Jumat, 16 November 2012

Tunai Sudah

Setapak demi setapak melaju nan memburu, lalu terhenti di sudut waktu, terdiam menatap jejak langkah yang kian menjauh (Amhari).

*****

Sudah beberapa hari ini aku seperti orang yang tidak memikirkan kesehatan. Padahal aku sendiri tahu bahwa Tuhan sangat tidak menyukai hamba-Nya yang seperti ini. Mungkin banyak orang akan bertanya mengapa aku seperti ini. Tak cukup alasan untuk diriku menjelaskan semua ini.

Menembus malam hingga pagi menjelang, menahan kantuk yang luar biasa menyerang. Aku hanya sedang mencoba, aku tidak ingin memberi kekecewaan pada mereka yang telah meberikanku kesempatan berada disini. Aku hanya tidak ingin menyesal di suatu hari nanti.

Bertahan di atas dipan, membuka lembar demi lembar kertas yang sebenarnya tidak begitu aku paham. Jenuh, memang sangat menjenuhkan. Sesekali meneguk air hangat, sesekali mengunyah cemilan, mengisi perut yang mulai memberi isyarat.

*****

Orang boleh mengatakan diriku bodoh. Orang boleh mengatakan apapun kepada diriku, karena apapun yang mereka katakan hanya diriku sendiri-lah yang tahu.

Bagi mereka yang datang kesini tanpa sebuah beban apapun, hanya sebatas tuntutan, mungkin tidak terlalu peduli dengan sebuah hasil, yang terpenting lulus.  Andai aku seperti itu, dan andai aku melakukan hal itu. Sungguh teganya diriku, ada banyak orang yang mungkin akan terlukai. Ada banyak orang yang mungkin akan sangat kecewa kepada-ku.

*****

Mengulas catatan perjalanan ku sebelumnya, sudah aku katakan bahwa aku memang tidak begitu unggul dalam urusan akademik. Maka dari itu mengapa aku harus lebih ekstra dari mereka. Bagi mereka mungkin pelajaran A tidaklah perlu terlalu di pelajari, tetapi bagi diriku menjadi lain ceritanya. Mereka bisa memahami sebuah materi hanya dalam satu jam, tapi bagi diriku itu akan memakan waktu hingga berjam-jam.

Pukul 02.36 dan aku masih belum memahami. Sesekali aku tengok sahabat-sahabat terbaik ku,melihat mereka begitu terlelap dalam tidur aku hanya bisa tersenyum.

Aku sangat yakin pagi ini bukan hanya aku yang masih belum memejamkan mata, mungkin di kamar yang lainpun ada banyak orang yang mengalami permasalahan yang sama. Apa yang aku rasa tidak lah seberat beban yang orang lain rasakan.

*****

Aku hanya tidak ingin mengecewakan mereka, mereka yang telah membiayaiku, mereka yang telah memberi kesempatan berharga ini kepadaku, mereka yang benar-benar berjasa dalam perjalanan hidupku.

Teruntuk ibu, aku tahu beliau mungkin tidak akan mengerti apa itu IP dan IPK,  ya maklum-lah hanya lulusan Sekolah Dasar. Aku bercerita panjang lebar-pun mungkin tanggapan nya akan lain. Beliau juga dari dulu tidak pernah menuntutku untuk harus mendapatkan nilai sempurna atau apalah. Tapi karena beliaulah aku harus bisa membuktikan bahwa aku bisa. Setidaknya sedikit kabar gembira akan membuatnya tersenyum bahagia.

Lebih dari itu, sebenarnya akulah  yang menuntut diriku sendiri . Aku yang ingin membuat kakak –ku  bangga, aku ingin membuatnya berkata. “ Ya, kakak tidak sia-sia bekerja keras untuk bisa membiayaimu sampai ke perguruan tinggi”. Walaupun hal itu masih sangat jauh, tapi suatu hari aku akan mewujudkannya.

Aku sangat ingin mengucapkan rasa terimakasihku yang sangat teramat kepadanya. Namun, aku belum mampu, aku belum berani mengatakan hal itu. Aku tidak dapat membayangkan seandainya kakak-ku tidak membiayaiku dari SMP hingga sekarang. Entah aku sedang berada dimana dan sedang melakukan apa. Ya , kakak ku memang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga setelah ayahanda tercinta di panggil Maha Pencipta.

Aku masih ingat ketika masih duduk di kelas dua SMP, ketika uang bulanan yang diberikan kakak hanya cukup untuk tranportasiku dari rumah ke sekolah, dan tidak sama sekali cukup untuk membeli hal-hal yang ingin aku beli. Aku merengek, aku mengeluh, dan aku marah kepada ibuku. Ibu yang memang tidak bekerja saat itu hanya bisa menasehatiku untuk bersabar. Ya, aku memang selalu tidak berani untuk berbicara kepada kakak ku, aku memang tidak pernah berani untuk meminta uang lebih selain untuk keperluan akademik ku. Aku tahu bebannya sudah terlalu banyak, beliau harus membiayai istri dan anaknya, menanggung beban ibuku, dan juga beliau harus menanggung biaya ketiga adik nya yang masih menempuh pendidikan.  Aku hanya  bisa meluapkan segala emosiku kepada ibu, tidak ada lagi selain ibu.

Sering aku membuat ibu menangis karena keluhanku, sering aku membuatnya merasa sangat sedih karena tidak bisa memenuhi keinginanku, dan sering aku membuatnya sakit karena memikirkan cara agar bisa memenuhi kebutuhanku.

*****

Suatu hari ketika kakak ku berada di rumah, sempat aku mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengannya. “Kak kapan ya adek punya motor sendiri, teman-teman yang lain sudah pada bawa motor bahkan mobil kak?”. “Ya kan kamu tinggal numpang saja sama teman-temanmu, kamu pikir cari uang itu gampang, kalau kamu mau motor, sekarangpun kakak bisa belikan kamu motor tapi jangan harap kamu bisa makan, terlalu banyak pengeluaran kakak, kalau kamu kira nyari uang itu mudah, besok kamu tidak usah sekolah ikut kakak bekerja”.

Dan.....

Sudahlah, tidak ada kalimat-kalimat yang mampu aku untai lagi. Aku hanya merunduk  malu. Sejak itu pula aku berjanji, “Tidak menjadi masalah bagiku tidak di beri apapun. Tapi ijinkan aku untuk tetap menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi”.

Inilah yang selalu aku ingat hingga sekarang, enam tahun yang penuh dengan perjuangan. Enam tahun yang didera beban pikiran. Enam tahun yang dipenuhi keinginan-keinginan yang tidak tercapai, dan enam tahun yang  telah memberi nilai-nilai kehidupan. Tentang arti perjungan, arti kesabaran, dan arti rasa kasih dan cinta dari seorang kakak yang tidak  selalu harus di ungkapkan melalui kata-kata. 

28 Juni 2012 tunai sudah janjimu kepadaku kak. Terimakasih banyak telah menghantarkan adek bungsumu ini ke gerbang masa depan. Disini tinggal aku sendiri yang menentukan. Sekali lagi, akulah yang menentukan, bukan dia, bukan mereka, atau siapapun, tapi akulah yang menentukan, akulah yang menentukan jalanku.


Asrama, 16 November 2012


KIKI RIZQI J
# Semoga empat tahun lagi atau kurang dari itu aku bisa membahagiakanmu beserta keluarga.

Selasa, 06 November 2012

Sepenggal Cerita Aku dan Bidikmisi


Pendidikan dan pengembangan karakter yang dilakukan IPB kepada para mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi telah banyak memberikan manfaat dan kesempatan bagi mahasiswanya untuk menyalurkan segala potensi dalam dirinya. Kesempatan berharga yang didapat para mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi IPB telah menjadi barometer bagi penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan karakter di kampus lain. Tentunya siapa yang tidak merasa bangga mendapat kesempatan berharga yang belum tentu bisa di dapatkan dari program beasiswa lain.

Inilah sepenggal cerita tentang aku dan pendidikan karakter Bidikmisi IPB. Sebuah torehan baru dalam lembar putih perjalanan perjuanganku dan teman-teman untuk bertahan dalam keadaan yang pas-pasan. Merasakan kuliah merupakan sebuah anugerah bagi diriku yang notaben-nya memang bukan orang miskin dan bukan pula orang kaya. Bidikmisi telah memberiku inspirasi dalam banyak hal, bidikmisi telah membawa diriku dan teman-teman lainnya terbawa arus positif yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. 

IPB telah melakukan berbagai upaya untuk memberikan kesempatan luar biasa berharga bagi mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisinya. Salah satunya dengan program pendidikan dan pengembangan karakter. Banyak program yang telah dilaksanakan, diantaranya berbagai seminar pengembangan kewirausahaan, seminar leadership, aksi sosial, penumbuhkembangan minat dan bakat, turun desa, outbound, program bersih kampus, dan lain-lain.

Kesempatan ini jelas tidak semua orang bisa merasakannya, apalagi mendapatkannya secara gratis. Memang, aku dan lebih dari 2500 mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi IPB patut bersyukur akan hal ini. Aku percaya apa yang aku dapatkan saat ini adalah jawaban atas doa-doa yang selama ini aku panjatkan dalam setiap jerit tangis di sepertiga malamku. 

Bidikmisi jelas tidak hanya ada di IPB. Universitas lainpun ada program Bidikmisi. Perbedaannya mungkin terletak pada tata kelola. Dimana IPB begitu aktif dalam mengemban amanah dari pemerintah. Aku percaya kampus lain-pun sedang berjuang untuk membuat sebuah terobosan-terobosan baru untuk mengembangkan mahasiswanya melalui program serupa. Semoga sebuah torehanku ini akan menginspirasi teman-teman Bidikmisi dimanapun berada, dari kampus manapun kalian berasal, dan dengan latarbelakang apapun untuk selalu berjuang, bertahan, dan berkarya. 

Jalan itu selalu ada bagi siapapun yang benar-benar mencarinya. Bidikmisi ada sebagai salah satu jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan di Indonesia yang masih sangat tinggi, mari gapai asa dan mengukir prestasi bersama Bidikmisi.



Minggu, 04 November 2012

CORETAN PENA untuk IBU MEGAWATI SIMANJUNTAK

Memang sulit dimengerti
Terlalu ambigu
Banyak hal yang tidak bisa di ungkapkan

Tapi disini, di tempat yang jauh dari keluargaku
Tuhan mempertemukanku dengan sosok Ibu

Ibu yang aku rindukan dirumah
Ibu yang memberi ceria
Ibu yang memberi kasih dan cinta

Dalam kesendirian aku bersyukur
Bertemu denganmu Bu, bertemu dengan sosok yang tidak pernah aku tahu sebelumnya

Dan tuhan
Tuhan benar-benar telah mengobarkan semangatku ketika di dekatnya
Ada sesuatu yang harus aku buktikan kepadanya
Sesuatu yang akan menjadi kebahagian bagi dirinya.

Terimakasih bu Mega
Terimakasih atas segala kehangatan yang telah engkau berikan kepadaku, kepada kami anak-anak yang telah engkau anggap sebagai anakmu sendiri....

Terimakasih banyak dan
Selamat ulang tahun
Semoga Allah selalu menyayangi dan melindungi dalam setiap langah perjalananmu..
I Love You mom.





.