Sore ini aku tertegun di bawah bangunan megah, berdiri di
depanku sebuah pohon rimbun. Sekeliat memejamkan mata, sekeliat membukanya
kembali. Dan hari ini sungguh luar biasa Allah begitu menyayangiku. Memberiku
pelajaran lewat seorang anak yang nampak berjalan mendekat, membawa setumpuk
sampah botol dalam karung yang ukurannya jauh lebih besar dari badannya sendiri.
Hari ini aku disadarkan oleh nya. Bahwa aku tak sepantasnya menikmati kehidupan
ini sendiri. Masih banyak orang yang tidak bisa menikmati masa santai seperti
ku saat ini. Angin berhembus begitu kencang seolah memberi semangat pada sang
bocah. Buah asam berjatuhan ke tanah, sesekali jatuh di atas kap mobil yang di
parkir di bawah rindangnya pohon.
Memberi suara yang khas. Entah lucu bagi diriku sendiri atau membuat
marah yang empunya mobil.
Entah karena iba atau apa, aku coba untuk meberanikan diri.
Menyapa dan bingung apa yang mau aku katakan. Aku seolah kehabisan kata,
menatap raut wajah nya yang nampak begitu lelah. Senyum kecil merekah dari
bibirnya, setelah itu ia hanya menatapku bingung. Ada banyak yang ingin aku
tanyakan tapi bibir ini sepertinya sudah terkunci begitu kuatnya.
“Dek, kelas berapa?”.
“Kelas dua kak”
Hanya itu pecakapan yang terjadi di antara kami. Selembar
uang yang ada di saku depan kemejaku aku berikan saja padanya. Entah apa yang
membuatku seolah membisu.
“Terimakasih kak”. Masih tampak bingung. Dia pun beranjak
meninggalkanku, menyeret sekarung sampah yang begitu besar. Aku sesekali ingin
memakinya. Aku ingin berkata bahwa tidak seharusnya kamu melakukan itu semua.
Aku ingin sekali berteriak di depannya. Apa yang kamu bawa itu tidak sebanding
dengan badanmu sendiri, apa yang kau panggul itu lebih pantas untuk menjadi
tempat bermain anak-anak seusiamu bahkan bisa dipakai untuk tiga orang dengan
ukuran badan sepertimu. Aku ingin memarahinya. Kemana Ibumu? Ayahmu? atau saudaramu
yang lain, dimana mereka? Aku sangat kesal hari itu.
Memang emosi jiwaku seolah hanya jeritan biasa. Jika aku
utarakanpun hanya akan menjadi bahan tertawaan bagi yang mendengar, atau
menjadi beban bagi dia yang aku maki. Aku tahu dia bekerja seperti itu mungkin
karena suatu hal. Tapi bagiku, aku sangat tidak tegak melihatnya seperti
itu. Kamu masih harus bermain di usiamu
yang sangat belia itu. Biarlah ketirnya hidup tidak dulu untuk kamu rasakan.
Kamu masih perlu bermain, mencari kesenangan bersama teman sebayamu tanpa harus
memiliki beban hidup. Inikah potret buram negeri ini.
Aku hanya sedih karena dia mengantarkanku pada ingatan
beberapa tahun lalu. Tatkala aku tidak bisa merasakan kebahagian masa
kanak-kanak ku. Sangat menyedihkan, sangat menyakitkan untuk di kenang. Ada
banyak keinginan yang tidak mampu di wujudkan, ada banyak harapan yang tidak
bisa di kabulkan. Ada banyak hal yang tidak aku alami seperti apa yang
teman-teman sebayaku alami. Aku hanya miris hal serupa meninta pada dia, Bocah
yang masih sangat bocah telah harus menanggung beban yang tidak seharusnya dia
panggul. Aku bersyukur Allah masih memberiku kesempatan luar biasa jauh dari
apa yang aku impikan. Allah telah memberiku jalan di antara bentangan benteng
yang menghadang. Dan aku masih sangat bersyukur karena hidupku ternyata lebih
indah daripada mereka yang berkeliaran di jalanan. Bersama sang mentari yang
membakar kulit. Ya, mereka pejuang hidup yang tidak bisa untuk kita remehkan.
Hidup memang perjuangan, tapi tidak selayaknya untuk di jadikan alasan mereka
harus bertahan dengan cara seperti itu.
Aku percaya kamu akan menjadi orang yang luarbiasa dan tidak
akan pernah sama dengan mereka yang tidak pernah tahu getirnya kehidupan. Semoga
Allah selalu melindungimu dek.
Salam cinta dari ku,
Calon sarjana muda Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Februari 2013
KIKI RIZQI JANUAR