Entah
dari mana aku harus memulai merangkai kata untuk kutorehkan dalam kertas putih
ini. Hari ini ada yang mengganjal dalam hati, suatu kerinduan yang mendalam
akan sosok yang cukup lama tidak lagi ku lihat dalam mimpi. Ibu dalam kesepian
aku selalu merindukanmu, ada saja yang mampu mengingatkanku padamu bu, ada rasa
bersalah meninggalkanmu, ada rasa menyesal pergi jauh dari rumah. Aku tahu ibu
telah memberiku ijin untuk berada disini, aku tahu ibu menginginkan segala
sesuatu yang terbaik untuk diriku. Ibu, sungguh aku rindu yang sangat teramat
pada dirimu. Aku mencoba bertahan disini dengan segala kepadatan rutinitasku
yang tidak lain hanya untuk sekedar mencoba melupakan hal-hal yang akan
membuatku lemah, maaf ibu aku belum pernah menghubungi mu selama aku disini.
Aku rindu suaramu, aku rindu teguranmu, aku rindu semua yang engkau berikan
kepadaku. Ibu, anak manjamu ini, kini telah mulai mengerti akan kehidupan yang
sebenarnya, kehidupan yang pernah engkau ceritakan kepadaku, kehidupan yang
penuh perjuangan, ketika engkau berkata belajarlah dari hidup “prihatin” dan
aku tidak pernah merisaukannya dan sejujurnya aku-pun tidak pernah mau
merasakannya.
Kini
aku telah mengerti bu.
Ibu
sungguh aku rindu. Aku ingin pulang bu, aku ingin beranjak dari sini menempuh
perjalanan tujuh jam yang singkat menuju rumah. Tapi aku tidak mampu, aku tidak
mampu mengingkari janji ku untuk terus bertahan disini, semua doa-mu lah yang
telah mengantarkanku ke tempat sehebat ini, kerja kerasmulah yang telah membuat
diriku berada disini, dan kasih sayangmulah yang telah membuat diriku merasa
rindu seperti ini.
Ibu
engkau mungkin menunggu kepulanganku, engkau juga mungkin sangat merindukanku,
aku rindu ibu, aku ingin pulang bu.
Masih
terbayang ketika kau menangis bahagia mendengar anakmu diterima di PTN ini,
masih terbayang ketika engkau berkata dengan terbata-bata memberiku ucapan
selamat dan membekaliku nasehat.
“Alhamdulillah
nak, kini kau telah mendapatkan satu mimpi-mu,
belajarlah dengan rajin dan jujur, ibu hanya bisa mendoakanmu, ibu tidak
bisa memberimu lebih secara materi, apapun yang terjadi ibu akan berupaya untuk
memenuhi kebutuhanmu disana. Kau masih punya kakak, berdoalah semoga mereka
bisa membekalimu”.
Tangis
dan rasa bahagia itu yang selalu membuatku bersyukur, aku telah mampu memberikan satu kebahagian pada
ibu, walaupun masih begitu banyak janji yang ingin aku wujudkan untukmu.
Satu
doaku pada Allah, “ Allah semoga engkau memberikan segala sesuatu yang terbaik
teruntuk ibuku, semoga engkau menjaganya seperti ia menjagaku sewaktu kecil,
sayangi dan lindungilah ia ya Rabb. Sampaikan rinduku padanya dari anak manja
yang selalu membuatnya susah,selalu membuatnya menangis karena tidak mampu
memenuhi keinginanku. Allah ampuni diriku yang selalu menyusahkannya”.
Ada
rasa iri ketika teman-teman ku disini dihubungi oleh ibu atau ayah mereka, ada
rasa sedih yang begitu mendalam. Betapa beruntungnya mereka. Jujur aku ingin
mendapat telepon darimu bu, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, ada banyak
perjuangan yang harus engkau dengar, ada banyak kebahagian yang harus engkau
rasakan pula bu.
Ibu
ada rasa takut dalam diriku, aku takut Allah memanggilmu terlebih dahulu, aku
takut bu, aku belum bisa memberi apa-apa kepadamu, perhatianpun aku belum mampu
memberikannya untuk mu. Ibu maafkan anak
mu jika hal ini benar-benar terjadi. Aku merasa takut, sangat teramat takut
kehilanganmu, aku tidak ingin lagi kehilangan dirimu seperti aku kehilangan
ayah. Aku tidak ingin meninggalnya ayah terjadi lagi kepadamu, aku tidak mampu
melihat jenazahnya, aku tidak mampu melihat wajahnya, akupun tidak tahu dimana
ia dimakamkan, aku tidak ingin mengalaminya lagi bu, ibu bertahanlah, jaga
dirimu, jaga kesehatanmu. Tunggu, tunggu aku janji akan membahagiakanmu suatu
hari nanti dimulai dari hari ini. Apa yang aku lakukan disini semua karena
Allah dan semua untukmu Ibu. Ibu aku disini selalu merindukanmu. I Love U
(Sepenggal surat rindu untuk ibunda Ehot
Setiawati dan ayahanda (Alm) Yoyo Mulyana)
Asrama,
20 Oktober 2012
Di
Jendela penuh inspirasi.
Kiki
Rizqi Januar
Subhanalloh ya kawan,
BalasHapussemua memang membutuhkan pengorbanan,,
Insyaallah.. terimakasih
Hapus