Jumat, 19 Oktober 2012

SURAT RINDU UNTUK IBU


Entah dari mana aku harus memulai merangkai kata untuk kutorehkan dalam kertas putih ini. Hari ini ada yang mengganjal dalam hati, suatu kerinduan yang mendalam akan sosok yang cukup lama tidak lagi ku lihat dalam mimpi. Ibu dalam kesepian aku selalu merindukanmu, ada saja yang mampu mengingatkanku padamu bu, ada rasa bersalah meninggalkanmu, ada rasa menyesal pergi jauh dari rumah. Aku tahu ibu telah memberiku ijin untuk berada disini, aku tahu ibu menginginkan segala sesuatu yang terbaik untuk diriku. Ibu, sungguh aku rindu yang sangat teramat pada dirimu. Aku mencoba bertahan disini dengan segala kepadatan rutinitasku yang tidak lain hanya untuk sekedar mencoba melupakan hal-hal yang akan membuatku lemah, maaf ibu aku belum pernah menghubungi mu selama aku disini. Aku rindu suaramu, aku rindu teguranmu, aku rindu semua yang engkau berikan kepadaku. Ibu, anak manjamu ini, kini telah mulai mengerti akan kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang pernah engkau ceritakan kepadaku, kehidupan yang penuh perjuangan, ketika engkau berkata belajarlah dari hidup “prihatin” dan aku tidak pernah merisaukannya dan sejujurnya aku-pun tidak pernah mau merasakannya.

Kini aku telah mengerti bu.

Ibu sungguh aku rindu. Aku ingin pulang bu, aku ingin beranjak dari sini menempuh perjalanan tujuh jam yang singkat menuju rumah. Tapi aku tidak mampu, aku tidak mampu mengingkari janji ku untuk terus bertahan disini, semua doa-mu lah yang telah mengantarkanku ke tempat sehebat ini, kerja kerasmulah yang telah membuat diriku berada disini, dan kasih sayangmulah yang telah membuat diriku merasa rindu seperti ini.

Ibu engkau mungkin menunggu kepulanganku, engkau juga mungkin sangat merindukanku, aku rindu ibu, aku ingin pulang bu. 

Masih terbayang ketika kau menangis bahagia mendengar anakmu diterima di PTN ini, masih terbayang ketika engkau berkata dengan terbata-bata memberiku ucapan selamat dan membekaliku nasehat.
“Alhamdulillah nak, kini kau telah mendapatkan satu mimpi-mu,  belajarlah dengan rajin dan jujur, ibu hanya bisa mendoakanmu, ibu tidak bisa memberimu lebih secara materi, apapun yang terjadi ibu akan berupaya untuk memenuhi kebutuhanmu disana. Kau masih punya kakak, berdoalah semoga mereka bisa membekalimu”. 

Tangis dan rasa bahagia itu yang selalu membuatku bersyukur, aku  telah mampu memberikan satu kebahagian pada ibu, walaupun masih begitu banyak janji yang ingin aku wujudkan untukmu. 

Satu doaku pada Allah, “ Allah semoga engkau memberikan segala sesuatu yang terbaik teruntuk ibuku, semoga engkau menjaganya seperti ia menjagaku sewaktu kecil, sayangi dan lindungilah ia ya Rabb. Sampaikan rinduku padanya dari anak manja yang selalu membuatnya susah,selalu membuatnya menangis karena tidak mampu memenuhi keinginanku. Allah ampuni diriku yang selalu menyusahkannya”.

Ada rasa iri ketika teman-teman ku disini dihubungi oleh ibu atau ayah mereka, ada rasa sedih yang begitu mendalam. Betapa beruntungnya mereka. Jujur aku ingin mendapat telepon darimu bu, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, ada banyak perjuangan yang harus engkau dengar, ada banyak kebahagian yang harus engkau rasakan pula bu.

Ibu ada rasa takut dalam diriku, aku takut Allah memanggilmu terlebih dahulu, aku takut bu, aku belum bisa memberi apa-apa kepadamu, perhatianpun aku belum mampu memberikannya untuk mu.  Ibu maafkan anak mu jika hal ini benar-benar terjadi. Aku merasa takut, sangat teramat takut kehilanganmu, aku tidak ingin lagi kehilangan dirimu seperti aku kehilangan ayah. Aku tidak ingin meninggalnya ayah terjadi lagi kepadamu, aku tidak mampu melihat jenazahnya, aku tidak mampu melihat wajahnya, akupun tidak tahu dimana ia dimakamkan, aku tidak ingin mengalaminya lagi bu, ibu bertahanlah, jaga dirimu, jaga kesehatanmu. Tunggu, tunggu aku janji akan membahagiakanmu suatu hari nanti dimulai dari hari ini. Apa yang aku lakukan disini semua karena Allah dan semua untukmu Ibu. Ibu aku disini selalu merindukanmu. I Love U
 (Sepenggal surat rindu untuk ibunda Ehot Setiawati dan ayahanda (Alm) Yoyo Mulyana)



Asrama, 20 Oktober 2012
Di Jendela penuh inspirasi.


Kiki Rizqi Januar

2 komentar: