Minggu, 03 Juni 2012

Tangis dan Ribuan Tawa


Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi PRADANA ambalan Prabuwangi (Waktu setahun lalu). Ada yang bilang "baru" enam bulan. Ada yang bilang "sudah" enam bulan.Betapa relatifnya waktu.
Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang sudah berjanji kepada diri sendiri: Selama menjadi seorang Pradana, saya tidak akan mengurus apa pun kecuali Ambalan (Pengecualian pendidikan akademik tetap di seimbangkan dan di nomer satukan).

Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan Ambalan. Tidak akan bicara apa pun kecuali soal pramuka dan Ambalan. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan saya bisa dua-tiga kali ikut menonton futsal temen-temanku, ya sekedar nonton tidak ikut bermain,hehe, selama enam bulan di Ambalan ini, saya tidak ke mana-mana.

Untuk itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus berbagai organisasi yang saya ikuti sebelumnya. Selama enam bulan tersebut, saya tidak bisa sering-sering menghadiri acara keluarga, dan pesta ulang tahun teman-teman dekat. Apalagi rapat-rapat organisasi.

Saya memang masih tercatat sebagai bendahara 1 di Ikatan Remaja Masjid Nurul Ihsan (IRMA), Koordinator Satuan Lalu Lintas Patroli Keamanan Sekolah (PKS) tapi saya serasa jadi anggota, hehe, PASKIBRA satuan SMAN 2 Ciamis, anggota Pasukan Pengawal 0907 (PASWAL), dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, banyak sekali rapat yang tidak bisa saya hadiri.

Menjelang enam bulan di Ambalan, berat badan saya tidak pernah naik! Oh, rupanya saya terlalu banyak bergerak. Dari kelas ke rupram. Dan dari rupram ke rumah atau ke berbagai tempat yang erat kaitannya dengan pramuka. Siang dan malam. Itu tentu tidak baik.

Hmm, rasanya badan ini semakin tampak kurus saja, seperti tulang tak berbalut daging,ini jelas tidak baik, dan harus segera diperbaiki, ketika sedang berpikir bagaimana menggemukan badan saya ini, saya teringat buku cara penggemukan sapi potong, ah pikirku dalam senyum kecil, masa saya disamakan dengan sapi potong. Akhirnya lebih berpikir realistis, dan kupuskan membeli susu sapi saja, eh ternyata susu murni susah sekali di dapat, ya geser lagi deh, saya beli saja susu L-Men yang kaya akan protein. Gaya nyah selangit, harganyapun walah gak,gak,gak kuat. Tak apalah berkorban demi badan yang makin begang.

Hasilnya: selama satu bulan itu, berat badan sudah naik 1 kg. Masih punya utang 7 kg lagi. Mula-mula, berjalan lancar selama beberapa bulan, lama-lama kagak nahan sama harga susunya itu loeh, hhmm Betapa relatifnya harga.

Enak juga sudah di ruang pramuka. Kini, menjadi pemandangan biasa pada pukul 14.30 sudah banyak orang di sekitaran ruang pramuka, ya mereka adalah anggota pramuka yang ingin berbagi cerita. Demikian juga beberapa Dewan Ambalan dan rekan-rekan yang sudah siap untuk mendengar keluh kesah adek-adek kelas anggota pramuka.

Selama enam bulan itu, saya lebih dari dua kali menangis. Beberapa kali di ruang pramuka, sekali di pelataran masjid, sekali di Aula bawah, sekali di dekat ruang wakasek, tepatnya ketika tekanan dirasa begitu berat, sekali di hadapan adek-adek di kelas X-4, tepatnya ketika saya benar-benar marah tanpa ampun, cerita lucunya saya marah di seluruh ruang kelas X, haha. Kadang memang begitu sulit mencari jalan cepat untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk dipecahkan.

Tapi, tidak berarti hari-hari saya di Ambalan adalah hari-hari yang sedih. Ribuan kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat pramuka dan pelataran masjid menjadi tempat hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari para pramuka. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan jenakanya.

Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal Ambalan SMAN 2 Ciamis. Orang-orang di ambalan itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang dihadapi Ambalan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya.

Yang tidak ada pada mereka adalah muara.haha

Begitu banyak Ide yang mengalir, tapi sedikit yang bisa mencapai muara. Kalau toh ada, muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan kandas. Kini, di ruang pramuka tersebut, semua ide bisa mulai bermuara.

Bahkan, meminjam iklannya minyak goreng sanco, bisa diminum, mengalir sampai jauh.
Memang, ruang rapat (rupram) sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang Ambalan itu setiap hari terlalu sering bersitegang masalah pelajaran, tugas harian, ulangan, bahkan persoalan personal. Jangan pula harus tegang diruang rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide, berbagi makanan, dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat Pramuka bukan lagi sebuah tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang menyenangkan.

Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya. Betapa Relatifnya Tempat.
Sedih, senang, tertawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa. Betapa Relatifnya Jiwa.

Rasanya, selama enam bulan di Ambalan, saya juga jarang duduk di "kursi" Pradana. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Sejak sebelum di Ambalan. Setengah liar. Sebab, sebelum di Ambalan, saya hampir tidak pernah membaca surat masuk, surat undangan kunjungan, surat undangan ulang tahun ambalan lain, surat pemberitahuan perlombaan, surat undangan rapat Pradana se-Kwaran, undangan permohonan pengiriman pasukan ke berbagai Saka dan lain-lain, sama sekali belum pernah, yang pernah paling membaca surat cinta. haha.

Kini, sebagai Pradana Prabuwangi, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk kali pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar pembagian tugas..

Apa yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan? Harapan? Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi - sekadar untuk menunjukkan bahwa saya atasan mereka?

Akhirnya, saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang sangat jarang saja. "Mengapa" saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya saya yang "tahu" persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat? Mengapa saya harus memberikan petunjuk seolah-olah saya itu "pabrik petunjuk"?
Maka, jangan heran kalau mayoritas lembar tugas tersebut tidak ada tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca surat itu (Krani)hehe. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa yang terbaik yang harus dilakukan.

Bukankah Dewan Ambalan itu umumnya saringan terbaik dari puluhan anggota pramuka (se-angkatannya) terbaik di ambalan ini ? Bukankah anggota Pramuka itu, master-master akademik dan non akademik? Dan ada lebih dari setengah jumlah anggota pramuka, merupakan orang-orang paling hebat se-angkatannya? Bukankah mereka sudah sangat berpengalaman - melebihi saya?
Maka, saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada mereka.

Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering diberi arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan. Orang yang terlalu sering diberi "pidato" kelak hanya bisa "minta petunjuk".

Saya harus sadar bahwa mayoritas anggota pramuka adalah hasil seleksi dan didikan terbaik dari ratusan siswa se-angkatannya. Mereka sudah memiliki semuanya: kecuali kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan kepada mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan, rasa tanggung jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang tidak seperti itu, hanyalah pengecualian.

Semua itu saya lakukan di lantai rapat ambalan. Bukan di meja kerja Pradana. Karena itu, saya juga tidak pernah memanggil si A sendirian, Kalau saya lakukan itu, perasaan saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja sebenarnya.(Kecuali di luar ruang Pramuka)

Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak tersebut. Mungkin karena dulu terlalu sering melihat Senior di ruang pramuka dengan adegan seperti itu. Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di ruang ini. Dan menjadikan ruangan ini terlalu sakral dan begitu menakutkan.

Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun belum tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa duduk semestinya. Betapa Relatifnya Sebuah Kekuasaan.

Lalu, apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini? Ada yang bilang sudah sangat banyak: menjalankan PERSAMI dengan baik, menyelesaikan administrasi terkendala yang sudah begitu lama, menjalankan latihan wajib sampai persami dengan baik,menyelasikan pertanggung  jawaban, menyelesaikan pengambilan kaos dan syal ambalan, melaksanakan pelantikan anggota, perekrutan anggota yang naik beberapa persen,mengikuti lomba-lomba, dan memberikan empat piala untuk sekolah, dan banyak lagi, dan kini sudah bisa mengucapkan selamat tinggal rupram yang angker, kini rupram tak lagi menjadi tempat yang menakutkan bagi adek-adek, kini rupram begitu terbuka untuk siapapun yang ingin masuk ke dalamnya (jujur dulu saya waktu kelas X, betapa takutnya masuk rupram, dan rasanya menginjak ruprampun waktu semester 2 karena beberapa hal saja, haha, padahal gak ada sesuatu yang perlu ditakuti di rupram ini).

Tapi, banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat. Kita sadari memang tantangan terbesar bukanlah hal-hal di atas, masih banyak tantangan yang lebih menantang yang harus kita hadapi bersama-sama. Seperti pembentukan Pasus yang sudah vakum beberapa tahun, Wisata Ambalan, Latihan gabungan, touring perjalanan laksana, Gladian Pemimpin Sangga (GPS),Mata Cakap, dan mengadakan Lomba Lintas Medan (L2M) ke 7 se- Jawa Barat dan Jawa Tengah yang sebelumnya sempat vakum, ini menjadi tantangan terbesar kita, ditengah kepolosan ketidaktahuan kita semua harus berusaha menyelesaikan tugas dan janji kita untuk memajukan ambalan. hhm Betapa Relatifnya Kepuasan.

Tasikmalaya, 21 Maret 2012
Di Gramedia Asia Plaza

Kiki Rizqi Januar
:: Terinspirasi dari buku dua tangis dan ribuan tawa, catatan ini sedikit banyak copas dari sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar