Malam
ini aku tergerak untuk membuat sebuah catatan perjalanan hidup
yang kata orang dewasa bilang “Baru seumur jagung” aku lalui. Belum ada apa-apa
nya, belum benar-benar merasakan pahit manis nya dunia. Yah, biarlah orang
berkata apa, dari pada harus menunggu sampai tua baru aku tulis cerita atau
daripada harus menanti kematian datang dan barulah catatan-catatan kecil
kehidupanku terbongkar. Tak akan ada yang membaca, tak akan ada yang
memperdulikan, lebih baik saat ini aku berbagi, siapa tahu bisa member
inspirasi.
Ada banyak “Note” yang aku
simpan, dan kebanyakan tak ingin aku publikasikan. Memang ini hanyalah
catatan-catatan kecil yang tidak juga begitu penting. Ini hanya catatan
pengalamanku yang jelas tak akan sama dengan orang lain. Tak ada niatan
mendapat pujian atau apa, sekali lagi hanya sekedar ingin berbagi. Semoga bisa
memberi “Motivasi”.
Aku bukanlah psikolog yang mampu
memahami pikiran dan perasaan seseorang, aku hanya seorang pelajar yang sedang
belajar untuk memahami orang-orang yang ingin dipahami. Berbagi adalah
keharusan bagiku, berbagi adalah tuntutan. Ya, dengan berbagi ada rasa yang tak
bisa diungkap dengan kata-kata, rasa yang hanya bisa dirasakan oleh diri
sendiri. Aku mungkin tak pandai dalam banyak hal, tapi setidaknya ada
yang ingin aku beri untuk orang lain, dan semoga pemberianku ini (bukan materi)
diberi ganjaran berupa pahala dari janji-janji Tuhan akan umatnya yang mau
berbagi.
Sebelumnya ku terbitkan beberapa
catatanku melalui facebook, dan mungkin baru tiga hari ini aku menulis catatan
yang intinya “Perjalanan Pengalamanku dalam Berorganisasi”. Niat awalnya hanya
sekedar mengingat kembali masa-masa indah yang aku lalui bersama rekan-rekanku,
eh taunya banyak juga orang yang menyukai catatanku. Dan beberapa memberi
penilaian bahwa catatanku memberikan mereka inspirasi dan motivasi.
“Ispiratif”?, “Memotivasi”? dari segi mana nya ya?. Tapi sungguh ku ucap banyak
terimakasih jika itu benar adanya. Ya aku bukan seorang motivator hebat yang
bisa merubah seseorang dengan sekejap merubah perilaku dan pemikirannya, sekali
lagi bukan!. Aku hanya seorang pelajar yang ingin berbagi pengalaman. Tanpa
bermaksud untuk menggurui siapapun, sekali lagi siapapun!!.
Ok, kita mulai saja ceritanya,
sudah kepanjangan di awal ya?.. hehe
Kembali kepada catatan
sebelumnya “Berawal dari kebetulan atau karena keberuntungan?”. Aku tidak
pernah memikirkan hal ini, atau berpikir hal ini, atau berkata hal ini, bahkan
memikirkan hal ini pun enggan sama sekali. “Menjadi seorang PRADANA”, kata
PRADANA begitu mengerikan dalam pikiranku sebelumnya. Kalau harus jujur, yang
ada juga jika aku diberi kesempatan untuk menjadi Dewan Ambalan atau yang
dikenal dengan singkatan “DA”. Aku dengan bangga memilih HARTAKA, pikirku
menjadi HARTAKA tak akan memiliki banyak tanggung jawab, dan hanya akan
bergelut dengan uang, uang , dan uang, ya siapa sih yang gak tahu uang?. Mungkin
saking terbiasanya mengatur uang, dari uang Bulanan, uang Kas Kelas (kebetulan
dulu jadi bendahara), uang pembayaran, uang berbagai kegiatan (Bendahara Mata
Cakap, dan sempat terpilih menjadi Bendahara L2M juga) dan lain-lainnya lah
yang membuatku yakin akan bisa memegang amanah menjadi HARTAKA. PRADANA terlalu
menakutkan untukku dan hanya orang-orang dengan mental kuatlah yang akan
menduduki jabatan itu gumamku dalam pikiran saat masih sebagai anggota BANTARA.
Ah, tapi Tuhan memiliki rencana lain, dan tidak mengijinkanku untuk menjadi
seorang hartaka, alhasil tuhan menganugerahiku sebuah tantangan yang
benar-benar aku takutkan. Tantangan yang lebih besar dari pada sekedar menjadi
HARTAKA. Apa itu?
Aku tidak pernah berpikir kalau
untuk menembus atau menduduki sebuah jabatan di Dewan Ambalan itu sangat penuh
dengan berbagai pertimbangan. Serius tidak pernah aku berpikir sejauh itu. Aku
kira asal ada “kemaunan” itu sudah lebih dari cukup untuk bisa mendapatkan
salah satu jabatan di Dewan Ambalan.
Ah ternyata kini aku tahu semua
itu tak mudah, semua itu begitu sulit, satu keputusan salah saja akan berakibat
patal dalam perkembangan Ambalan.
Ya, aku tidak menutupi bahwa ada
banyak orang yang lebih hebat dariku, ada banyak orang yang lebih kreatif
dariku, ada banyak orang yang kemampuannya luar biasa, aku pun belum tentu
bisa, ada banyak orang yang lebih rajin dari diriku.
Bayangkan, bayangkan saja!,
bayangkan bagaimana bisa seseorang sepertiku memikul jabatan yang tak pantas
untuk aku pikul. Coba bacalah ceritaku ini, baca!
Aku yang dulu (kelas X) dalam
rapotku pernah mendapat nilai Pramuka B tidak tahu C bisa menjadi seorang yang
diberi tanggung jawab yang amat teramat besar. Ya, memang kenakalanku sama
seperti adek-adek kelas sekarang, dulu suka bolos dari pramuka, kabur dari
latihan wajib, kalau latihanpun jarang memakai peralatan lengkap, persami dan
lain-lainya mengumpulkan barang-barang seadanya, ya kalau ada aku bawa, kalau
tidak ada ya biarlah mending dapat push up dah, dan biasanya hal-hal yang berbau
persyaratkan aku selalu titip pesan pada teman untuk dibuatkan, hehe,
“apa-apaan sih Bantara” pikirku dulu.. haha, duh malunya jika mengingat-ngingat
hal itu sekarang.
Ada banyak hal yang menjadi
pertimbangan seseorang direkomendasikan menjadi seorang “calon” pemegang
jabatan di Ambalan. Pertama seorang calon pemimpin harus bisa memimpin dirinya
sendiri, kemana dia ingin melangkah pasti dia akan melangkahkan kakinya, kedua
terbiasa berbicara dengan santun kepada kakak-kakak kelas, guru-guru, maupun
kepada rekan-rekannya, ketiga mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru ia
masuki, keempat simple, supple, kritis, tidak banyak bicara tapi banyak beraksi
dengan tindakan-tindakan nyata, bisa diterima oleh rekan-rekan seangkatannya,
memiliki semangat untuk berkarya, tidak terbiasa dengan hal-hal yang
melanggar etika (dalam artian tertentu “Mabuk”, “Rokok” dll), bertanggung jawab
akan amanah yang dititipkan kepadanya, selalu siap di tempatkan di posisi
manapun (dalam artian menerima duduk sebagai seksi apapun dalam satu acara),
tidak banyak mengeluh, kreatif, berani membuat gebrakan, berwibawa, mampu
menjaga kestabilan nilai akademik, tegas, dan rela mengorbankan banyak waktunya
untuk kepentingan ambalan inilah salah satu yang terpenting dari yang penting.
Ah apa sih yang aku punya?
Entahlah. Aku hanya merasa pertimbangan terakhirlah yang aku miliki, tapi itu
dalam artian yang berbeda, aku memang tidak menyukai hari-hariku
dihabiskan hanya dengan belajar dan berdiam diri di dalam rumah. Aku lebih
senang melakukan aktivitas, apapun itu, asal ada kegiatan,ok ayo aku ikut.
Sedang pertimbangan yang lainnya mungkin nilaiku biasa-biasa saja, bahkan
teramat relatif untuk diberi nilai.
Kini aku benar-benar menyadari
bahwa bertindak itu lebih efektif untuk meyakinkan seseorang daripada hanya
sekedar berjanji atau banyak berucap tanpa ada realisasi.
Kini akupun terbiasa untuk
membuka diri, walau kadang ketika kata-kata yang menyakitkan keluar dari mulut
seseorang membuatku merasa benar-benar jatuh. Ya, kalau dipikir secara real,
itu hanya sekedar kata-kata untuk apa dipikirkan terlalu lama, masih banyak
persoalan yang harus di hadapi di depan. Dari sinilah aku belajar dan mengerti
bahwa kita memang harus mendengar, kita memang harus mengartikan ucapan dari
seseorang, tapi tidak semua ucapan harus kita jadikan beban, biarkanlah orang
menilai B dan C, tapi yang tahu dan merasakan betapa susahnya menjalankan suatu
program adalah diri kita sendiri, orang hanya menginginkan kita lebih dari apa
yang mereka inginkan tanpa ingin tahu bagaimana kita berusaha keras untuk bisa
menggapai suatu program, mereka hanya inginkan sesuatu yang instan. Ya
“isntan”, sekali lagi, memang betapa relatifnya kepuasan.
Aku mulai terbiasa mendengar
caci maki orang-orang. Dulu itu menyakitkan, tapi kini aku sangat merindukan
hal demikian. Karena dengan itu aku belajar bagaimana memotivasi diri untuk
bisa bangkit dan menunjukan bukan malah jatuh dan membiarkan mereka
menertawakan. Betapa relatifnya pemikiran seseorang.
Aku mulai terbiasa berbicara di
depan banyak orang, dulu itu begitu sulit aku lakukan, untuk berbicara di depan
kelas saja, setengah mati rasanya menahan rasa grogi, tapi kini tidak! Aku
malah menanti tantangan yang lebih besar dari yang sekarang, berharap suatu
hari akan menjadi kenyataan. Ya, betapa relatifnya ketakutan.
Aku mulai berani menentang
hal-hal yang tidak sesuai dengan tujuan. Dulu aku hanya ikut angguk-angguk saja
dan berkata “ya, aku setuju”. Tapi kini “Ya” untuk tujuan yang benar-benar
pantas mendapat pernyataan “Ya”, dan “tidak” untuk sesuatu yang memang harus
dijawab “tidak”.
Aku merindukan adek-adek yang
bersitegang dengan dirinya sendiri. Dulu aku begitu takut bagaimana caraku
mengahadapi adek-adek yang sedang di sulut emosi, tapi sekarang aku malah
merindukan hal-hal demikian, karena dari itu aku belajar bahwa seseorang tidak
hanya ingin mendapat bentakan, tapi lebih dari itu mereka ingin mendapat
perhatian dan rasa kasih sayang dari seorang kakak terhadap adeknya.
Dulu aku begitu canggung untuk
berbincang dengan kakak-kakak demisioner, tapi kini aku punya banyak
pengetahuan dan kenalan.
Ya, banyak hal yang tidak
diduga, karena rencana Tuhan adalah misteri, misteri yang akan kita ketahui
kelak ketika kita telah berani untuk mengambil sebuah keputusan ataupun
mengambil sebuah tindakan. Tanpa tindakan kita hanya akan mendapat penyesalan,
tanpa pemikiran kita hanya akan mendapatkan rasa malu, tanpa rasa malu kita
hanya akan menjadi seorang yang terlalu berani tapi tidak tahu diri.
Mulailah bersikap tegas dalam
hal apapun, karena tegas akan membawamu pada kebaikan-kebaikan, dan
mulailah membuka mata, hati, telinga, dan pikiran kalian untuk senantiasa
melihat, merasakan, mendengar, dan memikirkan penyesalan jika hari ini tidak
mengambil suatu tindakan bijak untuk bergabung atau tidak dalam suatu kegiatan
yang akan merubah cara pandangmu melihat kehidupan.
Ya, ini memang sekedar catatan,
tidak tahu apa yang dibicarakan, dan tidak begitu jelas maksud dan tujuannya,
sekali lagi hanya sekedar catatan pribadi yang aku bagi untuk saling memberi.
Catatan seorang pelajar yang mengenal dan mengetahui banyak hal dari organisasi
yang ia geluti. Ya, catatan seorang pelajar yang tidak memiliki keistimewaan,
hanya seorang pelajar!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar