Minggu
lalu genap enam bulan saya menjadi PRADANA ambalan Prabuwangi (Waktu setahun
lalu). Ada yang bilang "baru" enam bulan. Ada yang bilang
"sudah" enam bulan.Betapa relatifnya waktu.
Selama
enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang sudah
berjanji kepada diri sendiri: Selama menjadi seorang Pradana, saya tidak akan
mengurus apa pun kecuali Ambalan (Pengecualian pendidikan akademik tetap di
seimbangkan dan di nomer satukan).
Tidak
akan pergi ke mana pun kecuali urusan Ambalan. Tidak akan bicara apa pun
kecuali soal pramuka dan Ambalan. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan
saya bisa dua-tiga kali ikut menonton futsal temen-temanku, ya sekedar nonton
tidak ikut bermain,hehe, selama enam bulan di Ambalan ini, saya tidak ke
mana-mana.
Untuk
itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus berbagai
organisasi yang saya ikuti sebelumnya. Selama enam bulan tersebut, saya tidak
bisa sering-sering menghadiri acara keluarga, dan pesta ulang tahun teman-teman
dekat. Apalagi rapat-rapat organisasi.
Saya
memang masih tercatat sebagai bendahara 1 di Ikatan Remaja Masjid Nurul Ihsan
(IRMA), Koordinator Satuan Lalu Lintas Patroli Keamanan Sekolah (PKS) tapi saya
serasa jadi anggota, hehe, PASKIBRA satuan SMAN 2 Ciamis, anggota Pasukan
Pengawal 0907 (PASWAL), dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, banyak sekali
rapat yang tidak bisa saya hadiri.
Menjelang
enam bulan di Ambalan, berat badan saya tidak pernah naik! Oh, rupanya saya
terlalu banyak bergerak. Dari kelas ke rupram. Dan dari rupram ke rumah atau ke
berbagai tempat yang erat kaitannya dengan pramuka. Siang dan malam. Itu tentu
tidak baik.
Hmm,
rasanya badan ini semakin tampak kurus saja, seperti tulang tak berbalut
daging,ini jelas tidak baik, dan harus segera diperbaiki, ketika sedang
berpikir bagaimana menggemukan badan saya ini, saya teringat buku cara
penggemukan sapi potong, ah pikirku dalam senyum kecil, masa saya disamakan
dengan sapi potong. Akhirnya lebih berpikir realistis, dan kupuskan membeli
susu sapi saja, eh ternyata susu murni susah sekali di dapat, ya geser lagi
deh, saya beli saja susu L-Men yang kaya akan protein. Gaya nyah selangit,
harganyapun walah gak,gak,gak kuat. Tak apalah berkorban demi badan yang makin
begang.
Hasilnya:
selama satu bulan itu, berat badan sudah naik 1 kg. Masih punya utang 7 kg
lagi. Mula-mula, berjalan lancar selama beberapa bulan, lama-lama kagak nahan
sama harga susunya itu loeh, hhmm Betapa relatifnya harga.
Enak
juga sudah di ruang pramuka. Kini, menjadi pemandangan biasa pada pukul 14.30
sudah banyak orang di sekitaran ruang pramuka, ya mereka adalah anggota pramuka
yang ingin berbagi cerita. Demikian juga beberapa Dewan Ambalan dan rekan-rekan
yang sudah siap untuk mendengar keluh kesah adek-adek kelas anggota pramuka.
Selama
enam bulan itu, saya lebih dari dua kali menangis. Beberapa kali di ruang
pramuka, sekali di pelataran masjid, sekali di Aula bawah, sekali di dekat
ruang wakasek, tepatnya ketika tekanan dirasa begitu berat, sekali di hadapan
adek-adek di kelas X-4, tepatnya ketika saya benar-benar marah tanpa ampun,
cerita lucunya saya marah di seluruh ruang kelas X, haha. Kadang memang begitu
sulit mencari jalan cepat untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu
sulit untuk dipecahkan.
Tapi,
tidak berarti hari-hari saya di Ambalan adalah hari-hari yang sedih. Ribuan
kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat pramuka dan pelataran masjid menjadi
tempat hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari
para pramuka. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan jenakanya.
Di
mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal
Ambalan SMAN 2 Ciamis. Orang-orang di ambalan itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu
semua persoalan yang dihadapi Ambalan dan bahkan tahu juga bagaimana cara
menyelesaikannya.
Yang
tidak ada pada mereka adalah muara.haha
Begitu
banyak Ide yang mengalir, tapi sedikit yang bisa mencapai muara. Kalau toh ada,
muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan kandas. Kini, di ruang
pramuka tersebut, semua ide bisa mulai bermuara.
Bahkan,
meminjam iklannya minyak goreng sanco, bisa diminum, mengalir sampai jauh.
Memang,
ruang rapat (rupram) sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang Ambalan itu
setiap hari terlalu sering bersitegang masalah pelajaran, tugas harian,
ulangan, bahkan persoalan personal. Jangan pula harus tegang diruang rapat.
Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide, berbagi makanan, dan
saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat Pramuka bukan lagi sebuah
tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang menyenangkan.
Sebuah
tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya. Betapa Relatifnya
Tempat.
Sedih,
senang, tertawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik jiwa
sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau dibuat sedih
atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa. Betapa
Relatifnya Jiwa.
Rasanya,
selama enam bulan di Ambalan, saya juga jarang duduk di "kursi"
Pradana. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Sejak sebelum di Ambalan.
Setengah liar. Sebab, sebelum di Ambalan, saya hampir tidak pernah membaca
surat masuk, surat undangan kunjungan, surat undangan ulang tahun ambalan lain,
surat pemberitahuan perlombaan, surat undangan rapat Pradana se-Kwaran,
undangan permohonan pengiriman pasukan ke berbagai Saka dan lain-lain, sama
sekali belum pernah, yang pernah paling membaca surat cinta. haha.
Kini,
sebagai Pradana Prabuwangi, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima
surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk kali
pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar pembagian tugas..
Apa
yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan? Harapan?
Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi - sekadar untuk menunjukkan
bahwa saya atasan mereka?
Akhirnya,
saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang sangat jarang
saja. "Mengapa" saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya saya
yang "tahu" persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi
seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat?
Mengapa saya harus memberikan petunjuk seolah-olah saya itu "pabrik
petunjuk"?
Maka,
jangan heran kalau mayoritas lembar tugas tersebut tidak ada tulisannya. Paling
hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca surat itu
(Krani)hehe. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa
yang terbaik yang harus dilakukan.
Bukankah
Dewan Ambalan itu umumnya saringan terbaik dari puluhan anggota pramuka
(se-angkatannya) terbaik di ambalan ini ? Bukankah anggota Pramuka itu,
master-master akademik dan non akademik? Dan ada lebih dari setengah jumlah
anggota pramuka, merupakan orang-orang paling hebat se-angkatannya? Bukankah
mereka sudah sangat berpengalaman - melebihi saya?
Maka,
saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada mereka.
Inilah
sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering diberi arahan
akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi besi.
Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan. Orang yang
terlalu sering diberi "pidato" kelak hanya bisa "minta
petunjuk".
Saya
harus sadar bahwa mayoritas anggota pramuka adalah hasil seleksi dan didikan
terbaik dari ratusan siswa se-angkatannya. Mereka sudah memiliki semuanya:
kecuali kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan
kepada mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan, rasa
tanggung jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang tidak seperti itu, hanyalah
pengecualian.
Semua
itu saya lakukan di lantai rapat ambalan. Bukan di meja kerja Pradana. Karena
itu, saya juga tidak pernah memanggil si A sendirian, Kalau saya lakukan itu,
perasaan saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja sebenarnya.(Kecuali di
luar ruang Pramuka)
Saya
tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak tersebut. Mungkin karena dulu
terlalu sering melihat Senior di ruang pramuka dengan adegan seperti itu. Saya
takut merasa menjadi terlalu berkuasa di ruang ini. Dan menjadikan ruangan ini
terlalu sakral dan begitu menakutkan.
Kedudukan
tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun belum tentu bisa
menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa duduk semestinya. Betapa
Relatifnya Sebuah Kekuasaan.
Lalu,
apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini? Ada yang bilang sudah sangat
banyak: menjalankan PERSAMI dengan baik, menyelesaikan administrasi terkendala
yang sudah begitu lama, menjalankan latihan wajib sampai persami dengan
baik,menyelasikan pertanggung jawaban, menyelesaikan pengambilan kaos dan
syal ambalan, melaksanakan pelantikan anggota, perekrutan anggota yang naik
beberapa persen,mengikuti lomba-lomba, dan memberikan empat piala untuk
sekolah, dan banyak lagi, dan kini sudah bisa mengucapkan selamat tinggal
rupram yang angker, kini rupram tak lagi menjadi tempat yang menakutkan bagi
adek-adek, kini rupram begitu terbuka untuk siapapun yang ingin masuk ke
dalamnya (jujur dulu saya waktu kelas X, betapa takutnya masuk rupram, dan
rasanya menginjak ruprampun waktu semester 2 karena beberapa hal saja, haha,
padahal gak ada sesuatu yang perlu ditakuti di rupram ini).
Tapi,
banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat. Kita sadari
memang tantangan terbesar bukanlah hal-hal di atas, masih banyak tantangan yang
lebih menantang yang harus kita hadapi bersama-sama. Seperti pembentukan Pasus
yang sudah vakum beberapa tahun, Wisata Ambalan, Latihan gabungan, touring
perjalanan laksana, Gladian Pemimpin Sangga (GPS),Mata Cakap, dan mengadakan
Lomba Lintas Medan (L2M) ke 7 se- Jawa Barat dan Jawa Tengah yang sebelumnya
sempat vakum, ini menjadi tantangan terbesar kita, ditengah kepolosan
ketidaktahuan kita semua harus berusaha menyelesaikan tugas dan janji kita
untuk memajukan ambalan. hhm Betapa Relatifnya Kepuasan.
Tasikmalaya,
21 Maret 2012
Di
Gramedia Asia Plaza
Kiki
Rizqi Januar
::
Terinspirasi dari buku dua tangis dan ribuan tawa, catatan ini sedikit banyak
copas dari sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar