Jumat, 01 Maret 2013

Bersama sang mentari yang membakar kulit.


Sore ini aku tertegun di bawah bangunan megah, berdiri di depanku sebuah pohon rimbun. Sekeliat memejamkan mata, sekeliat membukanya kembali. Dan hari ini sungguh luar biasa Allah begitu menyayangiku. Memberiku pelajaran lewat seorang anak yang nampak berjalan mendekat, membawa setumpuk sampah botol dalam karung yang ukurannya jauh lebih besar dari badannya sendiri. Hari ini aku disadarkan oleh nya. Bahwa aku tak sepantasnya menikmati kehidupan ini sendiri. Masih banyak orang yang tidak bisa menikmati masa santai seperti ku saat ini. Angin berhembus begitu kencang seolah memberi semangat pada sang bocah. Buah asam berjatuhan ke tanah, sesekali jatuh di atas kap mobil yang di parkir di bawah rindangnya pohon.  Memberi suara yang khas. Entah lucu bagi diriku sendiri atau membuat marah yang empunya mobil.

Entah karena iba atau apa, aku coba untuk meberanikan diri. Menyapa dan bingung apa yang mau aku katakan. Aku seolah kehabisan kata, menatap raut wajah nya yang nampak begitu lelah. Senyum kecil merekah dari bibirnya, setelah itu ia hanya menatapku bingung. Ada banyak yang ingin aku tanyakan tapi bibir ini sepertinya sudah terkunci begitu kuatnya. 

“Dek, kelas berapa?”. 

“Kelas dua kak”

Hanya itu pecakapan yang terjadi di antara kami. Selembar uang yang ada di saku depan kemejaku aku berikan saja padanya. Entah apa yang membuatku seolah membisu.

“Terimakasih kak”. Masih tampak bingung. Dia pun beranjak meninggalkanku, menyeret sekarung sampah yang begitu besar. Aku sesekali ingin memakinya. Aku ingin berkata bahwa tidak seharusnya kamu melakukan itu semua. Aku ingin sekali berteriak di depannya. Apa yang kamu bawa itu tidak sebanding dengan badanmu sendiri, apa yang kau panggul itu lebih pantas untuk menjadi tempat bermain anak-anak seusiamu bahkan bisa dipakai untuk tiga orang dengan ukuran badan sepertimu. Aku ingin memarahinya. Kemana Ibumu? Ayahmu? atau saudaramu yang lain, dimana mereka? Aku sangat kesal hari itu. 

Memang emosi jiwaku seolah hanya jeritan biasa. Jika aku utarakanpun hanya akan menjadi bahan tertawaan bagi yang mendengar, atau menjadi beban bagi dia yang aku maki. Aku tahu dia bekerja seperti itu mungkin karena suatu hal. Tapi bagiku, aku sangat tidak tegak melihatnya seperti itu.  Kamu masih harus bermain di usiamu yang sangat belia itu. Biarlah ketirnya hidup tidak dulu untuk kamu rasakan. Kamu masih perlu bermain, mencari kesenangan bersama teman sebayamu tanpa harus memiliki beban hidup. Inikah potret buram negeri ini. 

Aku hanya sedih karena dia mengantarkanku pada ingatan beberapa tahun lalu. Tatkala aku tidak bisa merasakan kebahagian masa kanak-kanak ku. Sangat menyedihkan, sangat menyakitkan untuk di kenang. Ada banyak keinginan yang tidak mampu di wujudkan, ada banyak harapan yang tidak bisa di kabulkan. Ada banyak hal yang tidak aku alami seperti apa yang teman-teman sebayaku alami. Aku hanya miris hal serupa meninta pada dia, Bocah yang masih sangat bocah telah harus menanggung beban yang tidak seharusnya dia panggul. Aku bersyukur Allah masih memberiku kesempatan luar biasa jauh dari apa yang aku impikan. Allah telah memberiku jalan di antara bentangan benteng yang menghadang. Dan aku masih sangat bersyukur karena hidupku ternyata lebih indah daripada mereka yang berkeliaran di jalanan. Bersama sang mentari yang membakar kulit. Ya, mereka pejuang hidup yang tidak bisa untuk kita remehkan. Hidup memang perjuangan, tapi tidak selayaknya untuk di jadikan alasan mereka harus bertahan dengan cara seperti itu.

Aku percaya kamu akan menjadi orang yang luarbiasa dan tidak akan pernah sama dengan mereka yang tidak pernah tahu getirnya kehidupan. Semoga Allah selalu melindungimu dek. 


Salam cinta dari ku,
Calon sarjana muda Institut Pertanian Bogor.
Bogor,  Februari 2013 



KIKI RIZQI JANUAR