Rabu, 10 Oktober 2012

Ambigu, entahlah...


Darimana harus memulai aku pun tidak tahu, hanya jemari jemari inilah yang menuntunku untuk terus merangkai kata demi kata hingga menjadi sebuah kalimat yang menggambarkan apa-apa yang ada di pikiranku saat ini. Sejenak berhenti,  dan sejenak berpikir , memikirkan apa yang akan aku goreskan disini.

Senyap sudah, semua yang hidup kini tersungkur. Tak banyak yang tersisa, hanya mereka yang masih dibebani aktivitaslah yang masih bisa bertahan. Semua terasa aneh, ada hal berbeda ketika malam benar-benar telah larut. 

Ku pandangi langit lewat jendela kamar. Aneh,gelap tanpa sinar rembulan atau bintang bahkan sinar bias yang biasanya nampak kini tak lagi terlihat. 

Lemah..

Mengapa aku bisa menjadi lemah seperti ini, kemanakah jiwa mudaku yang selalu menggelora dahulu?, sudah termakan usiakah?, atau apa?. Dalam pemikiran panjangku, aku masih belum bisa menemukan jawabannya, jawaban atas pertanyaan yang seharusnya aku bisa menjawabnya sendiri. Tapi mengapa..Mengapa aku harus selalu bertanya pada alam, alam yang tak pernah mampu berbicara, alam yang hanya mampu memberi tanda saja.. Mengapa?

Tuhan...

Dalam kegamangan aku hanya merenung dan berdoa, bercerita banyak hal tentang jiwa hanya pada-Mu Rabb, hanya pada-Mu, aku ingin bercerita tapi entah kepada siapa lagi selain kepada-Mu, jika ada disekelilingku orang yang kau tunjuk untuk menemaniku dan mendengar ceritaku, pertemukanlah aku dengannya Rabb.. 

Inilah sekelumit rangkaian kata ambigu yang akan selalu membuatku berpikir tentang cara bagaimana Tuhan sebegitu hebat dan kompleksnya mengatur hidup diriku dan alam semesta ini..
Kamu yang mengerti akan memahami apa yang terjadi, dan kamu yang hanya termenung tak mengerti maksud yang aku sampaikan disini akan berpikir tentang kekacauan sebuah sistem dalam diriku.. 

Percayalah kata-kata ambigu itu luar biasa, dan aku suka!!!!
Tak banyak orang yang memahami dan hanya diri kitalah yang tahu makna dari kata-kata ambigu itu sendiri...


Selasa, 09 Oktober 2012

Inspirasi dalam kebisuan

Terlalu sering aku termenung dalam kesendirian yang tak memiliki arti. Sore ini dalam kegamangan hati, aku ingin bercerita kepada alam di hadapanku. Ada banyak hal yang ingin aku ulangi, ada banyak cerita yang ingin aku putar kembali, namun semua ini hanyalah mimpi yang tak akan mungkin terjadi.

Alam dengarlah ceritaku, saat ini aku mungkin hanya bisa diam dalam segala persoalan. Menumpuk segala permasalahan, menutup diri dari dunia luar, bahkan dari orang-orang terdekat sekalipun. Dan ini bukanlah diriku.

Inikah perubahan yang orang perbincangkan, apakah ini diriku?

Laksana daun kering yang terlepas dari tangkainya, terbang melayang-layang tanpa arah yang jelas, mengikuti kemana saja angin membawanya melayang, menyerah, menyerah dan menyerah dalam kepasrahan dirinya.

Aku tak ingin seperti itu, aku tak ingin menjadi daun yang lemah, aku ingin menjadi batang yang kuat, memiliki pendirian, pembuat keputusan yang bijak, dan hanya mengiblatkan dirinya pada satu arah.

Alam terimakasih telah memberiku inspirasi dalam kebisuan yang kau tampakan, memberiku banyak pelajaran dari setiap gerak lembut yang kau perlihatkan. Kau masih mampu membuat diriku terperanjat untuk memahami kenyataan hidup...




Bogor, 09 Oktober 2012.
di Asrama TPB IPB, hutan hijau yang mengagumkan...

Rabu, 03 Oktober 2012

Senyum Anak Desa, Sebuah Potret Realita Sosial Suara Kampung Tertinggal

Masalah anak-anak desa, bukan sesuatu yang baru untuk dikaji. Masih banyak anak putus sekolah bahkan menginjak sekolahpun belum, dari desa hingga kota banyak kita jumpai diantara mereka yang hanya bisa menjadi tukang, tukang sapu, tukang kebun, pengamen, bahkan sudah dijadikan pekerja di bawah umur . Hal ini mereka lakukan untuk memperjuangkan hidup, mereka seakan melupakan hak mereka sebagai seorang anak. Semakin banyak anak desa yang akhirnya hanya bisa membantu orang tuanya bekerja di ladang atau sekedar mencari rumput untuk ternak-ternak mereka.

Ironis sekali memang, banyaknya anak putus sekolah dianggap sebagai sesuatu yang sudah lumrah. Fenomena anak desa putus sekolah, tidak mengerti baca tulis ini seakan sudah menjadi sahabat karib dari apa yang disebut kemiskinan. 

Ada sebuah cerita yang luar biasa tentang perjuangan seorang bocah Sekolah Dasar, begitu tinggi semangatnya untuk bisa sekolah, keadaan ekonomi yang begitu sulit tidak membuat dirinya surut langkah dalam meraih asa. Ketika hendak masuk sekolah, seragamnya sudah tidak lagi cukup, si anak meminta pada orang tua nya untuk dibelikan seragam baru, karena keadaan ekonomi sang ibu dan ayah yang hanya menjadi seorang petani dengan penghasilan yang tak menentu ia tidak mendapatkan seragam baru dari orang tuanya. Sekolah tinggal berapa hari lagi, si anak terus dan terus berusaha untuk bisa mendapatkan seragam baru untuk dirinya bersekolah, higga akhirnya sang anak yang tinggal di sebuah desa keci di dekat kemegahan kota memutuskan untuk menemui pak RT di kampungnya dan menceritakan masalah dan keinginannya untuk memiliki seragam untuk dipakainya sekolah. Beruntunglah sang anak, karena pak RT di kampungnya itu begitu baik, singkat cerita si anak diberilah seragam bekas anaknya. Setelah seragam di dapat si anak masih kebingungan untuk bisa mendapatkan alat-alat tulis, ia tak mau menyerah, ia berjalan dan terus berjalan hingga dipertemukanlah ia dengan salah seorang ibu di desa itu, dan sang anak kembali menceritakan keinginannya pada ibu yang di temuinya itu, hingga akhirnya sang ibu ingin memberikan uang kepada sang anak. Luar biasa sang anak tidak ingin menerima uang itu, sang anak hanya ingin diberi buku dan alat tulis lainnya. Ibu itupun begitu terharu mendengar keinginan sang anak untuk bisa sekolah di saat anak-anak desa yang lain sudah menyerah dan memilih mengikuti jejak orangtua-orangtua mereka menjadi petani. Inilah kisah nyata seorang anak desa kampung Legok Jenang, desa Gunung Bunder 1.
Demi mimpi, harapan, dan cita-cita, dengan semangat luar biasa menjalani realita hidup yang demikian, apa tidak ada jalan lain? jalan yang mampu mengembalikan hak belajar mereka, hak istirahat mereka di rumah yang selama ini dirampas oleh kerasnya kehidupan demi mempertahankan. (terinspirasi dari tulisan kak evni seorang aktivis pemerhati anak).

Bidik Misi Turun Desa IPB mengabdi untuk negeri, memberi pengajaran pada anak-anak desa Gunung Bunder 1, kampung Legok Jenang.(30/09/2012)
Gambar : 30 September 2012 Anak-anak kp. Legok Jenang desa Gunung Bunder 1 (doc. PDD Bidik Misi Turun Desa)