Jumat, 17 Agustus 2012

Tetesan Air Mata Doa di Asrama


Kawan dengarlah ceritaku..

Cerita tentang perjuangan hidup di asrama TPB IPB.

Semua bermula dari keinginan kuat untuk bisa masuk di salah satu PTN terbaik, dan tentunya kampus Pertanian telah menjadi pilihan pertama bagiku.

Ya setelah pengumuman SNMPTN Undangan pada tanggal 26 Mei 2012 tiada banyak kata yang mampu ku ungkap. Hanya rasa syukur dan doa yang ku panjatkan pada sang Maha Pemberi Rejeki. Salah satu jalan menuju mimpiku telah Dia buka. 

Dan 12 Juni 2012 menjadi tonggak sejarah bagi diriku, inilah kali pertama aku menginjakan kaki di kampus IPB sebagai calon Mahasiswa Baru (belum mendapat KTM J). Betapa bangganya aku waktu pertama kali melihat gerbang utama IPB. Begitu banyak tulisan-tulisan berupa sambutan bagi kurang lebih dua ribu enam ratusan mahasiswa baru dari seluruh penjuru Nusantara. Dan salah satu yang masih terekam jelas dan masih memberikan kesan pada diriku adalah sebuh baligo tinggi besar berwarna putih dengan logo IPB di sebelah pojok kiri atas baligo, dicetak tebal mungkin tipe tulisannya Times New Roman. Hehe, seperti ini “ SELAMAT DATANG MUTIARA NUSANTARA”. Ya memang kami di ibaratkan sebagi mutiara terbaik nusantara yang telah berhasil tersaring dari kurang lebih lima belas ribu pendaftar SNMPTN Undangan IPB dan kamilah orang-orang beruntung bisa masuk diantara dua ribu enam ratusan mahasiswa baru yang di terima melalui SNMPTN Undangan. 

*****

Bogor, 27 Juni 2012. Hari yang cukup lama aku tunggu. Kurang lebih empat hari aku tinggal di Bogor untuk registrasi mahasiswa baru, dan setelah itu aku kembali lagi ke kampung halamanku, istana paling nyaman yang aku cinta. Tiga belas hari setelah registrasi calon mahasiswa baru aku memang tinggal di kampung halamanku dan tanggal 26 Juni 2012, tepatnya pukul 21.00, aku berangkat lagi menuju Bogor, dan kali ini ada yang berbeda, keberangkatanku kini ditemani ibunda ku tersayang. Ya ibundaku memang saat itu begitu ingin mengantarku untuk kali pertama tinggal di Asrama TPB IPB. Aku tahu mungkin ada rasa yang mengganjal pada diri ibuku, ibuku merasa tidak enak hati ketika saat registrasi tidak bisa menemaniku, sehingga aku berangkat ke Bogor tanpa sanak saudara bahkan wali pun tidak aku bawa. Bukan karena ibuku yang tidak mau mengantar anaknya ini, melainkan aku sendiri yang melarangnya untuk ikut. Dan bukan tanpa alasan pula aku tidak mengijinkan ibuku mengantarkan aku ke Bogor, ada beberapa alasan yang menguatkan diriku agar ibu tidak usah mengantarkan aku untuk registrasi selama tiga hari di Bogor. Pertama aku tidak tahu di Bogor mau tinggal dimana, dan jikalau ibuku ikut akan sangat tersiksa sekali, beliau harus tidur di masjid atau tempat-tempat umum lainnya, alasan yang kedua, aku hanya sementara saja tinggal di Bogor dan nanti juga bakalan balik lagi pikirku. Alasan yang ketiga, ya semisalkan ibuku ikut mengantarku, ongkos yang kami keluarkan berarti berlipat ganda, sedangkan aku harus pandai-pandai mengatur uangku, agar kelak ketika di Bogor aku tidak perlu khawatir akan kekurangan bekal. 

Hari itu jiwaku berkecambuk, pikiranku selalu menyiratkan agar aku harus berangkat ke Bogor sendiri lagi,tidak mungkin ibuku hanya mengantarku dan setelah itu beliau harus  balik lagi ke kampung sendirian?  Ah ibuku tidak perlu ikut. Hatiku bertolak belakang dengan pikiranku, entahlah aku tidak tega melihat ibuku yang telah menginjak kepala lima itu ingin sekali untuk bisa mengantarkan anak bungsunya ini ke Bogor.  Aku tahu beliau telah menyisihkan uang hasil usahanya berdagang untuk bisa membekali serta bisa ikut mengantarkan aku ke asrama. Tapi apa aku sebegitu teganya. Akhirnya kujelaskan pada ibuku tentang resiko yang harus beliau terima kalau memaksakan diri untuk mengantarku. 

“Nak, masa ibu tega melihat kamu pergi sendiri lagi ke Bogor, seolah-olah kamu ini tidak ada yang mengurus. Biarlah ibu nanti langsung pulang setelah melihat kamu sampai dengan selamat disana. Kemarin kamu pergi sendiri dan ibu relakan tidak ikut karena inginmu seperti itu, InsyaAllah ibu ada kok uang buat ongkos dan juga untuk membekali-mu jangan memikirkan itu.” Seolah ibuku tahu apa yang aku maksud..

*****

Pagi hari kurang lebih pukul 04.00 kami sampai di Terminal Kampung Rambutan Jakarta dan sejenak kami merehatkan badan kami yang kedinginan di depan sebuah mushola kecil sembari meminum secangkir teh manis panas. 

Adzan shubuh berkumandang, aku bergantian dengan ibundaku menjalankan solat shubuh, ya ketika aku solat, ibu yang menjaga barang bawaanku, dan ketika ibu yang sedang solat aku yang menjaga barang bawaannya.

Matahari mulai menampakan bias warna kuning di antara biru gelapnya langit pagi itu, aku meminta ijin pada ibuku untuk mencuci muka dan menggosok gigi agar terlihat nampak segar ketika sampai di Bogor. 

Tak lama memang, aku kemudian berjalan kembali mendekat menuju tempat ibuku beristirahat, di bantalan trotoar beliau duduk, aku baru sadar, betapa terlihat lelahnya beliau, aku kembali merasa khawatir dan tidak enak hati, aku takut ibuku akan sakit, karena ku tahu beliau memang mudah sekali sakit ketika tubuhnya merasa kelelahan.

*****

Tak lama aku hubungi kakak pertamaku yang tinggal di Jakarta untuk menjemput kami berdua. Kakak pertama ku memang bekerja  di Jakarta. 

Kurang lebih satu jam-an mungkin kami menunggu, akhirnya sebuh mobil bak terbuka berwarna biru tua medekati kami, entahlah mobil yang telah terkikis warnanya dan sudah seperti mobil yang benar-benar tidak terurus, itulah yang akan mengantarkan kami sampai di Bogor, itu memang mobil pengangkut besi di tempat kakakku bekerja. Usianya mungkin sudah bertahun-tahun. Hehe (mungkin saja). Pikirku yang penting sampai saja ke tempat tujuan dengan selamat dan tepat waktu.

Entah berapa lama kami berbincang-bincang selama perjalanan menuju ke asrama, ada banyak pesan yang aku terima dari kakak dan ibuku, dan pesan itulah yang menemaniku sampai sekarang ini di asrama. 

*****

Pukul 07.00 kami sampailah di kota Bogor, memasuki daerah dramaga kakakku memakirkan mobil nya di dekat sebuah warung makan, dan kami beristirahat sejenak disana, kakak-ku mungkin tahu kami kelaparan, karena belum sempat makan dari awal kami berangkat dari kampung.

Kami tidak bisa berlama-lama beristirahat disana, kami harus bergegas lagi, bukan karena aku diburu waktu untuk registrasi asrama, melainkan kakak-ku-lah yang tida bisa berlama-lama, dan harus kembali bekerja sekitar pukul 10.00 WIB.

*****

Lagi-lagi gambaran kenangan indah, terbesit kembali ketika aku berada di depan pintu gerbang utama IPB, tapi kini dengan perasaan yang berbeda, jika kemarin aku hanya bisa merasakan kebanggaan ini sendiri, tapi kini aku bisa merasakan dan melihat betapa ibu dan kakak-ku bangga aku bisa menjadi salah-satu mahasiswa di PTN terbaik negeri ini. 

Ya, anak terakhir yang harus di biayai oleh-nya ini kini telah sampai pada batas minimum pendidikan yang di amanahkan Almarhum Ayahanda tercinta, Bapa Yoyo Mulyana. Ayah dan ibuku memang bukan seseorang dengan latar belakang sebagai orang mampu dan berpendidikan, Ayah dan Ibuku hanyalah lulusan Sekolah Dasar, itupun mereka masih bisa bersyukur bisa merasakan bangku Sekolah Dasar di tengah keadaan keluarga yang tergolong sangat tidak mampu saat itu (cerita ayah).

*****

Putaran roda kehidupan benar-benar kami rasakan, dari tidak mampu, menjadi mampu, dan dari mampu kembali menjadi biasa-biasa saja, ya itulah keluarga kami, kehidupan kami. Sebuah perjuangan keluarga  yang luar biasa, dan sampai saat ini aku masih menjadikan (alm) Ayah sebagai sosok tokoh idola bagi diriku setelah Nabi besar Muhammad SAW. Bagiamana tidak, dikala kecil beliau cukup pintar, sayang faktor ekonomi menghentikan langkahnya untuk bisa mengenyam pendidikan yang lebih layak, dan lulusan Sekolah Dasarpun menjadi berkah bagi beliau, sehabis itu dikala seharusnya beliau duduk di bangku SMP beliau telah membantu keluarganya dengan menjadi seorang penjual oncom. Setauku beliau juga pernah bekerja sebagai kuli, pernah menjadi gelandangan di Jakarta ketika untuk pertama kali merantau ke Jakarta, hingga akhirnya bisa menjadi tauladan bagi warga desa, dan masih banyak hal tak tertuga, dan tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh ku, aku sendiri mungkin belum tentu mampu seperti beliau, tapi aku bertekad, apapun yang terjadi padaku, apapun yang terjadi pada putaran roda kehidupan keluargaku, aku akan mampu bertahan dan mampu melangkah maju, menelusuri jejak langkah yang pernah ayahanda terkasih lalui. Masalah itu boleh besar, tapi yakinlah Allah SWT jauh lebih besar dari masalah yang kita hadapi. So, dekatkanlah diri pada Allah sang maha Pencipta. 

*****

Satu bulan lebih kini aku telah tinggal di Asrama TPB IPB bersama ratusan mahasiswa jalur SNMPTN Undangan lainnya, dan kini asrama telah penuh dengan datangnya mahasiswa baru dari jalur SNMPTN Tertulis, UTM, BUD, dan PIN. 

Sungguh inilah realita kehidupan yang sebenarnya, aku tak lagi bisa bermanja-manja, disini aku harus berjuang bersama kawan-kawan lainnya untuk bisa bertahan hidup dan tetap berprestasi demi membanggakan keluarga dan demi meraih masa depan serta cita-cita yang telah kami semua impi-impikan.

Oh ya, aku ingin bercerita tentang bagaimana aku begitu sering meneteskan air mata disini. Lah kok? Lebay banget si lu cowo kan? Haha, coba bacalah dulu ceritaku sampai selesei, baru kamu akan tahu mengapa aku sampe meneteskan air mata.

Beginilah ceritanya...

*****

Sebelumnya, sebelum ada anak-anak baru dari jalur SNMPTN tulis, UTM, BUD dan PIN. Asrama hanya di huni oleh mahasiswa SNMPTN jalur Undangan. Ya, kita memang harus masuk lebih awal, dari yang lainnya, termasuk daripada universitas negeri lainnya pula. Kita harus mengikuti yang namanya Matrikulasi, ah sebenernya sih lebih mirip Semester Pendek (SP), atau juga sering disebut kuliah Matrikulasi Alih Tahun, ah entahlah apapun istilahnya, yang jelas kita belajar selama dua bulan kurang lebih , banyaklah, haha. . Kita hanya mempelajari satu bidang pelajaran saja sih, tergantung  departement kita, ada yang dapat Landasan Matematika, Fisika, Fisika Dasar, dan Fisika Umum. Bukan ini yang akan aku ceritakan.

Rata-rata mahasiswa IPB yang di terima melalui berbagai jalur adalah mahasiswa terpilih dan terseleksi,terutama mereka yang masuk melalui SNMPTN Undangan aku tidak pungkiri mereka semua berprestasi, walau ada juga mungkin yang karena rejekinya di IPB bisa diterima juga, termasuk aku mungkin. Kebanyakan mahasiswa undangan berlatar belakang keluarga yang biasa-biasa saja,walaupun tak sedikit pula mereka yang berlatar belakang ekonomi di atas rata-rata,namun mereka begitu luar biasa berprestasi. 

Pernahkan kita membayangkan ada anak yang kuliah tanpa seijin orang tua, atau orang tuanya melarangnya untuk kuliah karena belum ada biaya, atau anak yang sudah tidak memiliki siapa-siapa tapi bertekad untuk tetap kuliah, atau anak yang dengan keterbastan ekonomi luar biasa tetap memberanikan diri untuk berkuliah? Pernahkah? Jawabanku, AKU MELIHAT LANGSUNG anak-anak luar biasa seperti apa yang  aku pertanyakan di atas. Ya, mereka semua ada di IPB, orang-orang hebat yang tetap berusaha untuk bisa meraih asa dan menggapai cita mereka.

Coba bayangkan mereka yang berbekal prestasi dan katakanlah hanya berbekal uang yang pas-pas an berangkat dari seluruh penjuru negeri menuju kampus rakyat nan madani untuk bisa mematahkan batasan, anggapan atas cacian orang-orang bahwa kuliah hanya untuk orang-orang kaya. Kini mereka semua telah membuktikannya, mereka masih bisa kuliah walau dengan keadaan ekonomi yang biasa-biasa saja.

Mereka tak pernah merasa kecil, karena kami semua sama, tak ada yang berbeda. Alhamdulillah IPB begitu luar biasa memberikan banyak pilihan beasiswa, dan dari seleksi tahap registrasi sampai masuk asrama, dan dari seribu tiga ratusan mahasiswa baru yang mengikuti seleksi wawancara dll, IPB telah memberikan bantuan pendidikan Beasiswa Bidik Misi bagi kurang lebih 1000 mahasiswa baru jalur Undangan.Setidaknya ini meringankan beban mereka untuk bisa bertahan di kampus rakyat ini.
Tahukah kawan, beberapa hari kami tinggal di asrama, kami telah benar-benar merasakan arti sebuah keluarga baru. Ketika sakit ada yang menemani, ketika uang sudah tak ada sepeserpun di tangan, ada yang meminjami, ketika ada masalah, yang lain memberi solusi, ketika ketinggalan pelajaran, ada banyak yang mengajari, ketika rindu keluarga di kampung ada musik yang senantiasa berkumandang di setiap gedung,musik yang akan membakar semangat kawan-kawan untuk terus bertahan dan berjuang.

Kawan ada banyak cerita yang kami bagi di asrama. Tahukah bagaimana perjuangan mereka untuk bisa sampai ke Kota Bogor ini, ada yang pernah menjadi kuli, ada yang menjadi penjual barang-barang, ada yang meminjam uang ke temannya, ada yang di beri bekal oleh tetangganya, ada yang hampir tak jadi untuk melakukan registrasi, ada yang harus beradu mulut dengan orang tua mereka, ada yang berangkat dengan cacian tetangga, dan ada juga yang berangkat dengan doa penuh dari orang-orang terkasih. Subhanalloh bukan? Lantas masihkah kawan-kawan bisa tertawa lepas, bermalas-malasan sedang keadaan kawan-kawan yang jauh lebih baik dari apa yang mereka rasakan. Bersyukurlah pada sang pencipta akan apa yang dikaruniakan-Nya kepada kawan-kawan semua.
Acap kali ketika melihat semangat mereka, ketika mendengar cerita mereka, dan ketika merenungkan doa-doa mereka disaat itulah aku tak mampu membendung air mata ini, rasanya bukan hanya aku, tapi kami semuapun pernah meneteskan air mata selama di asrama. 

Sampai saat ini aku masih belum begitu percaya, bahwa aku sekarang berada di sebuah kampus ternama, berkawan dengan orang-orang dari seluruh penjuru nusantara, orang-orang hebat, orang-orang dengan mimpi yang luar biasa, orang-orang yang tetap mensyukuri nikmat Tuhannya, orang-orang yang ingin membuktikan kepada bangsa dan dunia, bahwa hidup ini adalah perjuangan, bukan sekedar ratapan. Aku Bangga bersama Institut Pertanian Bogor.

Terimakasih Allah SWT atas kenikmatan dan rejeki yang telah Engkau berikan kepadaku, terimakasih Ibu yang telah berjuang dan berdoa untukku hingga aku bisa diterima di kampus yang aku damba-dambakan, terimakasih kakak-kakak ku tercinta yang telah bekerja keras untuk bisa membiayai ku dari semenjak Ayahanda di panggil oleh sang maha kuasa, terimakasih banyak kak, terimakasih telah memenuhi keinginanku untuk bisa bersekolah minimal sampai tingkat Strata 1, terimakasih atas kesabarannya memberikanku uang bulanan, Insyaallah adek tetap mensyukuri walau terkadang tak tercukupi. Terimakasih guru-guru SMAN 2 Ciamis yang telah mendidik-ku, dan memberikan banyak pengalaman serta kesempatan yang tak akan terlupa. Terimakasih sahabat, kakak, dan adik kelas yang senantiasa selalu menyayangi, menemani, membantu dan mendoakanku. Terimakasih teruntuk guru konseling ku di SMA, special untuk Bu Ikon Kurniasih yang telah memberikan rekomendasi seleksi beasiswa kepadaku, dan terimakasih DIKTI atas bantuan beasiswanya. Semoga suatu hari nanti aku bisa mengabdi dan berguna bagi nusa dan bangsa. Amin. 

Special untuk Ayahanda tercinta, “Ayah dengarlah cerita dan doa anak-mu ini, Ayah kini anak bungsu mu telah sampai pada tingkat pendidikan yang engkau harapkan, kini adek sedang belajar di salah satu kampus ternama, kampus rakyat yah, kampus yang peduli akan generasi penerus bangsa, kampus yang telah adek pilih sebagai pijakan adek menggapai cita-cita, kampus yang insyaallah luar biasa hebat. Ayah kabar baik lainnya, kini salah satu mimpi adek ketika SMA telah tercapai yah, adek kini disini kuliah mendapatkan beasiswa, alhamdulillah keinginan adek meringankan beban pikiran ibu dan kakak-kakak sedikit tercapai. Jika engkau mendengar suara anakmu, ayah cukup dengarlah dan semoga Allah mengijabah doa adek, mudahkanlah segala urusanku, dan ijinkan aku memberikan yang terbaik bagi setiap orang yang telah berjasa dalam hidupku, dan semoga aku menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, serta dapat meraih cita-cita, Ayah mungkin engkau sudah tahu, kemampuan akademikku tidaklah seberapa, tapi adek disini begitu senang,karena adek berkawan dengan banyak orang-orang pandai nan jenius sehingga adek semakin sering dan semakin semangat belajar, semoga engkau bahagia, semoga Allah mempertemukan kita di dalam Syurga-Nya suatu hari nanti. Amin.


J SEMANGAT J

Bogor, Juli-Agustus 2012
Di Galau Room, Gedung C1 lorong 06.


Tak perlu mengejar gengsi


13 Juni 2012 telah menjadi salah satu moment berharga dalam sejarah perjalanan hidupku. Disinilah untuk pertama kalinya aku mengikuti kuliah umum sebagai mahasiswa baru Institut Pertanian Bogor angkatan 49. Dan untuk pertama kalinya pula aku bisa melihat secara langsung sosok-sosok inspiratif. Orang-orang hebat yang telah mampu menginspirasi diriku untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari mereka (Amin).

Dalam kuliah umum itu aku masih ingat ketika bapak wakil Menteri Perdagangan  Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi yang merupakan lulusan Institut Pertanian Bogor dengan bangga menceritkan pengalaman inspiratif perjalanan hidupnya ketika hendak menjadi mahasiswa IPB, ketika menjadi mahasiswa IPB, dan setelah menjadi alumnus IPB. Bagiku beliau adalah salah satu orang yang hebat, seseorang yang mampu mewujudkan mimipinya menjadi sebuah kenyataan bukan sekedar angan-angan.

Pada kesempatan itu bapak Dr.Ir Bayu Krisnamukthi memaparkan kepada kami tentang keharusan kita untuk berani bermimpi, karena dengan mimpilah kita bisa mewujudkan atau menciptkan banyak hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Garis besarnya kuliah umum pada pagi hari itu memaparkan bagaimana potensi pertanian di Indonesia, namun dengan semangat menggelora bapak Bayu memotivasi kami untuk menjadi orang hebat dengan mengawalinya dengan bermimpi.

Di akhir kuliah bapak Dr.Ir Bayu Krisnamurthi memberikan kami kesempatan untuk menuliskan mimpi kita untuk Indonesia yang lebih baik? Apa mimpimu untuk pertanian Indonesia yang lebih baik, dan bagaimana cara kita mewujudkannya?. Dan untuk karya terbaik mahasiswa terbaik akan mendapatkan kesempatan untuk bisa berjamu atau bertatap muka langsung dengan orang nomor satu di negeri ini bapak Dr. Ir. H. Susilo Bambang Yudhoyono, presiden Republik Indonesia. Ya seorang PRESIDEN.

Pikiranku saat itu langsung berontak seketika, berimajinasi membayangkan jikalau aku bertemu langsung dengan orang hebat ini. Ada banyak hal yang ingin aku tahu, ada banyak hal yang ingin aku pelajari, dan ada hal-hal dimana aku juga begitu ingin berjabat tangan dan berfoto bersama beliau (Amin).

Sebelum aku bertemu dan mendengar bapak Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi memaparkan tentang keharusan kita untuk bermimpi, aku sendiri sudah memiliki begitu banyak mimipi . Semoga mimpi yang aku ceritakan ini suatu hari bisa terealisasikan (Amin)

Dan inilah mimpiku untuk Indonesia yang lebih baik.

******

Mahasiswa baru. Ya itulah title yang ada pada diriku sekarang. Saat ini aku memang masih berstatus mahasiswa baru di Institut Pertanian Bogor (IPB). Kampus ternama di negeri ini. Dalam hati, aku memang sangat bangga ketika orang-orang bertanya kepadaku. “Udah selesai sekolahnya? Di terusin dimana?”. “Bogor, di Institut Pertanian Bogor, IPB.”Dengan senyum sumringah aku menjawab setiap kali orang-orang menanyakan hal yang sama. “Jurusan apa?”. Inilah pertanyaan yang selalu membuat diriku harus bergelut menahan emosi ketika menjawabnya. “IPTP, Fakultas Peternakan.”, “Peternakan?, ah kau, nanti kau main-main sama kotoran, kau korek-korek tuh pantat sapi, buat apa kuliah jauh-jauh, kalau mau belajar beternak, tuh belajar sama pak Som aja?, atau nantinya kau mau jadi kawannya pak Som ya?”. Begitu puas mereka tersenyum menahan tawa, dan dengan cara yang halus mereka mengolok-ngolok seorang perangkat desa yang bekerja sampingan sebagai peternak sapi. Ini yang terkadang membuat diriku harus bergelut menahan amarah.

Perlahan aku menarik nafas dan tersenyum pada mereka sembari berkata, “ Ya, aku memang akan melakukan hal itu, mungkin akan terasa menjijikan pekerjaan seperti itu bagi mereka yang tak terbiasa, atau lebih jelasnya bagi mereka yang tidak pernah menginginkan untuk melakukan hal itu. Bukankah suatu pekerjaan yang dilakukan dengan senang hati akan dengan mudah untuk kita jalani, bukankah kuliah itu tujuannya adalah mencari ilmu untuk kita terapkan. Dan bukankah kuliah itu untuk mengejar cita-cita ya?, lah inilah cita-citaku?, lalu haruskah aku kuliah di jurusan teknik elektro, padahal aku sama sekali tidak menyukainya?. Buat apa mengejar gengsi kalau aku tidak bisa menggapai cita-citaku”. Sejenak tak ada lagi senyum kepuasan dari mereka. Dan kini aku bisa tersenyum lepas setelah mengeluarkan semua emosiku dengan cara yang lebih rasional bagiku.

******

Semenjak kecil aku memang begitu senang memelihara binatang ternak. Dan ketika SMP aku sering menernakan kelinci, walau akhirnya berujung di meja makan dikala tidak ada lagi lauk yang bisa di makan. Kuliah di Fakultas Peternakan  telah menjadi mimpiku semenjak duduk di bangku SMA kelas X.

Menginjak kelas XI, aku mulai kebingungan untuk memilih jurusan IPA atau IPS. Dari hasil Psikotest, aku memang berpotensi untuk masuk jurusan IPS dan Bahasa, sedangkan IPA ku berada pada posisi Sedang.

Entahalah apa yang aku pikirkan saat itu, aku menyadari kalau aku memang lebih menyukai pelajaran-pelajaran berbasis teori dan sejarah. Intinya aku senang dengan pelajaran berbahasa dan ilmu pengetahuan sosial. Sedangkan IPA aku tidak begitu menyukainya.

Usut punya usut aku memang sudah mencari informasi tentang Perguruan Tinggi yang memiliki program study  Peternakan. Saat itu yang aku dapatkan adalah informasi peternakan UNSUD, UNPAD, UGM dan IPB. Spesifiknya aku jauh lebih tertarik pada IPB, mungkin karena kakak-ku dulu pernah menempuh pendidikan disana dan aku pernah berkunjung ke dalam kampus IPB, begitu berkesan bagiku, begitu luar biasa bagiku, ya memory ketika aku masih duduk di Sekolah Dasar masih sangat aku ingat jelas gambaran hijau dan luasnya kampus IPB itu.

Aku mulai memberanikan diri untuk bertanya pada guru BK tentang kampus IPB, dan alangkah terkejutnya aku ketika mendengar bahwa IPB menerima mahasiswa baru jalur PMDK (saat ini mungkin namanya SNMPTN Undangan)hanya dari program IPA.

Dan semenjak itulah aku memutuskan untuk melawan arus agar bisa masuk program IPA. Ketika sudah masuk program IPA, permasalahan kembali menghampiri, Kimia, Matematika, Fisika, Biologi. Aku memang sama sekali kurang tertarik dengan pelajaran-pelajaran itu. Mau tak mau, aku harus mau bertemu dengan pelajaran itu hampir setiap hari. Memang sulit awalnya dan dengan tekad yang kuat aku yakin aku bisa mempelajari semua itu walau prosesnya agak lambat. Alhamdulillah satu tahun aku bertahan di program IPA aku masih masuk ranking 3 dan 4 di kelas.

*****

IPB menjadi pijakan awal bagiku untuk meraih cita-citaku, disini, di kampus ini aku harus berjuang untuk bisa menggapai asa-ku. 

*****

“27 Juni 2012” Hari pertama mahasiswa baru dari daerah luar JABODETABEK harus tinggal di Asrama TPB IPB. 

Ya sebuah asrama yang begitu mirip dengan inkubator pembentuk generasi-generasi hebat yang penuh dengan karya. Sebuah tempat yang akan menjadi tempat tinggal kami selama satu tahun pertama di IPB.

Asrama TPB IPB begitu luar biasa,ribuan mahasiswa baru Mutiara Nusantara dari seluruh penjuru negeri bersiap untuk mengejar cita-cita mereka disini. 

Disini aku mengenal begitu banyak karakter orang dari berbagai daerah, disini aku begitu tahu bahwa cita-citaku bukanlah imajinasi semata, melainkan akan menjadi sebuah realitas yang nyata. 

Di asrama TPB IPB aku menjadi lebih tahu potensi-potensi daerah-daerah yang sekiranya memiliki nilai lebih untuk merealisasikan mimpiku. 

Asrama TPB IPB adalah inkubator terbaik pembentuk insan-insan yang siap untuk menyongsong dunia luar. 

Mimpiku menjadi seorang peternak  besar, pengendali harga daging se-asia bahkan lebih kini akan kuperjuangkan di kampus hijau ini, kampus rakyat yang mampu membuat ibuku menangis bangga ketika anak kebanggaanya bisa diterima di PTN yang aku cita-citakan.

Sebuah PTN yang akan selalu berpihak pada pertanian Indonesia, dan kepada para petani kecil Indonesia. Sebuah PTN yang akan selalu menghasilkan lulusan berkarakter dan berjiwa eunterpreunership dan sebuah PTN yang akan selalu berpihak pada kesejahteraan para petani-petani dengan sebuah pembaharuan-pembaharuan yang jauh akan lebih mensejahterakan para petani Indonesa. Lalu kenapa tidak, kita berani untuk meneriakan bahwa “Aku Bangga Menjadi Petani, dan Aku KIKI RIZQI JANUAR dari Institut Pertanian Bogor, Fakultas Peternakan, Departement Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan siap menggapai cita dan siap menjadi eunterpreuner hebat yang akan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik, bagi para petani-petani Indonesia. Sudah saatnya YANG MUDA YANG BERTANI”.

Inilah caraku untuk mewujudkan semua mimpi-mimpiku menjadi wirausahawan muda dengan semangat yang tak akan pernah padam dalam jiwa, belajar dengan sungguh-sungguh, berfikiran kritis untuk selalu mencari peluang-peluang yang ada, membuka mata untuk selalu melihat potensi-potensi yang begitu banyak terhampar di depan mata, menggerakan seluruh anggota badan untuk terus bergerak dan bergerak mewujudkan setiap mimpi bukan hanya berdiam diri, dan membuka hati untuk selalu berempati akan masyarakat yang tak kunjung mampu sejahtera, ya sebuah negeri nan kaya akan pertanian, tapi belum mampu memberi kesejahteraan bagi para petaninya, sebuah negeri yang begitu subur, tapi belum mampu menyuburkan anak-anak bangsanya dari kemiskinan, sebuah negeri yang di mimpikan oleh orang-orang luar, tapi di dalam negerinya sendiri masih sedikit yang berani bermimpi. Negeri ini begitu kaya, tapi mengapa masyarakatnya begitu sengsara??. Malu, adakah rasa malu pada diri bangsa ini??  

Terlalu indah dunia ini untuk kita hanya sekedar menggantungkan mimpi, mari kawan bergeraklah, nikmatilah dunia ini, lihatlah potensimu, dan jangan takut untuk menjadi dirimu sendiri, dan akupun tidak takut dan tidak malu untuk menjadi seorang petani muda penggerak perubahan, aku KIKI RIZQI JANUAR dari Institut Pertanian Bogor, Fakultas Peternakan, Departement Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) siap menjadi generasi muda penerus cita-cita banggsa.

17 Agustus 2012

Duduk Manis Adik Kecil

Jendela peradaban.
Duduk dengan pakaian yang tak lagi terlihat bersih, katakanlah begitu.
Diteras jalan keluar menuju tempat keramaian.
Disorot cahaya matahari.
Hitam namun kau begitu manis dik.
Sandal capit menjadi pijakan berharga di antara teras panas itu.
Ingin,ingin aku membantumu.
Sungguh aku malu, malu akan ketidak bersyukuranku akan nikmat yang tak pernah kau rasakan dik.
Dimana ayah dan ibumu?
Ikhlas kah kau menjalani semua ini?
Aku mau esok atau lusa kau tak lagi berada disana.
Aku mau kau pergi dengan pakaian rapi membawa tas di pundakmu.
Aku mau kau menuntut ilmu dengan perasaan bahagia.
Aku mendoakanmu dik.
Maafkan diriku yang tak bisa membantumu lebih.
Maafkan aku yang hanya bisa memandangmu dengan kasihan.

Inilah jendela peradaban.
Peradaban yang tak berpihak pada mereka yang terkecilkan.
Peradaban yang dipenuhi keserakahan.
Peradaban yang tak seharusnya memperlihatkan ironi akan kekejaman hidup yang harus di hadapi adik kecil ini.
Mari buka mata, buka hati untuk merasa iba pada mereka yang menderita dan bersyukurlah atas nikmat yang telah Dia limpahkan.

Bogor, Juni 2012

Asrama..

Masih bingung mau bawa apa ? mungkkin sedikit info dibawah ini bisa membantu :)

  1. Berkas-berkas yang diperlukan. Jangan sampai tertinggal apalagi hilang, karena nanti bakalan dicek satu persatu.
  2. Kemeja Lengan Panjang (direkomendasikan berwarna putih, sebab bakal dipakai lagi nanti waktu MPKMB), ditambah celana bahan hitam untuk pria dan rok bahan hitam untuk wanita. sewaktu registrasi ulang, pakaian yang sopan, pakai ikat pinggang hitam dan sepatu hitam.
  3. Bawa kemeja dan atau baju berkerah untuk kuliah sehari hari.
  4. Alat shalat, kitab suci, dan perlengkapan ibadah lainnya.
  5. Kaos oblong dan celana santai untuk diasrama.
  6. Tas Punggung, untuk MPKMB.
  7. Laptop, tugas kuliah biasanya sangatlah membutuhkakn barang yang satu ini.
  8. Alat komunikasi.
  9. Gunting kuku dan Korek kuping
  10. Jaket . udara bogor dimalam hari lumayan dingin untuk yang tidak terbiasa
  11. Sprei, asrama tidak mennyediakan.
  12. Celana Training, untuk mata kuliah olah raga.
  13. Piring, gelas, sendok, garpu, buat makan. kalau beli makan diluar, terus mau makannya diasrama jadi gampang.
  14. Peralatan mandi, dan handuk jangan lupa,
  15. colokan listrik, kalau bisa yang lubang 8. hahaa, jadi kalau mau ngecharge ga rebutan. karena disetiap kamar cuma ada 2 lubang.
  16. gantungan baju,
  17. buku pelajaran SMA. fisika, kimia, matematika, biologi. kalau perlu beserta catatan dan buku penunjang lainnya
  18. buku tulis (bisa berupa binder A5) bolpoin, tipex, pensil, penghapus, penggaris, jangka, lem, douletip, stepless, gunting, stabilo, kalkulator,scientific. pokoknya, alat tulis.
  19. uang receh sangat dianjurkan, (20 ribu, 10 ribu, 5 ribu, seribuan) jangan bawa yang terlalu besar, susah cari kembaliannya
  20. gantungan kunci yang bisa dipake buat kalungan. buat apa ? nanti pas dapet kunci asrama langsung kamu lepas gantungan dari asramanya, dan simpan baik-baik. nanti ganti dengan gantungan yang kamu bawa.karena kalau sampau hilang, kamu harus ganti 200 ribu.
  21. bawa obat nyamuk, raket nyamuk, lotion, apalah itu namanya yang buat mengusir nyamuk. konon katanya diasrama nyamuknya berlimpah.
  22. senter. kadang diasrama suka mati lampu, 
  23. yang matanya sudah kurang jelas, lebih baik pakai kacamata yang terbaru. soalnya, dalam satu kelas bisa sampai 100 orang, bayangkan kalau kamu duduk dipaling belakang !
  24. Sisir, kaca, buat bersolek bagi yang hobi dandan.
  25. sepatu diusahakan bawa 2, kaos kaki putih 2 dan hitam cukup 1.
  26. payung ! bogor itu kota hujan.
  27. dasi, biasanya ada beberapa dosen yang mewajibkan mahasiswanya memakai dasi.
  28. ATM. biasanya ATM dari IPB sendiri lama keluar, jadi lebh baik bawa sendiri untuk mempermudah kalau mau kirim uang.
  29. Sandal jepit.
  30. Jangan lupa bawa foto 3x4 berwarna minimal 10 lembar, 2x3 minimal 3 lembar, 4x6 minimal 4 lembar. intinya, bawa aja soft copy foto ijasah kamu :)
  31. Kaset Film yang bagus, cocok untuk nonton bareng, mengusir bosan dan lelah sepulang kuliah
  32. materai 6000, entah berapa jumlahnya
  33. Obat-obatan pribadi
  34. modem dibawa aja, siapa tahu dibutuhkan nantinya. wifi kadang lelet banget.
  35. kallkulator bahasa inggris (alfa link) 
  36. kamus dan buku penunjang lainnya harus dibawa
  37. bantal, guling dan alat pribadi wajib dibawa
  38. Bagi wanita, kerudung harus bawa, buat pelajaran agama sih yang pasti
  39. JANGAN membawa benda  benda aneh seperti DVD XXX, Majalah XXX, Kondom, rokok, dll. razia mendadak sering dilaksanakan tanpa diduga.
  40. asrama itu rawan sekali pencurian. jangan menaruh apapun sembarangan. kunci pintu kamar walaupun hendak ke toilet sekalipun.
  41. sewaktu baru masuk kamar, cek kamar nya dulu, kasur, kunci, lemari, lampu, kunci, lampu belajar, siapa tahu ada yang rusak. jadi bisa minta ganti langsung,biar ga kena deposit asrama.
  42. Rambur pendek dan rapi buat cowok, bahkan pas MPKMB sampai botak kaya tentara.
  43. usahakan ikut 1 organisasi biar ada kegiatan yang berguna
mungkin hanya itu yang lainnya bisa menyesuaikan, mungkin ada barang lain yang belum ditulis atau apa. oh iya, materi diatas diadaptasi dari http://www.arilanskapers.co.cc/2011/05/persiapan-mahasiswa-baru-ipb-versi.html terima kasih kak ari budianto :)