Setapak demi setapak melaju nan
memburu, lalu terhenti di sudut waktu, terdiam menatap jejak langkah yang kian
menjauh (Amhari).
*****
Sudah beberapa hari ini aku seperti orang yang tidak memikirkan kesehatan. Padahal aku sendiri tahu
bahwa Tuhan sangat tidak menyukai hamba-Nya yang seperti ini. Mungkin banyak
orang akan bertanya mengapa aku seperti ini. Tak cukup alasan untuk diriku
menjelaskan semua ini.
Menembus
malam hingga pagi menjelang, menahan kantuk yang luar biasa menyerang. Aku
hanya sedang mencoba, aku tidak ingin memberi kekecewaan pada mereka yang telah
meberikanku kesempatan berada disini. Aku hanya tidak ingin menyesal di suatu
hari nanti.
Bertahan
di atas dipan, membuka lembar demi lembar kertas yang sebenarnya tidak begitu
aku paham. Jenuh, memang sangat menjenuhkan. Sesekali meneguk air hangat,
sesekali mengunyah cemilan, mengisi perut yang mulai memberi isyarat.
*****
Orang
boleh mengatakan diriku bodoh. Orang
boleh mengatakan apapun kepada diriku, karena apapun yang mereka katakan hanya
diriku sendiri-lah yang tahu.
Bagi
mereka yang datang kesini tanpa sebuah beban apapun, hanya sebatas tuntutan, mungkin tidak terlalu
peduli dengan sebuah hasil, yang terpenting lulus. Andai aku seperti itu, dan andai aku
melakukan hal itu. Sungguh teganya diriku, ada banyak orang yang mungkin akan
terlukai. Ada banyak orang yang mungkin akan sangat kecewa kepada-ku.
*****
Mengulas
catatan perjalanan ku sebelumnya, sudah aku katakan bahwa aku memang tidak
begitu unggul dalam urusan akademik. Maka dari itu mengapa aku harus lebih
ekstra dari mereka. Bagi mereka mungkin pelajaran A tidaklah perlu terlalu di
pelajari, tetapi bagi diriku menjadi lain ceritanya. Mereka bisa memahami
sebuah materi hanya dalam satu jam, tapi bagi diriku itu akan memakan waktu
hingga berjam-jam.
Pukul
02.36 dan aku masih belum memahami. Sesekali aku tengok sahabat-sahabat terbaik
ku,melihat mereka begitu terlelap dalam tidur aku hanya bisa tersenyum.
Aku
sangat yakin pagi ini bukan hanya aku yang masih belum memejamkan mata, mungkin
di kamar yang lainpun ada banyak orang yang mengalami permasalahan yang sama.
Apa yang aku rasa tidak lah seberat beban yang orang lain rasakan.
*****
Aku
hanya tidak ingin mengecewakan mereka, mereka yang telah membiayaiku, mereka
yang telah memberi kesempatan berharga ini kepadaku, mereka yang benar-benar
berjasa dalam perjalanan hidupku.
Teruntuk
ibu, aku tahu beliau mungkin tidak akan mengerti apa itu IP dan IPK, ya maklum-lah hanya lulusan Sekolah Dasar. Aku
bercerita panjang lebar-pun mungkin tanggapan nya akan lain. Beliau juga dari
dulu tidak pernah menuntutku untuk harus mendapatkan nilai sempurna atau
apalah. Tapi karena beliaulah aku harus bisa membuktikan bahwa aku bisa.
Setidaknya sedikit kabar gembira akan membuatnya tersenyum bahagia.
Lebih
dari itu, sebenarnya akulah yang
menuntut diriku sendiri . Aku yang ingin membuat kakak –ku bangga, aku ingin membuatnya berkata. “ Ya,
kakak tidak sia-sia bekerja keras untuk bisa membiayaimu sampai ke perguruan
tinggi”. Walaupun hal itu masih sangat jauh, tapi suatu hari aku akan
mewujudkannya.
Aku
sangat ingin mengucapkan rasa terimakasihku yang sangat teramat kepadanya.
Namun, aku belum mampu, aku belum berani mengatakan hal itu. Aku tidak dapat
membayangkan seandainya kakak-ku tidak membiayaiku dari SMP hingga sekarang.
Entah aku sedang berada dimana dan sedang melakukan apa. Ya , kakak ku memang
menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga setelah ayahanda tercinta di
panggil Maha Pencipta.
Aku
masih ingat ketika masih duduk di kelas dua SMP, ketika uang bulanan yang
diberikan kakak hanya cukup untuk tranportasiku dari rumah ke sekolah, dan
tidak sama sekali cukup untuk membeli hal-hal yang ingin aku beli. Aku
merengek, aku mengeluh, dan aku marah kepada ibuku. Ibu yang memang tidak
bekerja saat itu hanya bisa menasehatiku untuk bersabar. Ya, aku memang selalu
tidak berani untuk berbicara kepada kakak ku, aku memang tidak pernah berani
untuk meminta uang lebih selain untuk keperluan akademik ku. Aku tahu bebannya
sudah terlalu banyak, beliau harus membiayai istri dan anaknya, menanggung
beban ibuku, dan juga beliau harus menanggung biaya ketiga adik nya yang masih
menempuh pendidikan. Aku hanya bisa meluapkan segala emosiku kepada ibu,
tidak ada lagi selain ibu.
Sering
aku membuat ibu menangis karena keluhanku, sering aku membuatnya merasa sangat
sedih karena tidak bisa memenuhi keinginanku, dan sering aku membuatnya sakit
karena memikirkan cara agar bisa memenuhi kebutuhanku.
*****
Suatu
hari ketika kakak ku berada di rumah, sempat aku mengumpulkan keberanian untuk
berbicara dengannya. “Kak kapan ya adek punya motor sendiri, teman-teman yang
lain sudah pada bawa motor bahkan mobil kak?”. “Ya kan kamu tinggal numpang
saja sama teman-temanmu, kamu pikir cari uang itu gampang, kalau kamu mau
motor, sekarangpun kakak bisa belikan kamu motor tapi jangan harap kamu bisa
makan, terlalu banyak pengeluaran kakak, kalau kamu kira nyari uang itu mudah,
besok kamu tidak usah sekolah ikut kakak bekerja”.
Dan.....
Sudahlah,
tidak ada kalimat-kalimat yang mampu aku untai lagi. Aku hanya merunduk malu. Sejak itu pula aku berjanji, “Tidak
menjadi masalah bagiku tidak di beri apapun. Tapi ijinkan aku untuk tetap
menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi”.
Inilah
yang selalu aku ingat hingga sekarang, enam tahun yang penuh dengan perjuangan.
Enam tahun yang didera beban pikiran. Enam tahun yang dipenuhi
keinginan-keinginan yang tidak tercapai, dan enam tahun yang telah memberi nilai-nilai kehidupan. Tentang
arti perjungan, arti kesabaran, dan arti rasa kasih dan cinta dari seorang kakak
yang tidak selalu harus di ungkapkan
melalui kata-kata.
28
Juni 2012 tunai sudah janjimu kepadaku kak. Terimakasih banyak telah
menghantarkan adek bungsumu ini ke gerbang masa depan. Disini tinggal aku sendiri
yang menentukan. Sekali lagi, akulah yang menentukan, bukan dia, bukan mereka,
atau siapapun, tapi akulah yang menentukan, akulah yang menentukan jalanku.
Asrama,
16 November 2012
KIKI
RIZQI J
#
Semoga empat tahun lagi atau kurang dari itu aku bisa membahagiakanmu beserta
keluarga.
