bisa bangkit dan menunjukan bukan malah jatuh dan membiarkan mereka menertawakan. Betapa relatifnya pemikiran seseorang. 

Aku mulai terbiasa berbicara di depan banyak orang, dulu itu begitu sulit aku lakukan, untuk berbicara di depan kelas saja, setengah mati rasanya menahan rasa grogi, tapi kini tidak! Aku malah menanti tantangan yang lebih besar dari yang sekarang, berharap suatu hari akan menjadi kenyataan. Ya, betapa relatifnya ketakutan.

Aku mulai berani menentang hal-hal yang tidak sesuai dengan tujuan. Dulu aku hanya ikut angguk-angguk saja dan berkata “ya, aku setuju”. Tapi kini “Ya” untuk tujuan yang benar-benar pantas mendapat pernyataan “Ya”, dan “tidak” untuk sesuatu yang memang harus dijawab “tidak”.

Aku merindukan adek-adek yang bersitegang dengan dirinya sendiri. Dulu aku begitu takut bagaimana caraku mengahadapi adek-adek yang sedang di sulut emosi, tapi sekarang aku malah merindukan hal-hal demikian, karena dari itu aku belajar bahwa seseorang tidak hanya ingin mendapat bentakan, tapi lebih dari itu mereka ingin mendapat perhatian dan rasa kasih sayang dari seorang kakak terhadap adeknya.

Dulu aku begitu canggung untuk berbincang dengan kakak-kakak demisioner, tapi kini aku punya banyak pengetahuan dan kenalan.

Ya, banyak hal yang tidak diduga, karena rencana Tuhan adalah misteri, misteri yang akan kita ketahui kelak ketika kita telah berani untuk mengambil sebuah keputusan ataupun mengambil sebuah tindakan. Tanpa tindakan kita hanya akan mendapat penyesalan, tanpa pemikiran kita hanya akan mendapatkan rasa malu, tanpa rasa malu kita hanya akan menjadi seorang yang terlalu berani tapi tidak tahu diri.

Mulailah bersikap tegas dalam hal apapun, karena tegas akan membawamu pada kebaikan-kebaikan,  dan mulailah membuka mata, hati, telinga, dan pikiran kalian untuk senantiasa melihat, merasakan, mendengar, dan memikirkan penyesalan jika hari ini tidak mengambil suatu tindakan bijak untuk bergabung atau tidak dalam suatu kegiatan yang akan merubah cara pandangmu melihat kehidupan. 

Ya, ini memang sekedar catatan, tidak tahu apa yang dibicarakan, dan tidak begitu jelas maksud dan tujuannya, sekali lagi hanya sekedar catatan pribadi yang aku bagi untuk saling memberi. Catatan seorang pelajar yang mengenal dan mengetahui banyak hal dari organisasi yang ia geluti. Ya, catatan seorang pelajar yang tidak memiliki keistimewaan, hanya seorang pelajar!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar