Catatan Hari Ini

AKU INGIN SEKOLAH

Pengalaman turun desa di sebuah desa kecil selama beberapa kali memberikan pelajaran berharga bagi saya dan rekan-rekan yang terlibat dalam Bidik Misi Turun Desa (BMTD) di Desa Gunung Bunder 1, Kampung Legok Jenang. Sebuah pengalaman baru tentang arti perjuangan. Perjuangan yang tercipta dari kesederhaan dan dari rasa syukur yang tidak pernah berhenti mereka ucapkan dan perjuangan yang tidak pernah mereka banyak keluhkan.

Begitu banyak beban di pundak mereka, begitu banyak permasalahan-permasalahan hidup di benak mereka, tetapi kesederhanaanlah yang membuat mereka masih bertahan.
Saya merasa luar biasa beruntung memiliki kesempatan untuk bisa mengabdi dalam kegiatan sosial Bidik Misi Turun Desa (BMTD). Department Pendidikan Anak-Anak menjadi fokus saya dan beberapa rekan lainnya. Mengajar anak-anak adalah program utama kami di department pendidikan. Jelas kesempatan mengajar ini menjadi pengalaman baru sekaligus menjadi tantangan bagi kami untuk bisa mengarahkan anak-anak yang belum begitu banyak terpengaruh dari dunia luar akan pentingnya pendidikan.

Perjalanan yang dilalui untuk sampai ke Kampung Legok Jenang tidaklah mudah, jalan terjal dan berbatu adalah satu-satunya pilihan yang harus kami pilih. Sulitnya transportasi menyebabkan sangat jarangnya masyarakat bepergian menggunakan kendaraan, kebanyakan masyarakat lebih memilih untuk berjalan kaki belasan hingga puluhan kilometer dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya.

Angkutan umum yang kami gunakan sebagai transportasi kami menuju desa, seolah menjadi benda asing bagi masyarakat desa, terutama anak-anak. Dua jam lebih perjalanan yang kami tempuh dari kampus Institut Pertanian Bogor menuju tempat tujuan. Tidak begitu lama memang, namun ironis di tengah megahnya kehidupan sekitar kampus masih terdapat desa yang cukup tertinggal.

Pelajaran yang kami ajarkan bukanlah pelajaran akademik semata, melainkan pelajaran berbasis kesosialan, dimana anak-anak kami ajak untuk memahami dan mengerti akan pentingnya sebuah cita-cita dan mimpi sehingga mereka bisa memulai merangkai setiap mimpi-mimpi mereka sedari dini hingga output yang kami harapkan dapat tercapai, yaitu anak-anak akan memiliki cita-cita untuk menggapai asa mereka suatu hari nanti. Tentunya dengan pola pengajaran yang disesuaikan.

Reyhan, Hafid, dan Ucu adalah murid kesayangan saya. Ucu sudah duduk di kelas V Sekolah Dasar, Hafid duduk di kelas IV, sedangkan Reyhan menginjak TK-pun belum. Sungguh Reyhan ini lucu sekali, mungkin menjadi murid termuda di kelas yang saya ajar. Lain lagi dengan Hafid, seorang bocah yang bercita-cita menjadi seorang Ustadz, ia begitu antusias sekali untuk belajar, ia tidak pernah mau kalah dengan teman-temannya, dek Hafid dengan beraninya maju kedepan kelas untuk mengajukan diri menjadi seorang pemimpin (KM), bahkan ketika pertama kali kendaraan kami sampai di kampung tersebut-pun de Hafid dengan sendirinya membantu kami membawa papan tulis yang ukurannya lebih besar dari badannya sendiri, dijinjing dan sesekali di seret itu papan hingga sampai di sebuah gubuk bilik berukuran 3 x 5 meter, berteraskan tanah yang menjadi tempat saya dan rekan-rekan mengajar mereka.

Tumpukan serutan bambu yang menumpuk di bagian depan gubuk kami jadikan sebagai alas untuk papan tulis agar posisinya sedikit lebih tinggi dari anak-anak yang duduk rapi di dalam gubuk kecil penuh semangat ini.

Dan yang ketiga salah satu murid favoriit saya di kampung Legok Jenang ini adalah Ucu. Umurnya mungkin baru 11 tahun. Ayahnya bekerja sebagai seorang pengrajin bilik tradisional dan ibunya hanya menjadi ibu rumah tangga, yang tidak jarang juga membantu bapak ketika membuat bilik. Mereka tinggal dalam sebuah rumah kecil yang gubuknya kami pinjam untuk dijadikan tempat mengajar kami. Saat itu Ucu yang masih duduk di kelas V Sekolah Dasar sedang sakit, sudah hampir satu bulan ia tidak sekolah karena pusing yang sering dideritanya. Sembari mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca dek Ucu bercerita tentang keinginannya untuk bisa sekolah lagi dan sembuh dari penyakit yang dideritanya ini, entah penyakit apa Ucu tidak mengetahuinya. Ia hanya bisa makan bubur dan tidak diperbolehkan makan makanan lain selain yang telah disarankan. Meskipun tidak sekolah, Ucu memiliki semangat yang sangat besar dalam belajar, ia bercerita bahwa setiap hari ia belajar dengan cara meminjam buku temannya yang sekolah. Ucu memiliki potensi besar untuk berkembang. Ia berkemauan keras, rajin, tidak mudah menyerah, cerdas, dan memiliki optimisme yang tinggi akan masa depan pendidikannya. Walaupun keadaan ekonominya tidak mampu menjamin keberlanjutan pendidikannya hingga sampai ke perguruan tinggi, Ucu sempat bercerita dengan suaranya yang lemah bahwa ia akan terus berusaha untuk bisa menempuh pendidikan hingga Sekolah Menengah Atas, sedangkan ketika ia ditanya bagaimana dengan kuliah, Ucu hanya menggeleng dan menjawab tidak tahu.

Sejenak saya tidak bisa berkata apa-apa, hanya merenung dengan penuh rasa malu, berkaca-kaca dan tidak lagi mampu membendung air mata hingga menetes dihapannya. Sungguh betapa tidak bersyukurnya saya akan rejeki yang telah Tuhan beri. Dengan beasiswa Bidikmisi saya bisa mendapat pendidikan gratis di sebuah Perguruan Tinggi Negeri ternama di Negeri ini, dan hari itu dihadapan saya seorang anak Sekolah Dasar meneteskan air matanya mengharap ia bisa menggapai asa untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Teruntuk seluruh teman yang saat ini berjuang dalam kesulitan, bertahan dalam ketiadaan, dan berharap dalam mimpi-mimpi yang tidak pasti. Teruskanlah, teruskanlah mimpi-mimpi itu karena saya yakin kita semua mampu bertahan dan saya yakin kita semua dapat menggapai setiap mimpi-mimpi yang kita gantung selama ini suatu saat nanti.

Abdikan diri untuk Negeri . Bidikmisi IPB mengabdi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar