Duduk Manis Adik Kecil
Jendela peradaban.
Duduk dengan pakaian yang tak lagi terlihat bersih, katakanlah begitu.
Diteras jalan keluar menuju tempat keramaian.
Disorot cahaya matahari.
Hitam namun kau begitu manis dik.
Sandal capit menjadi pijakan berharga di antara teras panas itu.
Ingin,ingin aku membantumu.
Sungguh aku malu, malu akan ketidak bersyukuranku akan nikmat yang tak pernah kau rasakan dik.
Dimana ayah dan ibumu?
Ikhlas kah kau menjalani semua ini?
Aku mau esok atau lusa kau tak lagi berada disana.
Aku mau kau pergi dengan pakaian rapi membawa tas di pundakmu.
Aku mau kau menuntut ilmu dengan perasaan bahagia.
Aku mendoakanmu dik.
Maafkan diriku yang tak bisa membantumu lebih.
Maafkan aku yang hanya bisa memandangmu dengan kasihan.
Inilah jendela peradaban.
Peradaban yang tak berpihak pada mereka yang terkecilkan.
Peradaban yang dipenuhi keserakahan.
Peradaban yang tak seharusnya memperlihatkan ironi akan kekejaman hidup yang harus di hadapi adik kecil ini.
Mari buka mata, buka hati untuk merasa iba pada mereka yang menderita dan bersyukurlah atas nikmat yang telah Dia limpahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar